I Ketut Merta Mupu
I Ketut Merta Mupu pelajar/mahasiswa

Alumni UNHI. Lelaki sederhana dan blak-blakan. Blog pribadi: Voice of Merta Mupu Facebook : I Ketut Merta Mupu Instagram; merta_mupu

Selanjutnya

Tutup

Humaniora

Kitab Karya Acarya Canakya

12 Juli 2015   16:14 Diperbarui: 12 Juli 2015   16:14 7830 4 2

 

Acarya Canakya

Dalam film kolosal Ashoka, salah satu tokoh yang dihormati adalah Acarya Canakya atau Rsi Chanakya, salah satu nama tokoh yang terkenal tentang kebijaksanaan India kuno. Rsi Canakya memiliki kemampuan yang hebat dan multi talenta. Ia adalah seorang perdana mentri, seorang mahaguru (acarya), ahli ekonomi, ahli filsafat, ahli hukum, dan penasehat yang setia.

Rsi Chanakya lahir dalam keluarga Brahmana. Kelahirannya masih kontroversi. Ada beberapa teori tentang asal-usul beliau. Menurut teks Buddhis Mahavamsa Tika, tempat kelahirannya di Taxila. Menurut sastra suci agama Jain, seperti Adbidhana Chintamani, menyebutkan beliau sebagai Dramila, menyiratkan bahwa ia adalah penduduk asli India Selatan. Menurut penulis Jain, Hemachandra, Chanakya lahir di desa Canaka wilayah Golla, menjadi brahmana bernama Canin dan istrinya Canesvari. Sumber lain menyebutkan nama ayahnya sebagai chanak dan menyatakan bahwa nama Chanakya berasal dari nama ayahnya. Menurut beberapa sumber, Chanakya adalah seorang brahmana dari India Utara, seorang sarjana Veda dan penyembah Wisnu. Menurut pandangan penganut agama Jain Rsi Canakya memeluk agama Jain di usia tua seperti Chandragupta Maurya. (Dikutip dan diterjemahkan dari Wikipedia English)

(Semasa muda) Chanakya dididik di Takshashila, sebuah pusat pendidikan kuno yang terletak di barat laut India (sekarang Pakistan). Dia kemudian menjadi seorang guru (acharya) di tempat yang sama. Kehidupan Chanakya berhubungan dengan dua kota: Takshashila dan Pataliputra (sekarang Patna di Bihar, India). Pataliputra adalah ibukota kerajaan Magadha, yang terhubung ke Takshashila dekat Uttarapatha, jalan pusat perdagangan utara. (Dikutip dan diterjemahkan dari Wikipedia)

Nama Canakya populer dalam berbagai sastra Hindu. Menurut Satya Vrat Shastri: Suatu bait-bait Sanskrit yang telah tua menyebutkan berbagai nama yang membuatnya dikenal. Nama-nama tersebut adalah: Vatsyayana, Mallanaga, Kautilya, Canakya, Dramila, Paksilasvamin, Visnugupta dan Angula. Dari semua itu Canakya, Kautilya dan Visnugupta adalah lebih dikenal. Dari ini Canakya lebih erat kaitannya dengan Nitisastra dan Kautilya dengan Arthasastra. Ia sering sekali dikutip oleh penulis-penulis belakangan pada pustaka-pustaka Niti dan Katha seperti Dandin di dalam bukunya Dasakumaracarita, Visnusarman di dalam Pancatantra-nya dan seterusnya dan ia disebut-sebut oleh tokoh hebat seperti Bana, Varamahira dan Somadeva. Kamandaki, seorang penulis yang terkenal dari Nitisastra, menyampaikan penghargaan yang setinggi-tingginya di awal tulisannya.

Menurut catatan, Rsi Canakya adalah perdana mentri Maharaja Chandragupta Maurya, pendiri Kekaisaran Maurya atau dinasti Maurya. Sebelum dinasti Maurya berkuasa, dinasti sebelumya adalah dinasti Nanda.

