Mohon tunggu...
Biyaaaa
Biyaaaa Mohon Tunggu... Saya seorang mahasiswi

I'm on my way.

Selanjutnya

Tutup

Edukasi

Toxic Parents dan Dikotomi Kendali

5 Juli 2020   14:05 Diperbarui: 5 Juli 2020   14:06 1 0 0 Mohon Tunggu...

[Sebuah catatan untuk diri sendiri]

Sebenarnya istilah toxic bukan sesuatu yang baru. Istilah ini berarti 'racun'. Istilah toxic juga banyak disebut pada toxic people, toxic relationship dan toxic positivity. Mungkin ada toxic-toxic lain yang kalian tahu. 

Istilah toxic parents bisa berarti perilaku buruk berupa kekerasan fisik dan verbal. Pembahasan toxic parents ini pernah diangkat secara khusus oleh Suzan Forward dalam buku berjudul Toxic Parents: Overcoming Their Hurtful Legacy and Reclaiming Your Life pada tahun 2002. 

Pada bukunya, Forward menekankan sikap-sikap orang tua yang malah menjadi toxic bagi anak-anaknya. Yang dibahas dalam buku ini adalah kelompok orang tua yang menekankan hukuman fisik berlebihan dengan alasan kedisiplinan, melibatkan anak untuk menyelesaikan masalah pribadi, menekan psikis anak, hingga ancaman-ancaman yang tidak mengenakkan yang justru menjadi luka bagi si anak. 

Dalam bukunya, Forward memberi pertanyaan penting bagi pembaca: apakah orang tua Anda membuat Anda merasa bahwa apapun yang Anda lakukan tidak berharga?

Beberapa memang dirasa tidak menyenangkan terkait toxic parents. Pada posisi seorang anak kita pasti dihadapkan dengan luka dan kebencian. Ada seorang teman pernah bercerita pada saya bahwa lebih menyenangkan bermain dengan teman-teman daripada dengan keluarga dan akhirnya dia lebih memilih menjauh dari keluarga. Seorang anak dengan orang tua tipe toxic parents sangat melelahkan. Apalagi ketika diluar rumah malah menjadi bahan bully teman-teman. Bukannya saat pulang ke rumah menjadi tempat menyenangkan, ini malah menjadi tempat menjemukan. 

Efek negatif dari toxic parents ini malah melabeli anak sebagai anak durhaka. Padahal mungkin tidak seperti itu. Konsep pendidikan dalam islam sendiri tidak memberi penekanan pada anak agar terluka baik secara fisik dan mental.

Terkait dikotomi kendali, hal ini diluar kuasa kita sebagai seorang anak. Kita tidak bisa memilih akan dilahirkan dari keluarga apa dan darimana. Sering kita melakukan banyak hal yang menurut kita itu adalah sebuah pencapaian yang amazing, namun tidak berakhir dengan sebuah penerimaan. Lalu rasanya kita terkotak-kotak pada dimensi cemas, marah dan frustrasi. 

Ada sebuah ajaran terkait stoisisme yang didalamnya terdapat dikotomi kendali. Hal-hal yang bisa kita kendalikan meliputi emosi, pikiran, perasaan dan tindakan kita. Ada hal yang menarik dari dikotomi kendali ini yaitu "kita mengendalikan di kita sepenuhnya maka berbahagialah dengan bahagia yang kita buat".

Dikotomi kendali ini lebih dari cukup untuk menghadapi toxic parents. Filsuf stoisisme percaya, bahwa hal-hal yang terjadi pada kita tidak secara spontan terjadi karena alam ini berputar teratur. Buat bahagia dari diri sendiri, dari opini sendiri, dari pikiran sendiri. Ingat ingat bahwa tidak semua hal bisa kamu kendalikan. Ada hal yang bisa kita kendalikan sebagian. Kenapa? Karena konsep terhadap hal-hal yang tidak bisa dikendalikan menyebabkan kita menjadi pasrah dengan apapun. Terakhir kendalikan interpretasi dan persepsi.

Mari cintai hidup dan takdir kita dengan mengendalikan diri kita.

*ditulis waktu Indonesia Bagian Barat 

VIDEO PILIHAN