Mohon tunggu...
Mim Yudiarto
Mim Yudiarto Mohon Tunggu... buruh proletar

Aku hanyalah ludah dari lidah yang bersumpah tak akan berserah pada kalah....

Selanjutnya

Tutup

Humaniora Artikel Utama

Seberapa Berat Bobot Sebuah Judul bagi Karya Fiksi?

1 Juli 2019   18:26 Diperbarui: 2 Juli 2019   20:30 0 25 10 Mohon Tunggu...
Seberapa Berat Bobot Sebuah Judul bagi Karya Fiksi?
Sumber ilustrasi: pixabay.com

Pertanyaan ini lumrah ada dalam benak para penggiat dunia tulis menulis fiksi. Entah ditanyakan secara terbuka, kepada diri sendiri atau sekedar disimpan dalam hati sebagai bentuk rasa penasaran saja.

Saya mencoba mengupasnya berdasarkan rasa dan logika, bukan dengan cara statistika.

Jika saya seorang pembaca, pertama kali yang akan ditangkap oleh mata terhadap sebuah karya tentu adalah judulnya. Judul adalah pintu gerbang pertama seseorang mulai membaca sebuah karya. Ibarat memasuki rumah, judul adalah pintu depan sebelum masuk ruang tamu dan mengintip interior secara keseluruhan.

Sebuah judul bisa membawa pembaca pada cinta pertama. Tak peduli apakah selanjutnya jadian dengan membaca habis keseluruhan tulisan atau patah arang sampai paragraf pertama karena judul ternyata tidak melambangkan isi yang tidak sesuai ekspektasi.

Isi kepala orang berbeda-beda tentu saja. Tapi rasa dalam menerjemahkan estetika umumnya tak jauh berbeda. Sebuah judul yang menarik hati dan mampu menyedot perhatian untuk terus membaca ibarat terbitnya pelangi setelah hujan mulai mereda dan dibantu dengan pelukan cahaya matahari.

Pada saat melihat pelangi dengan penuh takjub dan kekaguman itulah yang saya sebut sebagai daya menerjemahkan estetika yang kurang lebih sama bagi nyaris sebagian besar orang.

Oleh karena itu terkadang sebagian penulis membuat judul belakangan. Sebagiannya lagi yang tidak, biasanya penulis yang punya keteraturan dalam menuliskan karya; membuat judul, kerangka, lantas bagian-bagiannya secara runut. Dalam hal ini judul menjadi kemudi ke arah mana esensi tulisan akan diarahkan.

Nah bagi yang berantakan seperti saya. Judul seringkali terjadi belakangan. Kenapa bisa? Itu karena tulisan dibiarkan mengikuti gaya gravitasi hati. Mengikuti kontur dari benak yang cenderung melantur. Tahu-tahu sampai di sana padahal maksudnya adalah ke sini. Alhasil, judul akhirnya disesuaikan belakangan supaya tidak menjauhi makna dari esensi.

Kembali pada seberapa berat bobot judul bagi tulisan secara keseluruhan, saya memberanikan diri menyebut 50%. Besar 30% untuk konten dan 20% sisanya adalah ending.

Bagaimana dengan tata bahasa, majas, dan segala pernik tulisan lainnya?

Sengaja tidak saya masukkan dalam pembobotan karena sudah semestinya linguistik, semantik dan semiotika serta lainnya adalah masalah selera. Ada yang menyukai bahasa lugas dan tegas, namun ada pula yang menyenangi membaca liukan-liukan kata yang tak ada habis-habisnya.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2