Mutiara Me
Mutiara Me Mahasiswa kehidupan

Mahasiswa kehidupan yang sedang belajar menulis. interests: pendidikan, masyarakat dan wisata. *If you don't find anything pleasant, at least you find something new.*

Selanjutnya

Tutup

Humaniora Artikel Utama

Menyikapi Perbedaan Lintas Usia: Iri Wajar, Galau Jangan

20 Maret 2017   10:41 Diperbarui: 20 Maret 2017   20:25 477 9 3
Menyikapi Perbedaan Lintas Usia: Iri Wajar, Galau Jangan
Ilustrasi Karyawan (Foto: Pixabay - Werner Heiber)

Pernahkah merasakan adanya perbedaan cara pandang dan cara berpikir dengan orang-orang di sekitar kita karena perbedaan usia? Mungkin jawabannya iya, apalagi di dunia kerja saat generasi X, Y, Z berkumpul dan berkreasi. Seperti contohnya, ada yang sensi terhadap pencapaian seseorang karena iri dulu pada saat mereka muda tidak ada kesempatan yang begini dan begitu dan lain sebagainya. Meski itu semua seringnya untuk mencari-cari pembenaran atas ketidakberhasilan seseorang, namun bisa jadi ada faktor beda generasi di sana. 

Di tulisan ini generasi digambarkan dengan perbedaan 10 tahun, yaitu mereka yang pada saat membaca tulisan ini berusia 20an, 30an dan 40an. Bagaimana menyikapi persaingan dan perbedaan lintas usia ini? Sebelum menjawabnya kita perlu tahu perspektif masing-masing kelompok usia tersebut tentang kesempatan di masa kini.

photo credit: moneywonk in ytimg.com
photo credit: moneywonk in ytimg.com

- 40an melihat 30an

Ada terbersit rasa iri pada mereka usia 30an, karena di usia 40an kami seolah tidak bisa lagi banyak bermanuver. Sementara jaman dulu saat kami masih muda, kesempatan belum ada, baik itu karena keadaan politik, ekonomi ataupun karena belum gencarnya globalisasi, perkembangan komunikasi, teknologi, dan segala kemodernan untuk bisa bebas berkarya. Rasa iri itu biasanya jatuh ke mereka yang 10 tahun lebih muda, bukan yang 20 tahun di bawahnya. Karena yang terdekat beda usianya masih dirasakan sebagai "pesaing", sementara yang terpaut 20 tahun lebih seperti anak yang memang harus lebih. maju dari seniornya.

- 40an melihat 20an

Ada rasa iri, namun jauh lebih sedikit daripada ke 30an, karena jarak usia yang relatif jauh. 40an melihat pencapaian 20an sebagai suatu prestasi yang wajib diapresiasi karena mereka melihat generasi muda yang hebat menjadi patron untuk anak-anaknya kelak. Toh mereka juga tidak mungkin 'bersaing' dengan si 20an yang jelas masih kinyis-kinyis, sehat, bugar dan dengan jiwa yang menggelora. Sementara usia 40an sering sudah mulai merasakan keluhan-keluhan kesehatan. Di sini lah mereka merasa iri. 

- 30an melihat 40an

Generasi usia 30 an melihat 40an sebagai orang yang senior dan banyak pengalaman. Namun mereka melihat generasi 40an sering menunjukkan sikap iri terhadap si 30an. Mereka cenderung tidak mau atau menghindari mengakui keberhasilan generasi 30an. Mostly, tapi tidak semua tentunya. Namun generasi 40an terlihat sangat memberikan penghargaan terhadap generasi 20an atas pencapaian-pencapaiannya. Generasi 30an menangkap kesan iri di sini. 

- 30an melihat 20an

Ada rasa iri pada mereka yang berusia 20an, karena di usia 30an, prioritas utama kami masih membangun keluarga dan karir. Dengan kondisi saat ini banyak kesempatan ke luar negeri untuk sekolah ataupun kerja, generasi yang saat ini berusia 30an banyak yang tak bisa bergerak dibandingkan mereka generasi 20an, yang sedang dalam masa mekar-mekarnya. Meskipun banyak juga si usia 30an ini yang masih bisa merasakan harumnya kesempatan studi ke luar negeri, dibanding mereka di 40an, namun kami mengakui kalau kecepatan berpikir dan gesitnya tidak bisa secemerlang saat kami 20an, ditambah lagi kami banyak yang sudah menggendong buah hati.