Satya Vrat Shastri menyebutkan bahwa Canakya adalah salah satu yang terbesar kalau bukan yang terbesar, dari para politisi yang telah dicetak India. Dia adalah ahli strategi, seorang ahli taktik dan diplomat yang besar, suatu sifat –sifat yang membuatnya sebagai tokoh yang terkenal sepanjang zaman. Ia dikaitkan telah mencabut kekuasaan dinasti Nanda yang kuat praktis dilakukan sendiri, sama sekali dengan tanpa berurutan. Bahwa ia dapat berhadapan dengan aparat atau organisasi negara yang tertera dengan rapi, dan menggantikannya dengan ciptaannya sendiri dalam uraian yang berjilid-jilid sebagai kegiatan diplomatiknya dan usaha-usaha yang keras untuk mencapai sukses yang tidak mengakui tabu (taboo) macam apapun. Ia menghadapi tipu-daya dengan tipu-daya yang lebih tinggi, memotong gerakan rahasia dengan gerakan rahasia yang lebih rahasia lagi dan menghancurkan sampai habis keturunan terakhir keluarga yang memegang pemerintahan, lalu mendudukan anak didiknya di atas tahta Patali Pura.

Cerita permusuhan antara raja Nanda dengan Canakya yang berjalan turun-temurun termasyur sebagai berikut (Darmayasa, 1995):

Raja Nanda hendak menyelenggaraan upacara Sraddha, yaitu upacara persembahan kurban untuk leluhurnya. Raja Nanda mengutus seorang menterinya mencari seorang brahmana untuk memimpin upacara tersebut. Menteri itu bernama Vikatara. Nama lainnya juga adalah Raksasa, Amatya Raksasa, atau Mudra Raksasa.

Begitu tiba di luar istana, ia teringat kejahatan yang dilakukan oleh Raja Nanda; bagaimana keluarganya dipenjarakan, mati dalam kehausan dan kelaparan. Ia ingin membalas dendam. Untuk itu ia harus mendapatkan seorang brahmana tertentu yang akan mengancurkan Nanda sekeluarga, sebagaimana kehancuran keluarganya sendiri. Maka, barulah jiwa Vikatara bisa tenang.

Suatu ketika, dalam perjalanan mencari brahmana yang dimaksud, ia melihat seorang brahmana yang kulitnya agak hitam, bibirnya tebal, matanya kecil, tetapi berwarna merah seperti sedang memendam amarah. Dari bahu ke pinggang melingkar tali suci ciri-ciri ke-brahmana-an, memakai tilaka . Brahmana tersebut sedang mencabut alang-alang. Alang-alang digali dan kemudian disiram dengan racun.

Vikatara datang mendekat, bersujud hormat dan bertanya, ”Tuan brahmana yang terhormat, hamba adalah seorang menteri raja Nanda. Hamba ingin mengetahui perihal Tuan. Selain itu kalau hamba boleh bertanya, mengapa Tuan bekerja keras mencabut alang-alang itu? kalau Tuan berkenan, besok hamba memerintahkan orang-orang untuk membersihkan semua alang-alang ini.”

Sang brahmana memberi berkah, kemudian berkata, “Alang-alang ini telah berbuat kesalahan besar kepadaku. Namaku Canakya. Nama bapakku Canaka. Suaru ketika bapakku sedang berjalan-jalan di hutan. Pahanya tertusuk duri alang-alang sampai mengakibatkan meninggal. Oleh karena itu, aku berusaha membasmi alang-alang ini sampai akar-akarnya.”

Vikatara berpendapat bahwa ia telah menemuka Brahmana yang dimaksud. Begitu Raja Nanda berbuat kesalahan kepada brahmana yang buruk rupa ini pasti ia akan dibinasakan sampai ke seluruh keturunannya, sebagaimana sang brahmana membinasakan alang-alang sampai ke akar-akarnya.

Dalam upacara tersebut Vikatara menyusun tempat terhormat untuk Canakya Pandit. Karena wajah brahmana itu jelek, tentu saja wajah Nanda terkejut sekali. Bagaimana mungkin dalam upacara yang utama, brahmana yang hadir buruk rupa. Menurut Nanda hal ini mengurangi nilai wibawa upacaranya. Langsung ia menghina Canakya. Canakya Pandit merasa terhina. Ahirnya Nanda beserta ke delapan putra-putranya dibasmi oleh Canakya Pandit. Seluruh dinasti Nanda habis. Canakya menobatkan Candragupta menjadi raja. Dendam Canakya terbalas. Dendam Vikatara pun terbalaskan. Vikatara selanjutnya menjadi menteri Candragupta.

