Mba Adhe Retno
Mba Adhe Retno Academic Suporting

Universitas Pancasila Jakarta http://retnohartati.8m.net

Selanjutnya

Tutup

Humaniora

Generasi yang (Tidak) Kehilangan Orientasi

1 Maret 2018   08:03 Diperbarui: 6 Maret 2018   10:14 291 2 0
Generasi yang (Tidak) Kehilangan Orientasi
Dokumentasi Kaskus.co.id

Pagi tadi, ketika berangkat ke Kantor, di Angkutan Umum, terdengar percakapan dari beberapa siswi SMA yang duduk di depan saya; topiknya seputar pakaian, seragam, mall, film dan lain. Di antara ramainya mereka, ada seseorang di antaranya, yang terlihat diam dan memperhatikan teman-temannya, tiba-tiba ia berkata, "Lue-lue orang orientasi masa depannya apa sich, kok pada ngobrol itu-itu aja." Teman-teman lainnya pun langsung ;' menyabar, "Gue pengen jadi dokter;" Gue pengen jadi Polwan." "Gue pengen jadi ister yang baik-baik;" "Gue pengen jadi menantu Anies Baswedan;" "Gue pengen jadi dosen," dan seterusnya. Saya pun menedengar sambil senyum dalam hati. Pengennya terus mendengar mereka, tapi angkot sudah tiba di depan Kampus.

Itulah percakapan dan ramainya ABG atau pun remaja kekinian; semua hal bisa menjadi topik percakpan mereka. Saya terkesan dengan remaja putri yang di angkot, dengan kata-katanya, "Lue-lue orang orientasi masa depannya apa sich." Ya, masih adakah orientasi masa depan pada remaja kekinian atau zaman now ini? Lalu, apa sich orientasi tersebut?

Orientasi yaitu tujuan [dan bertindak sesuai tujuan tersebut] yang hendak dicapai oleh seseorang, kelompok, serta kumpulan atau organisasi. Jadi, orientasi lebih luas dari sekedar tujuan [dan juga bukan tujuan akhir], karena menyangkut keseluruhan tindakan, sikap, usaha, serta berhubungan erat dengan misi dan visi yang akan [hendak] dicapai. Sedangkan, disorientasi berarti kehilangan orientasinya atau sudak tidak mempunyai orientasi. Secara sederhana, disorientasi adalah kehilangan orientasi. Disorientasi merupakan penyimpangan dari misi dan visi semula; penyimpangan yang terus menerus terjadi, dan tidak pernah ataupun sulit untuk diperbaiki, ataupun berusaha agar menjadi normal.

Orientasi dan disorientasi bagaikan dua sisi mata uang yang saling berkaitan satu sama lain. Perubahan oreintasi menjadi disorintasi dan sebaliknya dapat saja berlangsung dengan cepat serta tak terduga ataupun terencana. Dan ada banyak faktor yang mendorong sehingga terjadi perubahan tersebut.

[Lengkapnya ada di Situs Saya https://retnohartati.8m.net]

Percakapan di angkutan umum tersebut, dan ditambah dengan ingatan saya ketika berinteraksi dengan mahasiswa, maka saya menolak pendapat bahwa sebagian besar anak, abg, remaja putra/i pada masa kini (katakanlan sebagai zaman now) tidak memiliki atau tak mempunyai orientasi masa depan atau bahkan sebagai remaja yang cenderung disorientasi. Mereka masih mempunyai orientasi, memiliki cita-cita, ada harapan masa depan; apa pun bentuknya.

Dengan demikian, walaupun pada konteks kekinian, ada banyak faktor mendorong gaya hidup gemerlapan; misalnya akibat mudahnya arus informasi dan komunikasi karena kemajuan tekhnologi informasi [TI]. Dan seringkali informasi yang mencapai [yang masuk ke dalam] suatu komunitas masyarakat, diterima apa adanya; kemudian dipakai sebagai bagian dari gaya hidup.  

Sehingga mereka dipengaruhi dan terpengaruh, meniru serta mempraktekkannya pada konteks hidup dan kehidupannya. Walaupun, seringkali apa yang ditiru dan dipraktekan tersebut tidak sesuai dengan sikon sosial-budaya setempat atau lokal. Masih sangat banyak anak-anak kita, remaja kita, generasi sekarang yang mampu menjaga diri sehingga tidak mengalami disorientasi.

Mereka yang seperti itu, pada masa depan, mungkin sebagai pemimpin serta pemuka bangsa. Jadi, tugas kita adalah membuka jalan dan mendampingi mereka agar bisa meraih masa depan sesuai dengan cita-citanya.

Upaya itu, bisa dilakukan dengan berbagai cara, misalnya pendidikan (formal dan informal), pendampingan, dan utamanya adalah 'selalu ada ketika mereka membutuhkan.'


Mba Adhe Retno | Universitas Pancasila