Mohon tunggu...
andy ichsan
andy ichsan Mohon Tunggu... Blogger and author

Pengarang novel Transition, novel Dimension of Dreams, dan kumpulan cerpen Province Memoir. Standby di toko buku fiksi : mikailearns.com

Selanjutnya

Tutup

Film Pilihan

A Portrait of Lady on Fire

15 Juli 2020   19:40 Diperbarui: 19 September 2020   16:00 56 4 1 Mohon Tunggu...
Lihat foto
A Portrait of Lady on Fire
https://www.madman.com.au/


Sewaktu aku SMP, sebutan 'film Perancis' punya makna yang menjurus esek-esek. Meskipun demikian, tidak pernah kusaksikan sendiri karena rumahku tidak mengakses channel-chanel antena parabola independen. Barangkali itulah sebabnya orang-orang kampung kabupaten bisa lebih bejat daripada kotamadya. Aku pernah sering terkaget-kaget oleh mahasiswa-mahasiswi dari 'daerah' yang indekos di pusat kota tempat perkuliahan atau di ibukota tempat universitas terkemuka berlokasi. Saat itu mereka 'lebih modern', sedangkan aku tampak kampungan.

Kisah kasih A Portrait of Lady on Fire berlatar abad ke-18 M di pulau Brittany, Perancis. Inilah film Titanic versi gay. Perbandingan gegabah agaknya namun keduanya sama-sama bermutu. Situasi dan kondisi terisolir dapat mendorong terjadi penyimpangan seksual seperti halnya film Brokeback Mountain. Seingatku kisah serupa versi hetero pernah ditayangkan RCTI, salah satu serial Quantum Leap.

Aku tidak meragukan Perancis dalam cita rasa berkesenian. Kualitas film yang satu ini berpotensi meruntuhkan pemikiran konvensional, bahkan lebih bagus daripada grasah-grusuh The Handmaiden (2016) dari Korea sana. Tidak, bukan soal sinematografi, aku tidak tahu apa-apa mengenai pewarnaan dan tata cahaya. Tafsir keindahanku tidak rumit. Kurasa perwujudan skenario dan editing menghasilkan irama dan penokohan yang memukau, walau ada kecanggungan dalam akting buka-bukaan ; kelemahan umum adegan perfilman yang bisa ditutupi lewat sensor. Penceritaan tidak memadai dalam menjelaskan motif ujuk-ujuk dua karakter utama berlesbi ria, misalkan masa kanak-kanak atau trauma tertentu, kecuali pengertian umum bahwa dunia seni merangsang 'kreativitas'. Ia lebih bernuansa framing potret-potret sebuah wacana daripada narasi dan itu luar biasa berhasil ; butuh kepiawaian memang dan begitulah film ini. Scope suatu karya fiksi harus dibatasi dan bila terlalu diperjelas mengarah ke reportase (film dokumenter).

Celine Sciamma sang sutradara brilian, saya tahu dia juga penulisnya. Cara dia membangun klimaks dari permulaan, perlahan-lahan tapi pasti, hingga memuncak pada adegan menuju mulut gua pesisir pulau saat dua perempuan yang mengenakan masker berciuman ; sangat relevan di zaman Covid bagi penonton. Meski tabu oleh protokol, mereka menanggung resiko.

A Portrait of Lady on Fire diawali dengan perjalanan laut (bajakan yg kutonton tidak menampilkan kelas melukis) ketika koper Marianne si pelukis mengapung karena terjatuh dari perahu dan dia harus berenang sendiri mengambilnya. Para penumpang lain bergeming mematung, memberikan kesan -kebetulan semuanya pria- jenis yang tidak menolong. No problem, Marianne perempuan yang kuat terlihat dari bahu dan lengan yang maskulin ketika berbaring bersama Heloise, meski paras Marianne manis berwajah mirip Emma Watson. Di sisinya hampir kebalikan ; Heloise ibarat gadis feminim pada umumnya tetapi lukisannya dibuat berwajah maskulin. Mungkin itulah sebab mengapa dia tiba-tiba menjadi kritikus seni memprotes lukisan awal Marianne sebelum diubah. Adegan kelas melukis mending semuanya diletakkan di bagian akhir film, sebelum orkestra.

Di luar pemahaman agama yang baik atau tanpa larangan sama sekali, film semacam ini sanggup membuat orang mentolerir lesbianisme dan menimbulkan pengaruh, khususnya padaku, sementara yang di kamar lain aku masih tetap memandang hubungan seks antar sesama lelaki menjijikkan.

@mikailearns

VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x