Tetapi, dalam kitab Mudra-Raksasa terdapat cerita berbeda sedikit, bahwa Vikatara yang nama lainnya Mudra Raksasa ini adalah seorang menteri yang amat setia kepada raja Nanda. Mudra Raksasa terkenal sebagai menteri yang cerdas dan luas pandang.

Ketika Nanda terbinasakan, Mudra Raksasa meratap sedih. Ia mengatakan bahwa Raja Niti itu bagaikan seorang wanita tuna susila. Wanita tuna susila tidak pernah menaruh cintanya di satu tempat. Begitu pula politik tidak pernah mencintai seseorang selamanya. Nanda tergulingkan, politik itu pun menjatuhkan cintanya kepada raja yang lain lagi, yaitu Candragupta.

Walaupun menurut kitab Mudra-Raksasa ada permusuhan keras antara Vikatara dengan Candragupta, tetapi dengan kecerdikan dan ilmu Raja Niti-nya, Canakya Pandit berhasil membuat Vikatara mengabdi kepada Candragupta dengan setia.

Pada saat Canakya menyerahkan kedudukan perdana menteri kepada Vikatara yang cerdas, Canakya berkata: 

tapovanam yami vihaya mauryam, tvam chadhikaresvadhikrtya mukhyam, tvayi sthite vakpativat subudhau, bhunaktu gamindra ivaisa candrah.

“Sekarang, setelah mendirikan kerajaan Maurya dan setelah mendudukan kamu sebagai perdana menteri, maka aku akan pergi bertapa ke hutan. Aku memberi berkah bahwa dengan mendapatkan perdana mentri yang bagaikan Brhaspati (guru penasehat para Dewa) mudah-mudahan Candragupta akan mampu memerintah bagaikan Indra (raja para Dewa).”

Candragupta, raja agung yang berwibawa, di bawah bimbingan Acarya Canakya, membuat kerajaan Magada semakin kuat. Kerajaan Magada mampu memukul mundur musuh yang dipimpin Aleksander Agung dari Yunani, murid Aristoteles. Aleksander menginvasi India pada tahun 326 SM.

Setelah Candragupta, tahta Magada dilanjutkan oleh raja Bindusara (dalam kitab Sri Visnu Purana disebut Varisara), ayah dari raja Ashokavardana.

 Kitab Karya Rsi Canakya

Meski nama Canakya populer dalam berbagai sastra yang ditulis belakangan oleh para pemikir Hindu kuno, akan tetapi sejarah hidupnya hanya sedikit diketahui berdasarkan bukti-bukti sejarah.

Beliau seorang perdana mentri yang tinggal di luar kota di sebuah gubuk kecil beratap alang-alang. Itulah kantor beliau. Dari sana beliau mengendalikan pemerintahan, sambil bertapa dan menulis. Melihat hal ini, pengembara Cina Fa Hien berkata, “Perdana mentri sebuah kerajaan besar tinggal di pondok ini..”. Sedangkan Canakya sendiri berpendapat, “Di negara mana Perdana Mentri tinggal di gubuk kecil, di sana para penduduknya tinggal di rumah-rumah bagus. Di negara mana Perdana Mentri tinggal di rumah mewah, di sana para penduduknya tinggal di rumah-rumah sederhana…” (Darmayasa, 1995)

Semasa hidupnya, Rsi Canakya dipercaya menulis beberapa sastra suci Hindu, mengajarkan kembali ajaran Veda ke dalam bentuk yang sederhana dan mudah dipahami. Menurut Darmayasa, beberapa tulisan beliau yang terkenal antara lain:

1. Artha Sastra

2. Laghu Canakya

3. Vrddha Canakya

4. Canakya Niti

5. Canakya Sutra

Dari beberapa sastra karya Rsi Canakya, ada dua kitab yang paling populer, yaitu kitab Artha Sastra dan Canakya Niti atau juga disebut Canakya Niti Sastra.

