Mohon tunggu...
Anna Maria
Anna Maria Mohon Tunggu... Freelancer - Freelancer | Teacher | Heritage Lover | Kebaya Indonesia

Love my life, my family, my friends, my country, my JESUS CHRIST

Selanjutnya

Tutup

Film Pilihan

Menyelami Pesan Moral Film

31 Agustus 2022   20:49 Diperbarui: 31 Agustus 2022   20:56 152
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Film. Sumber ilustrasi: PEXELS/Martin Lopez

Ternyata seru juga menikmati film drama Korea dan beberapa film barat lainnya di Netflix. Membaca buku atau menonton keduanya sama-sama asyik dan memiliki keunikannya sendiri. Kali ini saya ingin membahas mengenai dua film yang saya tandai "Sangat Menyukainya". Dua film tersebut adalah Extraordinary Attorney Woo dan Black Dog Being A Teacher.

Memang saya pecinta film sejarah, tetapi belum tentu semua menarik untuk dilanjutkan, hanya beberapa saja yang saya lanjutkan hanya untuk menilik lebih jauh pemicu pertanyaan observasi tentang sejarah tertentu. Misal, waktu itu saya menonton Rookie Historian Goo Hae-ryung, saya penasaran dengan adanya pejabat sejarawan di Joseon. 

Saya juga menghubungkannya dengan sejarah Nusantara, apakah kita juga memiliki sejarawan serupa? Nah, tidak semua film mengambil setting sejarah benar-benar murni apalagi dalam ketertarikan tergantung cara kita menikmati alurnya, bukan?

Selain memicu pertanyaan untuk observasi, saya juga senang menyelami pesan-pesan moral yang tersirat di samping keunikan watak tokoh di film. 

Kedua nama film yang saya sebutkan di atas,  memiliki karakternya masing-masing, yang satu terkesan santai dan lainnya membuat berpikir keras, namun tetap ada pesan moral yang ditangkap.

Extraordinary Attorney Woo mengisahkan tentang seorang pengacara wanita jenius yang memiliki gangguan spektrum autisme, Woo Young Woo. Kita akan dibawa ke dalam dunianya yang polos, jenaka dan penuh ketulusan. Saya sebenarnya ragu dengan pengalaman autisme pengacara Woo, apakah itu tepat yang dialami seseorang yang memiliki autisme? 

Yah, tidak perlu menjadi fokus masalah, saya sudah terlanjur jatuh hati dengan cara pandangnya, imajinasi yang mengantar kita turut menyukai ketertarikannya akan paus. 

Saya seperti bertemu dengan teman yang sama-sama memiliki imajinasi menyenangkan. Seringnya saya juga menambahkan sebuah kapal kayu berlayar penuh warna di samping paus dan lumba-lumba yang berenang, di dalam imajinasi saya. Hihihi...

Membandingkan film serupa tentang ruang pengadilan, sebelumnya saya menonton Law School. Menontonnya serasa ikut dalam pembelajaran tentang hukum secara serius dan terus-terusan berpikir. 

Tetapi di film ini, Pengacara Woo dan rekan-rekannya menyajikan pembelajaran hukum secara menyenangkan, dengan dunia Woo maupun rekan-rekannya yang rendah hati.

Selanjutnya, film Black Dog Being Teacher mengajak saya untuk kembali memaknai dunia pendidikan. Saya begitu memahami bagaimana rasanya sewaktu bekerja di sekolah, meskipun seringnya saya menjadi guru dari lembaga yang bekerjasama dengan sekolah. Menonton film ini membuat saya semakin menaruh hormat terhadap guru.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Film Selengkapnya
Lihat Film Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun