Khoirudin
Khoirudin Penjahit

Hanya orang biasa, tidak lebih dan tidak kurang

Selanjutnya

Tutup

Analisis Pilihan

Robot Tidak Ikhlas, Robot yang Sia-sia

16 Mei 2019   09:59 Diperbarui: 16 Mei 2019   10:23 1166 7 3
Robot Tidak Ikhlas, Robot yang Sia-sia
dokpri

Sejak kemarin, nama Hairul Anas, seorang alumni ITB mulai mengudara, pasalnya konon dia telah berhasil menciptakan robot yang bisa memantau situng KPU dari menit ke menit. Robot itu sangat canggih, berada di "planet mars" dan lebih ditakuti kubu 01 dari pada Malaikat. Robot ini disebut ROBOT TIDAK IKHLAS (RTI).

Kita tidak tahu dengan pasti bagaimana robot ciptaan Mas Anas ini bekerja akan tetapi kita bisa memperkirakannya dari keterangan beliau sendiri. Video di youtube berjudul "GEMPAR..!!! APLIKASI ROBOT PEMANTAU LEGITIMASI SITUNG KPU 2019 || PEMILU 2019" bisa kita gunakan sebagai referensi cara kerja Robot Tidak Ikhlas ini. Video itu merupakan rekaman dalam acara 'Membedah Kecurangan Pilpres 2019' di Hotel Sahid, Jakarta, pada hari Selasa tanggal 14 Mei 2019. Pada acara tersebut Hairul Anas membeberkan cara kerja robot pemantau situng KPU tersebut.

Kalimat pertama

Robot ciptaan Hairul Anas tersebut diklaim menyimpan bukti-bukti halaman KPU dari hasil screen monitoring tampilan situng KPU menit demi menit secara kontinu.

"Screen monitoring, inilah robot yang saya ciptakan. Ini adalah layar KPU yang saya potret dari menit ke menit. Mulai dari halaman nasional sampai halaman TPS," ujar Hairul Anas menunjukkan gambar bergerak hasil screen monitoring di depan Prabowo dan Sandiaga Uno.

Jika mengacu pada kalimat tersebut, artinya robot tersebut bekerja dengan cara melakukan screen shoot layar situng KPU dari menit ke menit. Lalu menyimpannya di sebuah server. Itu saja, tidak lebih dan tidak kurang.

Kalimat kedua

Kita lanjut ucapan mas anas "Dari Aceh, Bali.. ini urutan daerahnya berdasarkan abjad. Itu dari menit ke menit. Minta dari menit ke berapa pun, akan kami kasih gambarnya,"

Kalimat kedua juga menunjukan bahwa robot ini hanya mampu menunjukan gambar hasil capture / screen shoot dari menit ke menit. Hanya saja lebih detail, menggunakan basis wilayah.

Kalimat ketiga

Kita lanjut dengan kalimat berikutnya " "Jadi jangan khawatir, bila bapak ibu menemukan kecurangan. Di situ maupun di kenyataan, inilah yang disebut robot tidak ikhlas. Saya tidak ikhlas pak Prabowo Sandi dicuri suaranya."

Dari kalimat di atas, yang bisa menemukan kecurangan bukanlah si robot akan tetapi manusia. Jika pendukung prabowo menemukan kecurangan pada situng KPU maka si robot bisa menyediakan gambar pendukung.

Sebenarnya teknologi sebagai sebuah alat bersifat netral. Tidak mendukung siapapun, baik Prabowo maupun Jokowi. Jika tujuan pembuatan teknologi ini adalah untuk memantau kecurangan (baca kesalahan input) yang dilakukan oleh operator situng KPU makan robot ini sangat berguna. Akan tetapi jika tujuan pembuatan robot ini adalah untuk memenangkan prabowo-sandi, maka ini adalah teknologi yang sia-sia.

Ada beberapa alasan untuk pendapat di atas:

Pertama, mengacu pada kalimat yang diucapkan Mas Anas, robot itu hanya memotret menit demi menit layar situng KPU, bukan langsung mendeteksi jika ada kecurangan. Artinya untuk menemukan kecurangan, operator robot harus melihat gambar yang dihasilkan robot satu demi satu. Padahal jumlah gambar yang dihasilkan akan sangat banyak.

Beda dengan sistem notifikasi. Misalnya jika ada input angka yang tidak sesuai dengan form C1 maka muncul notifikasi kecurangan. Atau jika hasil perolehan paslon 01 dan paslon 02 tidak sesuai dengan jumlah akhir, maka robot akan langsung mendeteksi dan menghitungnya. Itu baru disebut robot pendeteksi kecurangan.

Kedua, robot buatan Mas Anas akan memiliki fungsi jika KPU melakukan kecurangan. Pertanyaannya, apakah sampai saat ini KPU memang melakukan kecurangan pada situng KPU? Sampai saat ini paslon 02 selalu menuduh hal tersebut akan tetapi belum bisa membuktikan.

Yang terjadi adalah salah input angka. Itu berbeda dengan kecurangan. Salah input angka terjadi karena faktor kelalaian operator selaku manusia. Dan itu terjadi untuk perolehan suara paslon 01 maupun paslon 02. KPU juga segera memperbaiki jika ada yang mendeteksi dan melaporkannya.

Ketiga, hasil akhir keputusan KPU bukan didapat dari situng KPU melainkan dari sidang pleno KPU yang dilakukan secara berjenjang. Mulai dari perhitungan di tingkat KPPS, PPK, Kabupaten, Propinsi hingga nasional. Rekapitulasi perhitungan suara yang dilakukan secara berjenjang tersebut dilakukan secara terbuka dengan dihadiri saksi dari seluruh paslon.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2