Mohon tunggu...
Miastika Nur Sayidina
Miastika Nur Sayidina Mohon Tunggu... Mahasiswa - Mahasiswa Pendidikan Sosiologi Antropologi Universitas Sebelas Maret

Mahasiswa Pendidikan Sosiologi Antropologi Universitas Sebelas Maret

Selanjutnya

Tutup

Ilmu Sosbud & Agama

Multikulturalisme: Anugerah atau Masalah?

24 Oktober 2021   07:25 Diperbarui: 24 Oktober 2021   07:27 699 2 1
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Lihat foto
Ilmu Sosbud dan Agama. Sumber ilustrasi: PEXELS

Multikulturalisme: Anugerah atau Masalah?

Sudah kita ketahui bahwa Indonesia adalah negara dengan beragam. Filosofi multikulturalisme pantas diterapkan di negeri ini karena Indonesia memiliki banyak budaya. Pada dasarnya, multikulturalisme yang terbentuk di tanah air merupakan akibat dari kondisi sosio-kultural maupun geografis yang beragam dan luas. Berdasarkan kondisi geografis, Indonesia memiliki banyak pulau di mana setiap pulau memiliki corak dan karakteristik budaya yang beragam.

Dari masyarakat itu terbentuklah suatu norma budaya istiadat. Tentu saja hal ini berdampak pada keberadaan norma budaya istiadat yang beragam. Keberagaman tersebut berpencar dari Sabang sampai Merauke dalam berbagai aspek, seperti suku, etnis, budaya, agama, dan ras. Lantas, apakah multikulturalisme ini dapat dikatakan sebagai suatu anugerah atau justru menjadi masalah?

Keberagaman merupakan ciri khas dan kekayaan bangsa. Dapat dilihat bahwa Indonesia merupakan salah satu negara yang memiliki banyak pulau dan suku bangsa. Negara dengan julukan maritim yang dianugerahi biota laut yang melimpah, keindahan alam yang mengagumkan, serta iklim yang bersahabat membuat Indonesia mendapat julukan sebagai paradise of the world. Dari sudut pandang budaya, Indonesia juga memiliki budaya yang tak kalah unik dengan negara lain. Bahkan sudah ada warisan budaya yang diakui di dunia, seperti alat musik angklung dan gamelan, batik, dan seni wayang. Budaya lainnya dapat berwujud seni (kerajinan, musik, tari), upacara adat atau tradisi seperti upacara adat Ngaben di Bali, upacara Sekaten di Yogyakarta dan Surakarta, Karapan Sapi di Madura, tradisi Sisingan di Jawa Barat, dan lain sebagainya. Selain tradisi, Indonesia juga memiliki beragam rumah adat, pakaian tradisional, lagu daerah, dan masih banyak lagi. Bisa kita buktikan betapa kayanya tanah air ini. Multikulturalisme Indonesia bisa menjadi wadah atau sarana untuk memperkuat persatuan dan kesatuan, bisa sebagai kekayaan bangsa yang dihiasi dengan toleransi, dan dapat dikatakan sebagai warisan budaya dunia.

Dalam suatu kesempatan, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, Nadiem Makarim mengatakan bahwa keberagaman suku, agama, dan budaya di Indonesia merupakan anugerah Tuhan yang tidak ternilai. Dengan adanya keberagaman akan terbangun kekuatan anak bangsa dalam mewujudkan kehidupan yang bersatu, gotong-royong, berdaulat, adil dan makmur. Keberagaman budaya juga bisa mempererat sosialisasi antarmasyarakat dan dapat menumbuhkan rasa persatuan dan cinta tanah air.

Namun, keberagaman sering kali menimbulkan suatu permasalahan. Multikulturalisme dapat membuat masyarakat satu dengan masyarakat lainnya merasa tersaingi sehingga terjadi kesalahpahaman yang menimbulkan kemarahan dan stereotip antara satu sama lain. Hal ini merupakan akar dari adanya permasalahan sikap etnosentrisme. Jika sikap etnosentrisme dibiarkan, maka akan melahirkan disentegrasi budaya sebab hilangnya persatuan antarbudaya. Akibatnya terjadilah konflik antarbudaya. Salah satu konflik yang pernah ada yaitu perang sampit yang terjadi antara Suku Dayak dan Suku Madura.