- 20an melihat 40an

Generasi 20an melihat 40an adalah senior yang tujuan dan goalnya lebih spesifik. Di dunia kerja, mereka adalah orang-orang tempat mencari saran, pembelajaran dari pengalaman dan wisdom. Generasi 20an melihat 40an lebih matang dan terpercaya daripada mereka yang berusia 30an. 

- 20an melihat 30an

Mereka yang berusia 20an cenderung melihat senior 30an sebagai generasi yang ambisius, dengan 'keterbatasan' nya seperti keluarga dan karir, mereka nekat bersaing dengan generasi 20an. Generasi 30an memang lebih mature dari mereka, namun belum matang dan stabil. Sering mereka ingin dihormati namun sikapnya masih belum mencerminkan kedewasaan, seperti belum bisa move on dari 20an. Belum keluar wisdomnya. Sementara si usia 20an merasa ini jaman kami, harusnya kami dibimbing dengan pengalaman si 30an, jangan mereka lagi yang jadi super star... gantian lah. 

Apa Kesimpulannya?

Dari berbagai perspektif ini kita bisa bilang bahwa setiap generasi mempunyai uneg-unegnya sendiri, terutama mereka yang terpaut 10 tahun di atas setiap generasi. Ada rasa saling iri dan tersaingi apalagi melihat kondisi saat ini yang lebih menawarkan banyak kesempatan dibanding masa muda mereka dulu. Sementara kini, mereka tidak lagi sebebas merpati. Sementara mereka yang 10 tahun di bawah setiap generasi, selalu mengharapkan adanya sikap yang lebih memahami dari senior mereka, lewat bimbingan dan apresiasi. Selain itu, menurut saya, setiap kelompok usia sangat lah beruntung, dalam porsinya masing-masing: 

Generasi usia 20an saat ini adalah the rising star! Iya mereka beruntung sekali karena saat secara fisik mereka siap berkarya, mereka disambut dengan kemajuan jaman dan derasnya kesempatan untuk melalang buana, sesuatu yang masih sangat langka di tahun 80-90an. Namun jangan lupa secara mental dan spiritual mereka juga dituntut untuk lebih kuat agar tidak terbawa arus dan tergerus oleh banyak tantangan di dunia serba digital ini. Mereka juga dituntut untuk memiliki lebih banyak keunggulan untuk dapat bersaing di era global.

Usia 30an adalah generasi yang tidak kalah beruntung dengan 20an. Mereka merasakan transisi jaman, dari non-digital ke digital. Generasi transisi itulah mereka, yang bisa dibilang lebih beruntung dari generasi 40an ke atas. Keuntungan generasi ini adalah mereka 'hidup' bersandingan dengan generasi 20an yang berjiwa muda dan melek teknologi dan generasi 40an ke atas yang lebih dewasa dan bijaksana. Mereka telah merasakan indahnya masa kecil bermain tanpa gadget, tumbuh dengan lebih banyak privasi dibandingkan generasi 20an, namun juga tetap menikmati riuh-rendahnya perkembangan teknologi di masa kini.

Usia 40an ke atas adalah generasi yang lebih mengerti apa itu kebahagiaan hakiki, dengan lebih banyak privasi, sesuatu yang termahal saat ini. Mereka memiliki masa kecil dan masa muda yang riil, bahagia, tanpa banyak drama social media. Mereka mungkin tidak terlalu melek namun juga tidak gaptek. Mereka bisa melihat dengan bird-eye view generasi-generasi di bawah mereka yang sangat berbeda (baik itu positif ataupun negatif) dari jamannya, dan mengambil sisi positifnya untuk mendidik anak-anaknya.

Keirian kepada tiap generasi itu pasti ada, dan bisa jadi wajar. Namun setiap generasi nantinya akan berpindah posisi, dan merasakan bagaimana menjadi generasi yang lebih tua, ataupun memilih untuk lebih dewasa. Jika kita pahami siklus ini maka harusnya kita tidak jadi galau ataupun overthinking. Apalagi jika kita melihat banyak orang yang menemukan spin of career dan kesuksesan dalam hidupnya di usia yang tak lagi muda, contoh Vera Wang, Walt Disney, Harland Sanders, Martha Stewart, Ray Kroc dan masih banyak lagi (bisa di gugel untuk tahu bagaimana kisah hidup dan pencapaiannya). Tidak ada yang tidak mungkin. 

Pastinya tiap individu berbeda-beda tidak terkotak oleh umur dan generasi. Tulisan ini semata dibuat sebagai undangan agar kita tetap positif dan happy dimanapun range usia kita kini dan nanti.


Nagoya, 20 Maret 2017