Mohon tunggu...
ADRIANUS S.
ADRIANUS S. Mohon Tunggu... Pendidik

Mengolah mental menuju profesional

Selanjutnya

Tutup

Edukasi Pilihan

Pembelajaran Berbasis Nalar

7 Juni 2020   16:35 Diperbarui: 7 Juni 2020   16:34 7 0 0 Mohon Tunggu...

USBN (Ujian Sekolah Berstandar Nasional) untuk jenjang SD  secara nasional telah terlaksana dengan selamat selama tiga hari (22, 23, dan 24 Mei 2019). Pada Senin, Selasa, dan Kamis, 29,30 Mei dan 2 Mei penulis terpilih dari sekian guru yang ada untuk menjadi korektor soal uraian (esay) (USBN) di salah satu sub rayon  yang ada di Kota Yogyakarta.

Dari sekian banyak  jawaban siswa yang berasal dari beberapa sekolah  dan beberapa kecamatan yang penulis koreksi, menunjukkan bahwa untuk soal-soal yang menuntut penalaran tingkat tinggi (soal HOTS), hampir semua jawaban siswa salah. 

Kesalahan yang penulis temukan antara lain (a) siswa tidak bisa memahami konteks permasalahan yang disajikan dalam soal,  (b) siswa tidak mampu menyajikan jawaban soal secara kreatif (berpikir diluar kebiasaan), dan  (c) siswa tidak mampu memecahkan permasalahan yang disajikan dalam soal.

Hal ini mengusik naluri penulis, dan mungkin menjadi keprihatinan para pendidik pada umumnya,  para orang tua, dan orang-orang yang peduli terhadap pendidikan. 

Walaupun presentase soal HOTS untuk USBN tahun ini hanya sekitar lima persen (5%), hal ini akan menurunkan tingkat pencapaian daya serap kompetensi yang diujikan. Lebih jauh dari itu  mengisyaratkan pelaksanaan kurikulum 2013, sebagai kurikulum berbasis pengembangan penalaran tingkat tinggi belum tercapai secara maksimal. 

Kita tahu alasan diberlakukan kurikulum 2013 untuk menghadapi tantangan bonus demografi tahun 2022-2035, sehingga SDM yang usia produktif tersebut manjadi aset  terbesar bangsa ini dalam menghadapi tantangan globalisasi dan industri.

Berdasarkan pengalaman  dalam koreksi soal uraian tersebut, penulis menyimpulkan bahwa ketidakmampuan sebagian besar siswa dalam menyelasaikan soal HOTS ini karena beberapa hal,antara lain: 

(1) Dalam kesaharian (temasuk dalam pembelajaran), siswa tidak terbiasa menemui masalah yang menuntut berpikir tingkat tinggi sejak usia pra sekolah. Atau tingkat literasi membaca siswa masih perlu ditingkatkan. 

(2) Dalam kehidupan sehari-hari, siswa tidak terbiasa berfikir keluar dari kebisaan. Orang tua atau guru  senantiasa menetah anak-anak dalam belajar. Meraka kurang mendapat kesempatan untuk mencoba berjalan sendiri. 

(3) Dalam pembelajaran siswa kurang terlatih mengeyelsaikan soal HOTS sejak di kelas rendah.

Agar anak-anak kita saat dewasa nanti mampu bertahan (survive) dalam era globalisasi dan industri, kita biasakan sejak dini untuk berlatih berpikir tingkat tinggi baik dalam suasana formal maupun santai, baik di sekolah maupun di rumah, bahkan saat kita bermain bersama anak-anak kita. Berikan mereka sentuhan-sentuan yang menantang untuk melatih penalaran tingkat tinggi.

Adrianus Sugiarta

Pendidik di SD Pangudi Luhur Yogyakarta

VIDEO PILIHAN