Dalam masyarakat multikultural yang terdiri dari berbagai kelompok etnis, pasti akan ada kelompok yang dominan. Dominasi ini terjadi disebabkan oleh beberapa faktor, mulai dari perbedaan geografis, pengetahuan, politik, pembangunan yang tidak merata, tingkat ekonomi dan kesenjangan sosial. Dominasi suatu etnis tertentu akan melahirkan kebudayaan dominan dan kebudayaan tidak dominan. Hal ini berpotensi memicu konflik antar etnis yang berkepanjangan, bahkan bisa mengarah ke perpecahan dan mengancam keutuhan NKRI. Dikutip dari buku Mengungkap Keragaman Budaya karangan Tedi Sutardi, konflik seperti ini disebabkan oleh rendahnya pertukaran sosial (social exchange). Pertukaran sosial memiliki sistem hubungan timbal balik yang seimbang sehingga bisa menjadi media untuk mewujudkan masyarakat yang rukun. Tidak adanya proses pertukaran sosial ini ditandai dengan menurunnya rasa saling percaya sehingga mengakibatkan turunnya sikap toleransi. Hal inilah yang akhirnya melahirkan konflik sosial dalam kehidupan bermasyarakat.

Banyaknya budaya juga bisa membuat masyarakat memiliki sikap cinta tanah air yang berlebihan. Sikap tersebut biasanya dinamakan chauvinisme. Chauvinisme merupakan suatu paham di mana individu, kelompok ataupun komunitas memiliki perasaan cinta, royalitas tinggi, sikap dalam fanatisme, ataupun kesetiaan terhadap suku atau negara dengan tidak mempertimbangkan pandangan dari orang lain. Indonesia memang tidak menerapkan paham chauvinisme ini. Tetapi ada saja tingkah masyarakatnya yang selalu melebih-lebihkan budayanya sendiri. Contoh dari chauvinisme seperti adanya kerusakan tempat ibadah, merendahkan tradisi budaya lain yang dianggap aneh dan lain sebagainya.

Dalam dunia maya, sering dijumpai pula masyarakat yang selalu bersikap berlebihan. Dapat dilihat ketika para netizen Indonesia menghujat penduduk negara tentangga karena dugaan telah mengklaim budaya Indonesia tanpa adanya kebenaran. Ada pula netizen yang menghina tentang masyarakat Bali yang mengonsumsi daging babi, mereka menganggap hal tersebut berdosa dan haram hukumnya. Secara tak langsung, mereka telah bersikap menyamaratakan apa yang dibolehkan dan dilarang dalam budayanya sendiri. Ada lagi kasus saat artis-artis korea menggelar konser di Indonesia membuat sebagian masyarakat beranggapan bahwa mereka hanyalah perusak budaya Indonesia. Jadi, begitu terdengar nama Korea, berbagai statement langsung keluar seperti: oplas, cowok kok cantik, banci, dan lain sebagainya.

Akhir-akhir ini masyarakat Indonesia yang menggembar-gemborkan sikap nasionalisme. Tapi yang muncul bukanlah sikap nasionalisme melainkan sikap chauvinisme. Kata ‘nasionalisme’ hanya ‘kedok’ untuk menutupi bahwa sebagian dari mereka menunjukkan sikap chauvinisme yang membangga-banggakan Tanah Air dengan merendahkan bangsa lain.

Tidak dapat dipungkiri, perbedaan-perbedaan dalam masyarakat bisa menjadi salah satu sumber konflik. Misalnya perselisihan yang dilatarbelakangi oleh kecemburuan sosial, konflik yang dilatarbelakangi oleh ras, suku, agama, dan lain sebagainya. Jika tidak ditangani dengan baik, maka keberagaman masyarakat akan menimbulkan perpecahan nasional.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Ilmu Sosbud & Agama Selengkapnya
Lihat Ilmu Sosbud & Agama Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
VIDEO PILIHAN
LAPORKAN KONTEN
Alasan