Media

Analisis Novel Sang Pemimpi

20 Februari 2018   07:01 Diperbarui: 24 Februari 2018   00:01 564 0 0

MICHAEL FERNANDO FRABUN

XI-H

NOVEL SANG PEMIMPI

Kutu buku ya itu adalah sebutan yang tepat untuk penggemar baca yang tak disangka berhasil di hipnotis oleh sang anak muda yang terjun di meja sastra yah andrea hirata, adalah seorang penulis yang berhasil menerjunkan karyanya yaitu "sang pemimpi"

Di dalam novel ini mengandung Tema perjuangan dimana tema tentang perjuangan ini menunjukan 3 anak sekolah yg bekerja keras, ''aku merasa siksaan yang mengerikan ketika dua tubuh kuli ngmbat dengan berat tak kurang dari 130 kilo menindihku'' Di sini dintujukan bahwa tokoh ini menunjukan pejuangannya untuk membiayai sekolahnya. Selain tema juga ada tokoh dan penokohan dimana tokoh  yang di hadirkan sang penulis menunjukan bahwa watak sang pejuang, pemberani, pantang menyerah dan ugal-ugalan,'' lebih tidak masukakal lagi karena aku tahu dibalik para-para itu berdiri rumah turunan prajurit hupo, toinghoa paranoid karena riwayat perang saudara"Disini kita dapat menyimpulkan bahwa si tokoh ini menunjukann sifat yang baik dan lebih berwibawa.

Di sisi lain si penulis menghadirkan suatu alur yang mana  penulis mencoba untuk mencapurkan suatu alur dimana si penulis menjelaskan kehidupan sekarang dan menghadirkan masa lalu,"pengaruh yang jahat, seperti pengaruh yang timbul dari sepucuk senjata. Pak mustar menyandang semua julukan seram yang berhubungan dengan tata cara lama yang keras dalam penegakan disiplin". "ia salah satu perintis SMA di kampung kami yang sebelumnya kita harus ketanjung pandan 120 KM jauhnya" Di sini si penulis mau menunjukan alur yang pada zaman sekarang si tokoh itu dan mengulang kembali peristiwa di balik tokoh tersebut. 

Dengan alur yang telah di racik dengan latar yang dimana menunjukan lokasi, waktu, serta bagaimana hubungan social dengan yang lain, mulai dari latar tempat "setengah jam sebelum masuk pak mustar mengunci pagar sekolah"Di sini posisi ''pagar sekolah" menunjukan latar tempat bahwa si tokoh ini berada di sekolah,selain tempat sang penulis tidak lupa juga menghadirkan latar waktu"senin pagi ini kuanggap hari yang sial" Dari kata "pagi" di sini menunjukan waktu bahwa itu terjadi paada pagi hari,serta di hadirkan pula latar sosial dimana pengaruh lingkungan terhadap latar itu "aku gugup. Jantungku berayun-ayun seumpa punchbag yang di hantam beruntun seorang petinju. Berjingkat-jingkat di balik tumpukan es , kedua kakiku tak teguh,gemetar.bau ikan busuk yang merebak dari pei-peti amis, di rang yang asing ini, sirna dikalahkan rasa takut",di sini si penulis menunjukan sang tokoh yang kurang mampu ini bekerja di pelabuhan sebagai kuli ikan. Dan juga ada yang namanya sudut pandang, dalam novel ini sang penulis menghadirkan si tokoh sebagai orang pertama pelaku utama "aku menoleh cepat.dua puluh meter di depan teronggok reyot pabrik cincau dan para-para jemuran daun cincau"DI sini si tokoh menggunakan kata ''aku" berarti si tokoh merupakan pelaku utama.

Amanat dari novel ini yaitu tidak ada yang tidak mungkin selagi kita mau berusaha.