Meita Eryanti
Meita Eryanti Apoteker | pemilik Chocomeeshop

Apoteker yang berusaha selalu bahagia dengan rutinitasnya dan senang bila bisa libur setiap hari sabtu. kalau ada yang ingin berbagi cerita tentang penggunaan obat, bisa kirim email ke meita.eryanti@gmail.com

Selanjutnya

Tutup

Kesehatan Artikel Utama

Mungkinkah Pengembangan Tanaman Obat untuk Penyakit Kanker?

11 Agustus 2018   08:24 Diperbarui: 11 Agustus 2018   15:20 558 8 4
Mungkinkah Pengembangan Tanaman Obat untuk Penyakit Kanker?
Sumber: www.jitunews.com

Menurut data Riset Kesehatan Dasar tahun 2013, prevalensi tumor atau kanker di Indonesia adalah 1,4 per 1.000 penduduk atau sekitar 347.000 orang. Itu yang terlacak. 

Menurut tirto.id, jumlah penderita kanker selama ini tidak diketahui pasti. Banyak dari mereka bersembunyi akibat ketidakmampuan biaya. Baru ketika BPJS Kesehatan dibuka dan menjamin pengobatan penyakit kanker, penderita kanker yang selama ini bersembunyi akhirnya muncul ke permukaan.

Berdasarkan data BPJS, beban biaya pengobatan kanker pada tahun 2014 mencapai Rp 1,5 Trilliun. Pada tahun 2015, meningkat menjadi Rp 2,2 trilliun. 

Pada tahun 2016, bertambah menjadi Rp 2,3 trilliun. Pada tahun 2017, hingga bulan September, biaya pengobatan penyakit kanker mencapai Rp 2,1 trilliun. Bisa jadi lebih dari 2,3 trilliun saat mencapai bulan Desember.

Beberapa waktu lalu, di elsevier.com, saya membaca sebuah artikel yang ditulis oleh mahasiswa IPB. Artikel yang dirilis Mei 2017 itu adalah laporan penelitian aktivitas triterpenoid, senyawa yang ada di dalam biji alpukat, terhadap sel kanker payudara MCF 7 dan sel kanker hati HepG2. Hasilnya, senyawa triterpenoid tersebut berpotensial untuk menjadi obat antikanker.

Ini sebuah harapan. Salah satu penyebab tingginya biaya pengobatan kanker adalah karena kita harus mengimpor obat-obat tersebut dari luar negeri. Walaupun di negara asalnya, obat-obatan antikanker memang sudah mahal. 

Menurut kompas.com, di Amerika Serikat dan di Jerman, pengobatan kanker membutuhkan biaya lebih dari 100 juta rupiah tiap bulannya. Bila kita bisa memproduksi sendiri obat kanker yang bahannya banyak ditemukan di sekitar kita, harga obat pun seharusnya bisa jauh lebih terjangkau.

Sebenarnya, banyak penelitian lain yang dilakukan untuk menguji suatu tanaman apakah memiliki aktivitas antikanker atau tidak. Misalnya, yang sempat booming adalah pengujian aktivitas antikanker daun sirsak. Ada juga pengujian aktivitas antikanker pada ekstrak daun jambu biji. Dan masih banyak lain pengujian aktivitas antikanker senyawa yang terdapat dalam tanaman yang tumbuh di Indonesia.

Sayangnya, penelitian-penelitian tersebut masih pengujian terhadap sel kanker ataupun hewan uji. Sampai saat ini, saya belum membaca pengembangan produk obat dari tanaman-tanaman yang memiliki aktivitas antikanker. Apalagi pengujian ektrak tanaman secara klinis pada manusia. 

Semoga lembaga penelitian kesehatan dalam negeri atau Puspiptek (Pusat Penelitian Ilmu Pengetahuan dan Teknologi) bisa mengumpulkan penelitian-penelitian yang sudah ada. Kemudian dibuat review terhadap penelitian yang ada dan membuat penelitian lanjutan supaya bisa dibuat produk yang bermanfaat.

Bukankah ini merupakan pembuka gerbang harapan bagi dunia kesehatan dalam melawan kanker?