Mohon tunggu...
ichsan mikail
ichsan mikail Mohon Tunggu... Full Time Blogger - full time blogger

Pengarang novel Transition, novel Dimension of Dreams, dan kumpulan cerpen Province Memoir. Standby di toko buku fiksi : mikailearns.com

Selanjutnya

Tutup

Film Pilihan

An Easy Girl

25 Juni 2021   08:47 Diperbarui: 26 Juni 2021   13:22 84 2 0 Mohon Tunggu...
Lihat foto
An Easy Girl
subtitlestar.com/persian-subtitles-an-easy-girl-2019

French movie did it again. Dari judul, film ini berkesan low budget dan dibuat alakadarnya. Jangan salah, kalian harus menyaksikan seluruh durasi, walaupun tayangan senggama semi transparan (bukan kamuflase biasa) yang bisa mengaburkan penilaian penonton awam. Over expose kill the messenger.

Ini opini pribadi saja. Kehalusan alur cerita efektif. Scene demi scene tidak seolah melakukan framing (baca ulasan mengenai film a portrait of lady in the fire). Hasil perekaman hingga penyuntingan mengeksplorasi pemandangan umum interaksi alami orang-orang. Kamera ibarat wajah orang yang kebetulan ada di sekitar lokasi. An Easy Girl (AEG) sangat mengandalkan skenario presisi dan akurasi acting. Bikin film bagus tidak gampang.

Saya mendapat pesan tersirat bahwa kancah perfilman (entertainment) tingkat dunia sedang mensinyalir isu pembelahan si kaya dan si miskin (teori kelas). Sejak kemenangan film Parasite di perhelatan Oscar 2020, tampak wacana kesenjangan sosial tengah didorong. Aku tidak tahu apakah ini berkaitan dengan hegemoni perekonomian RRC Tiongkok ('Kiri-bermodal') ataukah agenda globalis, tema pertentangan kelas yang disajikan film An Easy Girl secerdas sang juara best picture tahun lalu dan tanpa pertumpahan darah. Maksudku film ini tetap 'brutal' dan bermakna kuat seperti Parasite tapi minim kekerasan.

Lantas, apakah Indonesia mengikuti tren pembelahan masyarakat di atas? Ya anda tidak perlu terlalu pintar untuk menyadari apa yang diusahakan rezim Jokowi dan partai koalisinya serta para buzzerRp. Kebijakan aparat negara yang fobia Islam radikal adalah upaya memecah WNI muslim. Misi pengkubuan oleh parpol kiri-tengah hendak membatasi hanya dua Capres yang berkompetisi dalam Pemilu (Presidential treshold). Di level Internasional, Indonesia tergabung dalam proyek Obor. Rantai infrastruktur mangkrak meningkatkan jumlah proletar di negara-negara jalur yang terlilit utang. Dari pertentangan dialektis, timbullah misalnya tren kudeta. Secara sederhana, petani dan buruh, mayoritas populasi, dimiskinkan dulu. Setelah itu suara mereka dikumpulkan guna mendatangkan juru selamat lokal dari partai wong cilik. Sangat gampang menyatukan orang-orang yang kekurangan uang. Tidak ada hal baru, barangkali skalanya saja bakal diperbesar : kemelaratan bumi menyongsong fasisme global. Tidakkah ini rancangan jenius?

Sebetulnya politik kiri telah lama mendapat toleransi. Ingat zaman Gusdur : sejarah kelam partai komunis pelan-pelan direhabilitasi. Dari pemerintahan ke lingkungan akademik hingga ke media perfilman ; dimulai dari film-film independen dalam negeri sementara angin perubahan telah berlangsung di seluruh dunia. Coba simak beberapa judul film bioskop asal Korea beberapa tahun terakhir dan tentu Hollywood menjadi barometer wacana perfilman global. Dampak terjelas dari kesuksesan gerakan sosialisme yang revolusioner ; di negara manapun pasti terjadi fasisme (ultra nasionalis). Pihak manakah yang dahulu membantu investasi besar-besaran di China hingga digdaya seperti sekarang?

