Mohon tunggu...
Maya Lestari
Maya Lestari Mohon Tunggu... Pelajar Sekolah - Pelajar SMA

Manusia penuh pertanyaan

Selanjutnya

Tutup

Diary Pilihan

Aku Tidak Lebih Baik dari Temanku

5 Desember 2022   19:47 Diperbarui: 5 Desember 2022   20:03 94
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Diary. Sumber ilustrasi: PEXELS/Markus Winkler

Hari ini aku selesai membaca dua buku. Buku yang aku selesaikan dengan terburu-buru, karena besok harus dikembalikan lagi ke pemiliknya. Sedikit menyesal memang, kenapa aku tidak menyelesaikan buku itu lebih awal. Aku membacanya cepat-cepat, menuntaskannya segera dan berharap mendapatkan ilmu dari apa yang telah aku baca. Sedikit ragu kalau tidak semuanya akan terserap, tapi tidak apa setidaknya aku telah membacanya. Meski sedikit mungkin memang kedepannya apa yang kubaca, ilmu ini akan berguna.

Beberapa yang telah aku dapatkan dari kedua buku itu, aku akan menuliskannya disini. Sebagai pengingat dan merangkum tentang apa yang aku dapatkan dari kegiatan membaca ini. Ada satu topik yang sama-sama kedua buku ini ambil, yaitu tentang kita tidak perlu mengambil jalan seperti apa yang diambil oleh orang lain. Kamu punya jalan sendiri, meski halnya memang terlambat kamu tidak perlu merasa terlalu terburu-buru. Toh, ini adalah jalanmu sendiri. Apa pentingnya mengikuti standar yang telah ditetapkan oleh orang lain. Topik ini mendapatkan tempat dalam pikiranku, karena aku pun memang pernah merasakannya sendiri.

Boleh aku bercerita tentang diriku? Sejak kecil, aku memiliki ketertarikan dalam bidang menggambar. Aku senang mencoret-coretkan belakang bukuku dengan potret seorang gadis cantik. Mungkin saking seringnya, tidak ada satupun dari belakang bukuku yang terbebas dari coretan-coretan itu. Aku memang menyukai menggambar sebegitunya, meski yang kugambar tetaplah sama. Seorang gadis cantik tapi hanya potret mukanya saja. Hingga suatu ketika aku ingin serius dalam menggambar, aku ingin belajar lebih. Bukan hanya sekedar coretan tidak jelas belaka, juga bukan hanya puas dengan menggambar wajah dari seorang gadis saja. Aku ingin mengasah minatku.

Namun, dalam prosesnya ternyta memang gidak semudah yanga kau bayangkan. Hingga suatu ketika aku menemukan seseorang yang lebih pandai daripada aku, dalam bidang yang aku sukai yaitu menggambar. Aku merasa rendah diri, kepercayan diriku runtuh seketika karena karyaku memang tidak ada apa-apanya dibandingkan dengannya. Dan dia adalah temanku sendiri. Aku merasa tertinggal, aku merasa apa yang aku lakukan adalah kesia-siaan. Dan ya, aku menyalahkan diriku sendiri mengapa aku begitu tidak berbakat seperti dirinya?

Namun ternyata aku keliru, bukan salahku kalau aku tidak memiliki bakat yang luar biasa. Juga bukan salah siapa-siapa. Temanku yang memiliki kemampuan gambar yang lebih dariku pun, mungkin bukan hanya mengandalkan bakat. Ketika dia bercerita ketika awalnya aku yang bertanya. Dia mengatakan kalau dia memang belajar dari lama, lebih awal daripada aku yang baru anak kemarin sore. Bertahun-tahun bukanlah waktu yang sebentar. Temanku memang berbakat, namun bukan itu kuncinya. Itu karena dia telah memulainya sedari awal, dan terus melatihnya.

Setelah aku mengetahu hal itu, kekhawatiranku berganti. Pikiranku sekarang dipenuhi oleh pikiran menyalahkan diriku sendiri. Kenapa tidak sedari awal? Mengapa baru sekarang? Aku tertinggal, dan aku merasa aku harus berlari untuk mengejarnya, mengejar titik yang telah ia dapat. Bukankah itu adalah pikiran yang salah? Beberapa waktu kemudian aku menyadari ada yang salah dengan itu, meski aku masih tetap memikirkan pemikiran yang sama. Akibatnya? Aku merasa lelah sendiri. 

Mengapa aku harus berlari disaat aku bisa berjalan pelan-pelan sambil menikmati prosesnya? Mengapa aku terus berlari padahal tidak ada yang mengejar? Bertemu dengan dua buku ini membuatku yakin, aku harus menghentikan pemikiran-pemikiran itu sekarang dan menikmati proses dari setiap jalanku sendiri, aku mencoba berdamai dengan diriku sendiri.

Tidak apa. Meski kamu merasa orang lain lebih hebat dari kamu, tetaplah berusaha keras dari setiap usaha yang kamu lakukan. Dengan tidak membandingkan jalanmu dengan jalan yang dilalui orang lain. Pada kenyataannya kamu tidak tertinggal, karena tertinggal dari siapa? Bukan orang lain yang menjadi tolak ukurnya, tapi dirimu sendiri.

Mari kita berproses, sambil melangkah kedepan kamu dan aku juga bisa melihat sekeliling dan menikmati proses dari perjalanan yang tempuh. Tak perlu membandingkan, jadilah versi terbaik dari dirimu sendiri.

(5 Desember 2022)

Mohon tunggu...

Lihat Konten Diary Selengkapnya
Lihat Diary Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!

Video Pilihan

LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun