Mba Adhe Retno
Mba Adhe Retno Academic Suporting

Universitas Pancasila Jakarta http://retnohartati.8m.net

Selanjutnya

Tutup

Kesehatan Pilihan

Hari TBC Sedunia

24 Maret 2018   15:01 Diperbarui: 24 Maret 2018   15:55 225 2 0
Hari TBC Sedunia
Dokumentasi Wordpress Com


Catatan Sejarah

Tidak diketahu dengan pasti, sejak kapan manusia menyadari tentang penyakit tuberkulosis atau TBC. Penyakit tuberculosis, selanjutnya TBC, menurut sejumlah besar pakar kedokteran, telah hadir pada manusia sejak puluhan ribu tahun lalu. TBC, awalnya terdeteksi pada fosil bison yang berumur sekitar 17.000 tahun.  Diterangai, TBC kemudian tertransfer ke sapi, kemudian, dari sapi ke manusia. Tahun 460 SM, Hippocrates menyebut bahwa penyakit yang menyerang paru-paru sebagai penyakit yang paling luas yang ditandai dengan batuk darah dan demam, yang hampir selalu fatal.

Sampai abad 19, dunia kedokteran, belum berhasil menemukan virus atau basil penyebab TBC. Adalh Dr Robert Koch, yang abdikan diri untuk memberantas TBC. Robert Koch, yang dokter, juga seorang humanis, yang mempunyai perhatian  besar pada kesehatanan masyarakat, lingkungan, dan humaniora. Ia melihat bahwa, TBC, pada masa itu, adalah penyakit yang didap seseroang, namun dengan cepat bisa menyerang sesamanya, sehingga menjadi ancaman terhadap public. Karen itu, TBC harus dihentikan, jika tidak maka komunitas manusia akan lenyap.

Pengabdian Robert Koch terhadap pemberantas TBC tersebut, pada tanggal 24 Maret 1882, ia menermukan basil penyebab tuberculosis yaritu Mycobacterium Tuberculosis. [Note: Penemuan ini menjadikan Robert Koch menerima Penghargaan Nobel untuk bidang Fisiologi atau Kedokteran pada tahun 1905]. Pada perkembangan berikutnya, para ahli kedokteran dari berhasil mengembangkan vaksi BCG pada tahun 1906. Vaksin BCG atau Bacillus Calmette dan Guerin (sesuai nama para penemunya) sebagai tindak preventif agatr manusia tidak terjangkit TBC atau Anti TBC. Vaksin BCG pertama kali digunakan pada manusia pada tahun 1921 di Perancis, kemudian merata di Eropa, dan di Amerika Serikat.

Tanggal penemuan virus Mycobacterium Tuberculosis itulah yang menjadi dasar penetapan HAri TBC Sedunia atau Hari Tuberkulosis Sedunia pada setiap 24 Maret. Hari TBB Sedunia diiperingati sebagai upaya membangun kesadaran umum tentang wabahTuberkulosis serta usaha-usaha untuk mengurangi penyebaran wabah TBC.

SUMBER MAR

Penderita TBC (Mungkin) Ada di Sekitar Kita

Bakteri penyebab TBC, Mycobacterium Tuberculosis, menyebar ketika penderita TB mengeluarkan dahak atau cairan liur dari mulutnya yang berisi kuman tersebut ke udara, misalnya saat batuk, bersin, berbicara, bernyanyi, meludah, atau bahkan tertawa, dan kemudian dihirup oleh orang lain di sekitarnya.

Jadinya, kita atau setiap orang di antara kita, semua umur, bisa atau berpotensi tertular TBC. Apalagi, jika pada saat daya tahan tubuh lemah (misalnya sementara sakit) dan di sekitar (kita) ada penderita TBC (atau pembawa virus TBC), namun ia tak menyadari bahwa dirinya menderita TBC.

Salah satu faktor penentu seseorang bisa tertular TBC atau tidak adalah seberapa kuat sistem imun tubuhnya dan kebersihan dirinya. 

Semakin kuat daya tahan tubuh Anda, semakin kecil kemungkinannya untuk tertular TB. Orang-orang yang sistem kekebalan tubuhnya lemah cenderung lebih mudah terinfeksi. Itu sebabnya anak-anak, lansia, orang dengan HIV atau AIDS, penderita kanker, diabetes, ginjal, berisiko lebih tinggi terinfeksi TBC.

Di samping itu, seringkali, pada orang-orang dari kelompok msyarakat atau komunitas yang kurang memperhatikan kesehatan diri sendiri, misalnya di Indonesia, jika penyakitnya belum parah (sehingga tergelatak di ranjang), mereka tidak ke dokter atau minum obat. Sama halnya dengan penderita TBC, seringkali dianggap sebagai flubiasa atau penyakit ringan lainnya.

