Mohon tunggu...
Tonnly Mejuah Juah
Tonnly Mejuah Juah Mohon Tunggu...

AAL IZZ WELL

Selanjutnya

Tutup

Sosbud

Pedagang Asongan Tangguh

18 Januari 2011   02:57 Diperbarui: 26 Juni 2015   09:27 0 1 0 Mohon Tunggu...
Pedagang Asongan Tangguh
1295319139983265396

[caption id="attachment_85460" align="alignleft" width="300" caption="..illustrasi.."][/caption] Aneh tentunya bisa disaat saya naik mobil saya tak berjumpa dengan pedagang asongan. Mengapa saya bilang aneh adalah dikarenakan saya memang selalu bertemu mereka setiap saya menginjakakan kaki diatas lantai bis coltdiesel. Bisa saja bertemu mereka sampai beberapa kali dalam sekali perjalanan. Berdagang (asongan) adalah salah satu bentuk mata pencaharian, cara mencari duit yang tergolong mulia. Bila kita memperhatikan pergerakan mereka yang seperti ini tidak jarang terlintas dipikiran kita bahwa itu adalah hal yang sepele dan takkan memberikan untung yang cukup banyak pada penjualnya. Masuk akal memang bila kita berpendapat demiakian terutama masalah untungnya. Hal ini dikarenakan pada umumnya harga barang (umumnya makanan) yang dijual rata-rata dibandrol sepuluh ribu kebawah. Contohnya saja: tahu, kacang, permen, aqua, keripik, telur puyuh, kratingdenk, M150, sprite, coca cola, fanta (kaleng) tissue dan lain sebagainya. Tapi jangan salah, untung yang mereka dapatkan adalah lumayan juga. Ini disebabkan mereka pada umumnya memasak sendiri barang yang akan mereka jual. Contohnya kacang, tahu, telur dan keripik dan semuanya dimasukkan kedalam plastic agar kebersihanya terjaga. Semua barang yang mereka hendak jajakan akan digantungkan pada sebuah balok kayu yang telah dilengkapi dengan gantungan kawat sebagai penggantungan makanan dan minuman yang akan dijual. Dengan kondisi yang seperti ini memudahkan si penjual dan juga si pembeli untuk memilih jenis barang apa yang hendak ia beli dan dijual. Lahan pedagang asongan inipun tergolong berbahaya bila dibandingkan dengan jenis perdagangan yang lain yang terfokus pada satu tempat saja dan fix. Lahan mereka adalah bis, benda bergerak. Mereka harus menaiki bis untuk bisa menukarkan barangnya menjadi uang. Banyak bahaya yang akan diterima disini. Tak jarang mereka tak diijinkan berjualan di dalam bis terutama yang AC dan juga tak jarang mereka mendapat marah dari kernet bis karena kernet bis merasa kehadiran mereka hanya malah menambah sesak dan bising apalagi saat penumpang penuh. Dibutuhkan hati yang sabar bila menghadapi yang seperti ini, belum lagi penyesuaian bagaimana agar barang jajaan tak meyentuh orang lain dan menggangu orang lain pada saat bis berjalan. Belum lagi mereka terkadang dipaksa membayar ongkos berdagang di bis oleh sang kernet dan beresiko untuk diturunkan dimana saja, mungkin ditempat yang belum pernah dituruni sebelumnya. Umumnya pedagang asongan dalam bis adalah orang yang tahan banting dan percaya dirinya kuat. Kalau tak seperti itu bagaimana bisa mereka bisa menaiki dan turun dari bis dengan selamat beserta barangnya karena pada kenyataanya bis tak akan berhenti bila mereka ingin naik atau turun. Jadi mau nggak mau saat roda masih berputar mereka harus bisa naik dan turun bila tidak ada baiknya cari pekerjaan lain. Mereka sangat berbeda dengan pedagang lain, hal ini dikarenakan mereka langsung mengejar calon pembeli bukan seperti pedagang pada umumnya yang hanya menunggu dan menunggu pembeli. Kemacetan tentunya merupakan sebuah berkah tersendiri bagi mereka karena dengan situasi seperti ini memungkinkan para supir-supir dan juga penumpang akan membeli barang-barang mereka karena tak ada pilihan lain. Untung tentunya didapatkan lewat ketangkasan dan juga kesopanan pada para pembeli, tapi diatas semua itu keberanian dan tak pernah menyerahlah yang menjadi kunci utama. Berani mencoba kesetiap kesempatan tanpa peduli bahaya dan kegagalan. Begitu besar konsequensi yang mereka hadapi demi mendapatkan sebuah kepuasan. Sudah seharusnya memang mereka mendapatkan hal yang besar melihat perjuangan mereka yang besar pula tapi mereka memang mendapatkanya hal ini dibuktikan dengan menjamurnya keberadaan mereka. mereka ada dimana mana, disetiap jalan sejauh masih ada roda untuk umum yang berjalan yang hendak memindahkan satu manusia dari satu tempat ke tempat yang lain. Intinya setiap pekerjaan itu pasti ada resikonya, hanya dengan begitu kita memahami akan mahalnya harga dari sebuah perjuangan. salam perjuangan, sumber gambar

KONTEN MENARIK LAINNYA
x