Mohon tunggu...
Medha Zeli Elsita
Medha Zeli Elsita Mohon Tunggu... Living on the jetplane

Sedang menikmati perjalanan menjadi penulis paruh waktu

Selanjutnya

Tutup

Sosbud

Masjid Al-Muhajirin Prambanan Hadirkan "Dai Sabun" dalam Safari Dakwah

12 Maret 2019   10:24 Diperbarui: 12 Maret 2019   16:24 49 0 0 Mohon Tunggu...
Masjid Al-Muhajirin Prambanan Hadirkan "Dai Sabun" dalam Safari Dakwah
dokpri

Ribuan orang padati Masjid Al-Muhajirin Prambanan Sleman dalam "Safari Dakwah" Ustadz Fadlan Garamatan pada Minggu (10/3) malam. Acara yang digelar pukul 20.00-22.00 WIB ini dihadiri oleh warga sekitar, Lurah Bokoharjo, Camat Prambanan, Kapolsek Prambanan, Danramil, dan masyarakat umum.

Sukses menggelar Tabligh Akbar pada Juli 2018 lalu dengan pembicara Ustadz Tengku Dzulkarnaen, tahun ini Masjid Al-Muhajirin Prambanan kembali hadirkan dai fenomenal yang tekenal dengan julukannya yakni 'Ustadz Sabun'. Dai asal Nuu Waar (Papua) ini hadir dalam rangkaian dakwahnya di Yogyakarta untuk berbagi kisahnya dalam mengislamkan 3712 anggota suku di Irian.

Dengan gayanya yang khas, Ustadz Fadlan menceritakan bagaimana sejarah Islam tersebar di nusantara hingga menjadi salah satu agama tertua dan pertama di Papua. Menurut dai yang telah melakukan perjalanan dakwah lebih dari 30 tahun ini, agama Islam pertama kali dibawa ke Papua oleh Sultan Iskandar Syah dari Samudra Pasai.

"Tanggal 17 Juli 1204 Masehi, Sultan Iskandar Syah dari Kerajaan Samudra Pasai melakukan dakwah ke Malaysia, Solok, Filipina, turun ke Tidore, dan dari Tidore dia sampai ke Irian," ujarnya sambil menunjuk Peta Irian yang dipancarkan dari layar LCD proyektor.

 "Tanggal 5 Februari 1885 agama kristiani dibawa masuk Irian, tapi jauh sebelum itu agama islam sudah masuk terlebih dahulu," tambah Ustad Fadlan. Dalam satu kisah yang paling menarik, dai ini menceritakan bagaimana perjalanannya mengislamkan penduduk pedalaman dengan mandi menggunakan sabun dan memberikannya julukan 'Ustadz Sabun'.

Ustadz Fadlan melihat keprihatinan masyarakat pedalaman Papua yang memiliki kebiasaan membersihkan diri menggunakan minyak atau lemak babi. Tradisi ini diajarkan dan dibawa oleh kaum misionaris di jamannya dan diajarkan secara turun temurun. Tidak hanya itu, ternyata warga Papua juga dilarang memakai baju dan mandi menggunakan air bersih.

Dalam perjalanan dakwahnya di Tanah Papua Ustadz Fadlan selalu mengajarkan masyarakat disana untuk menyucikan diri dengan sabun dan air bersih. Decak kagum penduduk pedalaman Papua dengan hadirnya "sabun" dalam kegiatan dakwah Ustadz Fadlan, menjadikan mereka meyakini akan ajaran agama kebenaran yang dibawa oleh Sang Pendakwah.

jamaah-yang-hadir-jpg-5c873a9aab12ae65e434c7e2.jpg
jamaah-yang-hadir-jpg-5c873a9aab12ae65e434c7e2.jpg
            

Kesuksesan acara Safari Dakwah Ustadz Fadlan Garamatan di Masjid Al-Muhajirin Prambanan ini diharapkan dapat menambah semangat jamaah dalam mengikuti kegiatan keagamaan yang diselenggarakan secara berkala. Wahyu Supriyanto, salah satu Takmir Masjid Al-Muhajirin mengatakan tidak menyangka jika jamaah yang hadir mencapai seribu orang dari target 800 orang saja.

"Alhamdulillah kajian kali ini dihadiri setidaknya seribu orang dari target kami hanya 800 orang. Awalnya kami pesimis mengingat lokasi masjid kami yang berada di perbatasan Jogja-Klaten dan di dalam area pemukiman warga," ujar Wahyu.

Masjid Al-Muhajirin yang terletak di Ledoksari Bokoharjo Prambanan Sleman  ini memiliki keinginan menjadi salah satu penjuru masjid dalam kegiatan dakwah seperti Masjid Jogokaryan, Masjid Nurul Asri, dan Rumah Warna.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
VIDEO PILIHAN