Oleh sebab itu, perlu memperhatikan beberapa gejal dan tanda, mungkin saja merupakan akibat serangan virus TBC. Gejala dan tanda-tanda tersebut antara lain,

  • Batuk disertai dahak. Batuk berdahak yang terjadi dalam kurun waktu yang lama untuk kembali sembuh, umumnya lebih dari tiga minggu.
  • Batuk berdarah. Ini yang paling sering terjadi, sebab sudah tersebar pada paru-paru dan menyebabkan infeksi.
  • Nyeri di dada, ketika bernafas. Terjadi karena paru-paru yang sudah terinfeksi, sehingga geraknya lemah atau tidak normal pada waktu proses pernafasan
  • Demam dan menggigil. Demam dan disertai menggigil, diikuti batuk yang terus-menerus.
  • Nafsu makan menurun. Virus Mycobacterium Tuberculosis memicu penolakkan terhadap nafsu makan.
  • Penurunan berat badan. Akibat dari menurunnya nafsu makan, penderita TBC mengalami penurunan berat badan yang drastic
  • Infeksi pada bagian tulang. Terjadi karena virus Mycobacterium Tuberculosis sudah menyerang anggota tubuh lain, termasuk tulang.
  • Urin keruh atau berwarna merah. Terjadi karena Mycobacterium Tuberculosis sudah menyerang ginjal
  • Lelah dan lemah
  • Kejang-kejang
  • Keringat berlebih saat malam hari
  • Muncul benjolan yang semakin membesar pada tubuh


Gaya Hidup agar Tidak Tertular TBC

Sekali lagi, saya setuju dengan pendapat banyak orang, bahwa gaya hidup (masing-masing) sehat bisa berdampak pada terjaga atau terhindar dari serangan penyakit. Dan, sebaliknya, gaya hidup tidak teratur, memudahkan seseorang tertular berbagai penyakit. Hal tersebut dengan TBC. Seseorang bisa (dengan mudah) tertular TBC, jika tidak menjaga dirinya dari hal-hal yang bisa 'menolak' penyakit tersebut. Upaya agar terhindar dari TBC, bisa dilakukan oleh siapa pun, mudah dan harus terbiasa untuk itu. Misalnya

  • Vaksin BCG. Biasanya dilakukan pada masa balita. Namun, tidak salah, jika orang dewasa pun lakukan (ulang); apalagi jika ada kepastian bahwa kita pernah berdekatan (secara sengaja atau tidak) dengan penderita TB yan tidak berobat. Anak-anak serta orang dengan kondisi daya tahan tubuh lemah wajib melakukan vaksinasi Bacille Calmette-Guerin (BCG); juga unntuk mereka yang ingin bepergian ke daerah endemis yang tingkat penularannya masih tinggi.
  • Sebisa mungkin, memberi saran atau masukan kepada orang (atau teman, saudara, dan lain-lain) yang dari tanda-tandanya, ia mengidap TBC, agar melakukan pengobatan.
  • Jika ia (no 2, di atas), menolak dan tidak mau, maka berani menghindar atau tak berinteraksi dengannya. Ini pilihan terbaik. Seseorang penderita TB aktif dan harus menjalani pengobatan biasanya akan diisolasi selama kurang lebih 2 minggu. Kontak langsung harus dibatasi selama masa tersebut, sebab risiko penularan masih cukup tinggi.
  • Terbiasa di ruang terbuka dan langsung terkena sinar Matahari. Sebab kuman penyebab TB umumnya tidak ndapat bertahan hidup di udara bebas selama satu sampai dua jam. Tapi, pada kondisi gelap, lembap, dan dingin, kuman TB dapat bertahan berhari-hari hingga berbulan-bulan. Bakteri TB bisa langsung mati jika terpapar oleh sinar matahari langsung.
  • Makan makanan bergizi. TB adalah penyakit menular yang sebenarnya sangat sulit menular. Infeksi atau penularan hanya terjadi pada kondisi daya tahan tubuh yang lemah, sehingga makanan bergizi dan paparan sinar matahari akan sangat membantu mencegah penularan.


Lalu?

Pada hari ini, 24 Maret 2018, sebetulnya perlu menjadi perhatian dari segenap lapisan masyarakat dan kalangan yang peduli terhadap cara hidup dan kehidupan sehat; termasuk perhatian kepada masyarakat agar terhindar dari TBC. Sayangnya, gong dan gaung Hari TBC Sedunia tak terdengar hingga jauh ke mana-mana.  Apa boleh buat.

Tugas kita adalah sampaikan kepada semua, agar mereka terhindar dari TBC.

Akhir kata, LIHAT Video ini



MAR-JAKARTA SELATAN