Menurut Made Astana dan Anomdiputro (2005), Arthasastra merupakan karya klasik tentang politik tata negara, ekonomi, budaya dan sebagainya yang dapat dipandang sebagai suatu manual atau pegangan bagi seorang pemimpin dalam mengelola negara.

Arthashastra membahas kebijakan moneter (keuangan) dan fiskal (pajak), kesejahteraan, hubungan internasional, dan strategi perang secara rinci. Kitab ini juga menguraikan tugas penguasa (Wikipedia English). Isinya bukan saja mencakup tentang politik-tata negara, inteljen, kepemimpinan, ekonomi, hukum dan filsafat, juga tentang pengobatan dan ilmu magi (Made Astana dan Anomdiputro, 2005). Kitab ini digolongkan ke dalam kitab yang keras, penuh dengan tipu-daya untuk melawan musuh negara.

Kitab ini sempat menghilang beberapa abad, hingga ditemukan kembali oleh R. Shamasastry pada tahun 1904/1905, yang dipublikasikan pada tahun 1909. Sedangkan terjemahan versi bahasa inggris dipublikasikan tahun 1915 (disarikan dari Wikipedia English). Juga diterjemahkan ke dalam berbagai bahasa, seperti Jerman, Rusia, Malaya, dan sebagainya. Sedangkan terjemahan versi bahasa Indonesia dipublikasikan tahun 2005.

Isi atau uraian dalam kitab Artha Sastra mirip dengan kitab Dharmasastra, hanya saja isinya tidak teratur. Dalam satu sloka terkadang terdiri dari banyak kalimat, terkadang hanya terdiri beberapa kalimat. Sedangkan Dharmasastra isinya teratur yang disusun dalam bentuk prosa. Kitab Artha Sastra terdiri dari 15 buku, kemudian terjemahannya disusun dalam satu buku.

Sloka-sloka dalam kitab Artha Sastra meski menurut kitab ini dinyatakan mudah dipahami, tidak bertele-tele, namun nyatanya beberapa ayat sulit dipahami, terutama bagi masyarakat awam. Berbeda dengan kitab Canakya Niti Sastra, isinya mudah dipahami. Kitab Canakya Niti Sastra terdiri dari 17 adyadya atau bab, 340 sloka.

Ajaran Niti Sastra populer di berbagai negara selain India, seperti Nepal, Mongol, Burma, Sri Lanka, Campa, Tibet, Kmer, bahkan sampai juga ke Indonesia. Darmayasa (1995) menyatakan, dalam bahasa jawa kuno kita mewarisi Niti Sastra Kakawin, Sarasamuccaya, Slokantara dan Niti Sara. Dalam bahasa Parsi juga dijumpai Niti Sastra, yang selanjutnya diterjemahkan ke dalam bahasa Arab.

Niti Sastra banyak mengajarkan ilmu pengetahuan tentang etika dan moralias, serta budi pekerti, tata cara pergaulan setiap hari, dengan sesama makhluk, sesama umat mnanusia dan bagaimana memusatkan perhatian, memusatkan pelayanan bakti kepada Tuhan Yang Maha Esa. (Darmayasa, 1995)

Para sarjana seperti Dr. Ludwik Sternbach sudah berusaha keras untuk menyelidiki dan membandingkan semua edisi ungkapan-ungkapan Canakya yang berbeda. Ungkapan-ungkapan ini sudah menyebarkan kebesaran India dimana-mana, dengan menggunakan caranya sendiri memasuki Burma lewat buku Pali Lokaniti, dan kemudian ke Thailand, Laos, Cambodia, dan tempat-tempat lain. Kita menemukan ayat-ayat yang serupa di dalam kesusastraan Indonesia, Sri Lanka, di Tibetan Tanjur, dan bahkan di Mongolia (Agrahya dasa, vedabaseindonesia).

Demikianlah sedikit ulasan tentang tokoh Acarya Canakya dalam film Ashoka Samrat. Jika menarik, let’s share.

 

Tulisan sebelumnya Mimpi yang Bukan Mimpi