Mawan Sidarta
Mawan Sidarta wiraswasta, S1-Agronomi UNEJ

Bukan reporter sembarang reporter tapi reporter Kompasianadotcom. Traveler berwarna. Sudah menikah punya satu anak. Sekarang usaha kecil-kecilan di rumah. Bravo Kompasiana https://www.instagram.com/mawansidarta https://www.facebook.com/mawan.sidarta https://twitter.com/MawanSidarta1

Selanjutnya

Tutup

Humor Pilihan

Dapat Job Motret, Sayangnya Salah "Sasaran"

11 Oktober 2018   14:18 Diperbarui: 11 Oktober 2018   15:16 718 1 1
Dapat Job Motret, Sayangnya Salah "Sasaran"
Akad nikah (dok.pri)

Kita semua umumnya sepakat dan meyakini kalau pernikahan itu merupakan prosesi atau momen yang sakral. Masih segar di ingatan saya, apa yang pernah disampaikan oleh Mario "the golden ways" Teguh saat tampil di sebuah stasiun TV swasta beberapa tahun silam. Beliau mengatakan yang intinya : sepasang muda-mudi yang saling menyatakan cintanya tidak membutuhkan dana (biaya) yang besar, bahkan nggak pake bayar. "Lha wong cuma menyatakan cinta saja kok pake bayar" papar motivator setengah plontos itu.

"Baru ketika pasangan muda-mudi tadi memutuskan untuk melanjutkan hubungan ke jenjang yang lebih serius misalnya dengan mengikatkan diri dalam sebuah tali perkawinan (pernikahan) konsekuensinya ya harus menafkai, satu sama lain sudah tidak bebas lagi seperti saat belum menikah dan konsekuensi lainnya" jelentreh motivator asal Kota Malang itu.

Membujang atau kalau meminjam istilah muda-mudi zaman now ialah berstatus sebagai jomblowan dan jomblowati he..he..sepintas memang enak, bebas dan nggak ada beban finansial karena tidak menafkai. 

Namun ketahuilah bahwa menikah adalah ibadah yang sangat dianjurkan dalam Islam karena terdapat banyak sekali manfaat di dalamnya (1). 

Meski dianjurkan namun ketika memutuskan untuk menikah tetap saja ada aturan atau pedoman yang harus dijalankan, bila belum mampu secara lahir dan batin maka kata Rasulullah berpuasalah. Karena dengan berpuasa akan mencegah seseorang dari syahwat (perzinahan).

Mengabadikan momen pernikahan

Mungkin karena dianggap sakral itu sehingga acara (momen) pernikahan wajib untuk diabadikan meski dengan upacara (perayaan) yang seadanya. Tak ketinggalan dokumentasi juga dilakukan sebagai kenang-kenangan pribadi, anak-cucu kelak atau siapa saja yang mungkin membutuhkan dokumentasi tersebut.

Kini hampir setiap orang sudah sangat familiar dengan handphone atau smartphone lengkap dengan kamera dan saluran internet untuk menemani keseharian mereka. 

Dalam kondisi yang sangat sederhana cukup dengan kamera smartphone pasangan yang menikah tadi bisa dengan mudah mendokumentasikan acara akad nikah dan resepsi perkawinan mereka. Bila ada budget berlebih bisa saja memanggil jasa fotografer profesional.

Salah motret, prosesi akad nikah nggak jadi terdokumentasikan

Berjanji sehidup semati (dok.pri)
Berjanji sehidup semati (dok.pri)
Masih ada kaitannya dengan momen pernikahan. Belum lama ini saya mendapatkan tawaran untuk memotret (mendokumentasikan) prosesi akad nikah dua mempelai di Kantor Urusan Agama (KUA) yang ada di Kecamatan Driyorejo, Gresik - Jawa Timur.

Teman yang ngasih job motret tadi sudah wanti-wanti kalau saya harus datang ke KUA tepat pada Hari Jumat jam 13.00 siang sehabis menunaikan ibadah Sholat Jumat. 

Sebenarnya kawan yang ngasih job tadi juga sudah menginformasikan kalau kedua mempelai yang hendak menikah itu bernama Si A dan Si B namun kalimat yang berulang kali ia katakan dan sempat termemori di otak saya justru pernyataannya yang berbunyi "ojo lali yo engko jam siji awan, mari Jumatan (jangan lupa ya nanti jam satu siang usai Sholat Jumat, red)".

Tanpa ba bi bu sayapun langsung meluncur ke KUA Kecamatan Driyorejo - Gresik. Setelah bertanya seperlunya kepada petugas di sana dan sempat menunggu tak terlalu lama, tepat pukul 13.00 WIB (jam satu siang) dua atau tiga orang petugas terlihat memasuki ruangan khusus tempat mereka biasa menikahkan orang. 

"Ada yang mau nikah pak", tanyaku dengan nada lirih. Lalu satu di antara para petugas KUA tadi langsung membalas "benar mas".

Sayapun tak banyak pikir langsung saja jeprat-jepret dengan kamera DSLR layaknya tukang foto profesional saja.

Anehnya kedua mempelai yang sedang dinikahkan tepat Hari Jumat jam satu siang itu juga tidak menunjukkan rasa curiga sama sekali dengan kehadiran saya sebagai fotografer yang tak mereka undang.

Pasangan mempelai yang boleh dibilang sudah tidak muda lagi itu juga menampakkan ekspresi yang wajar-wajar saja. Mungkin mereka menyangka kalau saya ini seorang wartawan yang sedang meliput berita pernikahan atau liputan khusus. 

Bagi para petugas KUA jelas tidak mengundang kecurigaan sama sekali. Mereka mengira kalau saya ini fotografer yang sengaja disewa untuk mengabadikan momen acara akad nikah pasangan itu.

Sesuai perintah kawan, cukup 20 atau 25 jepretan saja yang menampilkan tahapan prosesi seperti layaknya pasangan mempelai yang sedang akad nikah.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2