Saya belum pernah membaca Das Kapital (waiting list). Gambaran umum yang saya peroleh dari Wikipedia, siaran dokumenter, pengamat politik, sejarahwan, novel dan cerita film : secara singkat gerakan komunisme adalah metode merebut kekuasaan, tidak persis sebuah sistem pemerintahan (baca : revolusi). Ketika kepemimpinan diraih, lahirlah seorang fasis dari partai tunggal atau diktator kakap sebagaimana raja di zaman purba yang terdiri atas banyak kerajaan. Oleh karena itu, cita-cita komunisme sebenarnya utopia. Adapun negara berpaham komunis yang berhasil mencapai kemakmuran, semata berkat leadership (one man show) diikuti manajemen yang baik (smart wives). Ini berlaku di semua jenis idiologi (termasuk Islam).

Kembali ke penceritaan AEG, setting cerita berlatar Cannes masa kini di waktu liburan sekolah. Sejak menit awal, cewek bernama Sophie (22) buka-bukaan 'sekwilda' di sepanjang film. Dia mengaku kepada adik sepupunya, Naima (SMU), sebagai seorang petualang. Jelas dia bukan orang desa karena telah pindah ke Paris kemudian kembali lagi. Kalau tidak salah, dia pernah menjalani bedah plastik.

Sophie bertemu seorang empu kapal pesiar pribadi, bernama Andre dan rekan bisnisnya, Philippe. Kencan Sophie bersama Andre mempertemukan mereka dengan orang-orang tajir, elit terpelajar, dan kolektor benda seni. Naima, putri seorang pekerja restoran, kadang turut hadir. Di berbagai kesempatan, Sophie senantiasa berpakaian seronok. Dia rentan kepanasan, tiba-tiba melepas busana memamerkan payudara dan nyebur di kolam terdekat. Bagi pergunjingan kalangan atas di lingkungan pertemanan Andre, Sophie agak liar meskipun masih dalam batas toleransi warga Perancis. Banyak scene mabar yang tidak utuh. Andre sering dibuat tertawa oleh tingkah Sophie. Di bagian akhir, kumpulan kepingan hubungan Andre dan Sophie mencapai antiklimaks. Sutradara mensintesa ending dari akumulasi momen-momen adegan antara 'sultan' dan rakyat biasa. Andre terbangun suatu hari dan mengukir garis batas, "Mereka bukan golongan kita." Sophie dan Naima diusir dari Yacht mewah Andre karena dituduh mencuri barang antik.

Kurasa twist film ini berhasil, membuatku rada shock. Saya kurang bergaul dan mungkin tidak berpengalaman menghadapi dan memilah antara cara/opsi orang kaya dan gaya/tabiat orang kaya. Tendensi mengkriminalkan Sophie mencerminkan jurang status sosial. Sebetulnya Ego Andre ditentang Philippe. Philippe juga menggunakan istilah 'value' alih-alih 'social class' sebagai perbedaan di tengah konflik. Saya tidak begitu mengerti nilai tersebut bagi Philippe. Setahuku, lelaki mendapat nilai tambah perempuan dari menikahi (mengasuh, memasak, dll.) dan tidak sekadar hubungan konsumtif. Mungkin yang  dimaksud Philippe, teman bicara yang kompetitif dan tidak murahan. Pada konteks tertentu, bisa jadi, berarti segelintir konglomerasi punya value lebih besar daripada mayoritas warga yang tersisa. Dengan memukau, Philippe menenangkan Naima, menerangkan posisi perkara itu tanpa kehilangan wibawa kaum elitis.

Penggemar Netflix cukup berbaik sangka. Andai Sophie tampil lebih berkelas, dia mungkin dicampakkan baik-baik. Bagiku, tuduhan kotor tanpa konfrontasi semacam itu tidak dapat diterima meskipun bagi karakter yang terlibat masalah selesai. Hasil apresiasi penonton berpotensi terbagi : ada yang memihak kriminalisasi satu sama lain selain sekadar menikmati kesenian Perancis. Inilah kegunaan review film. Maaf bila ulasan ini tidak sesederhana judulnya.

Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x