Meita Eryanti
Meita Eryanti Apoteker | pemilik Chocomeeshop

Apoteker yang berusaha selalu bahagia dengan rutinitasnya dan senang bila bisa libur setiap hari sabtu. kalau ada yang ingin berbagi cerita tentang penggunaan obat, bisa kirim email ke meita.eryanti@gmail.com

Selanjutnya

Tutup

Ceritaramlan

Dibangunkan Sahur atau Tidak, Kita Tetap Berpuasa

5 Juni 2018   18:13 Diperbarui: 5 Juni 2018   18:25 271 1 1
Dibangunkan Sahur atau Tidak, Kita Tetap Berpuasa
http://www.nu.or.id

"Ibu mana, Pak?" tanyaku pada bapak yang sedang duduk di bale depan rumah seorang diri. Bapak tinggal di sebuah kampung di kabupaten Bekasi.

"Ibumu lagi di sawah," jawab bapak.

"Adek kuliah?" tanyaku lagi.

"Enggak," jawabnya. "Lagi tidur itu anaknya."

Aku melongok ke jam dinding yang terpasang di ruang tengah. Pukul 11 siang. Emang sih, kalau sedang berpuasa paling enak memang tidur sambil menunggu waktu berbuka.

Pukul 3 sore, adekku keluar dari kamarnya menuju kamar mandi.

"Baru bangun?" sapaku.

Adekku hanya tersenyum.

Kata suamiku, adek bila libur kuliah malam harinya akan begadangan. Dia mengikuti kegiatan tadarus di musola sampai tiba waktu sahur. Saat sahur, dia dan teman-temannya akan berkeliling kampung untuk membangunkan orang-orang. Adek baru pulang setelah solat subuh berjamaah.

Sepertinya seru.

Di rumah ayahku di Jogja, saat aku ke sana kemarin, tidak ada anak-anak atau remaja yang berkeliling kampung membangunkan orang sahur. Kegiatan sepertinya terpusat di masjid. Pukul 3.30 pagi, aku mendengar suara dari speaker masjid yang mengajak orang untuk bangun dan menunaikan sunah sahur.

Kurang ramai ya?

Tetanggaku juga merasa kan sepinya bulan Ramadan tahun ini.

"Biasanya rame, lho, orang bangunin sahur," kata tetanggaku. "Ini cuma orang bilang 'sahur... sahur...' dari speaker masjid. Pernah juga tuh kapan itu gak kedengeran orang bangunin sahur dari speaker masjid juga."

Yang jelas lebih sepi lagi adalah di rumahku di pusat kota Bekasi. Tidak ada suara apapun hingga masuk waktu imsak. Saat itu baru terdengar suara speaker masjid yang mengumumkan sudah masuk waktu imsak.

Aku dan suamiku bangun oleh suara alarm di ponsel kami. Kami yang tak punya TV, sahur dalam suara cerita kami sendiri. Dibanding suasana di rumah orang tua kami, nampaknya sahur kami lebih sederhana. Namun kami menikmatinya.

Kami sadar, puasa kami adalah milik kami sendiri. Tidak peduli di luar sana ramai orang yang membangunkan atau kami harus bangun sendiri, kami tetap akan bangun dari tidur malam kami dan menjalankan sahur untuk mengawali puasa kami.