Mohon tunggu...
Michitra Adhikarsa
Michitra Adhikarsa Mohon Tunggu...

Manusia biasa...Just an ordinary man. Love to write and read almost about everything.\r\nPengamat dan pemerhati masalah KOMPASIANA, media, dan semua hal. Belajar menjadi hamba.

Selanjutnya

Tutup

Sosbud

Taukah Anda Tentang si Rumi?

13 Mei 2011   15:55 Diperbarui: 26 Juni 2015   05:45 1399 1 0 Mohon Tunggu...

Ribuan turis mengunjungi Istambul, kota terindah di Turki, namun tidak banyak yang tahu bahwa di situ [caption id="attachment_107866" align="alignleft" width="300" caption="Jalaluddin Rumi"][/caption] tersimpan sebuah warisan cultural histories, yaitu tarian Samah. Tarian ini dikembangkan oleh tarikat Maulawi (The Mevlevi Mystical Brotherhood) yang didirikan oleh Maulana (atau Mevlana) Jalaluddin Rumi (1207-1273). Siapa Rumi? Lalu macam apakah tarian Samah itu?

Rumi lahir di Afghanistan dan besar di Turki (ketika itu kedua wilayah itu merupakan bagian kerajaan Persia). Ia seorang guru madrasah yang menjadi terkenal sebagai seorang sufi atau ahli mistik. Banyak orang secara keliru mengartikan mistik sebagai gaib atau takhayul. Padahal mistik (nama lain: sufisme atau tasawuf) adalah sebuah dimensi atau sub-sistem dalam suatu agama yang menkankan pendekatan diri kepada Allah dan pemenuhan kebutuhan untuk mengalami perasaan menyatu dengan Allah. Di sepanjang sejarah, terdapat tokoh-tokoh mistik di dalam setiap agama. Mistik tidak mementingkan aspek-aspek formal seperti doktrin, peraturan, dan kelembagaan agama, melainkan aspek batin seperti kesalehan, kedamaian, dan cinta kasih. Ini melampaui segala pagar agama. Orang beragama dan berbangsa apapun dirangkul sebagai “sesame kekasih Allah”.

Rumi mendapat pengaruh dari beberapa ahli mistik Islam seperti Al-Ghazali (abad ke-11), Sana’I dan Aththar (abad ke-12) serta ahli mistik Kristen seperti Augustinus (abad ke-4) dan Fransiskus Asisi yang hidup sezaman dengan Rumi.

Rumi menuangkan penghayatan mistiknya dalam puisi berbahasa Persia. Karya agungnya berjudul Matsnawi yang terdiri atas sekitar 25.700 bait yang mulai ditulisnya pada usia 54 tahun sampai wafatnya pada usia 66 tahun. Tema yang mendominasi puisinya adalah kehausan makhluk untuk menyatu dengan Sang Pencipta.

Rumi pun mengungkapkan spiritualitasnya dalam bentuk tarian yang disebut samah. Tarian meditative inilah yang sekarang bisa disaksikan oleh para turis di Istanbul. Suasananya khidmat dan sederhana, bertempat di sebuah bangsal bangunan antic, tanpa panggung dan tanpa sorotan lampu. Tempat duduk diatur setengah melingkar. Musiknya adalah petikan siter atau kecapi, tabuhan gendang, tiupan suling, dan senandung para penembang dengan lirik karya Rumi berbahasa Turki. Sejumlah penari (kebanyakan pria) tampil sambil berputar. Mereka berjubah hitam dengan topi tarbus tinggi berbentuk kerucut tumpul. Di tengah tarian mereka melepas jubah hitam yang melambangkan kuburan ego atau ke-aku-an. Ternyata di balik jubah hitam itu mereka mengenakan baju lengan panjang berwarna putih. Mereka berputar-putar se arah jarum jam. Semua itu mengandung makna yang sangat dalam. Putaran itu melambangkan harmoni dengan putaran kosmos. Hentakan kaki melambangkan komitmen membuang semua perbuatan duniawi. Penonton dilarang bertepuk tangan. Memang benar, bagaimana mungkin kita bertepuk tangan dalam suasana yang begitu khidmat dan teduh? Selama satu jam jiwa kita ikut menari dan terangkat tinggi mendekat pada Tuhan.

Sejak awalnya semua puisi dan tarian warisan Rumi bersifat universal. Orang beragama dan berbangsa apapun adalah sesama kekasih Allah. Oleh sebab itu, meskipun Rumi mengalami sendiri berbagai penderitaan akibat serangan Mongolia dan perang salib, namun di dalam puisinya sama sekali tidak terdapat nada kebencian. Sebaliknya, puisinya bernada cinta kasih. Demikian juga dari awal lahirnya tarian Samah, Rumi menari bukan hanya dengan teman yang Muslim, melainkan juga dengan teman-temannya yang beragama Zoroaster, Jaina, Yahudi dan Kristen. Bukankah itu pula makna hidup? Dunia adalah panggung tari. Allah mengajak kita menari. Bukan menari sendirian, melainkan menari bersama semua kekasih Allah yang berbangsa dan beragama lain. Kita menari dengan irama yang sama dan putaran yang sama. Kita menanggalkan jubah ego chauvinisme agama dan bangsa yang sempit serta kerdil. Kita berputar bersama, mendekat dan semakin mendekat pada Sang kekasih.

VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x