Mawan Sidarta
Mawan Sidarta wiraswasta, Lulusan S1-Agronomi UNEJ

Bukan reporter sembarang reporter tapi reporter Kompasianadotcom. Traveler berwarna. Sudah menikah punya satu anak. Sekarang usaha kecil-kecilan di rumah. Bravo Kompasiana https://www.instagram.com/mawansidarta https://www.facebook.com/mawan.sidarta https://twitter.com/MawanSidarta1

Selanjutnya

Tutup

Lingkungan Artikel Utama

LPG Langka, Belajarlah Kearifan dari Desa

1 September 2018   12:08 Diperbarui: 1 September 2018   17:35 1738 6 7
LPG Langka, Belajarlah Kearifan dari Desa
Memasak dengan tungku berisi kayu bakar dan sabut kelapa ala masyarakat pedesaan (dok.pri)

Sudah seminggu belakangan ini warga Perumahan Sumput Asri Driyorejo, Gresik -- Jatim dibuat kalang kabut oleh ulah LPG (baca elpiji). 

Lho kok bisa LPG berulah? LPGnya memang tidak akan pernah bikin ulah alias pasrah bongkokan, yang bikin ulah pasti mahluk yang bernama manusia. 

Belum begitu jelas mengapa bahan bakar yang punya kepanjangan Liquified Petroleum Gas itu sempat menghilang dari peredaran di dalam kompleks perumahan, termasuk beberapa desa yang ada di sekitarnya.

Seperti Kita ketahui bersama, LPG merupakan bahan bakar yang sangat dibutuhkan oleh masyarakat Indonesia dari berbagai lapisan. 

Masyarakat yang tergolong mampu atau kurang mampu bahkan miskin sekalipun, baik yang tinggal di pedesaan maupun perkotaan kini menjadikan LPG sebagai kebutuhan pokok, seperti halnya sembilan bahan pokok (sembako).

Di tengah-tengah masyarakat  memang masih kita temukan bahan bakar lain seperti blue gas, briket arang (batok kelapa) atau briket batu bara dan saluran gas melalui pipa Perusahaan Gas Negara (PGN). 

Namun sementara ini LPG (3 kg) yang nota bene disubsidi pemerintah itu masih menjadi bahan bakar pilihan utama karena harganya yang relatif terjangkau oleh masyarakat kalangan bawah.

Bila dibandingkan, katanya sih memasak dengan menggunakan gas LPG dalam tabung akan lebih cepat matang ketimbang menggunakan produk lainnya seperti blue gas dalam tabung untuk volume makanan yang sama.

Dari sisi safety (keselamatan) blue gas memang lebih lembut daya bakarnya sekaligus aman. Sementara daya bakar gas LPG lebih kuat dan bersifat flameable - explosive (mudah terbakar dan meledak) kalau teledor menggunakannya.

Dengan semakin langkanya LPG karena pasokan yang tersendat-sendat menyebabkan banyak warga di perumahan menjadi gelisah terutama kaum emak-emak

Sesuai teori ekonomi, harga barang akan melambung karena permintaan jauh lebih besar dari ketersediaan barang. Atau sesuai dengan konsep supply and demand (permintaan dan penawaran). 

Akibatnya harga gas LPG tabung 3 kilogram yang biasanya Rp. 18.000,- kini menjadi Rp. 20.000,- pertabungnya, bahkan lebih.

Belajar dari kearifan di desa

Mungkin ada yang belum pernah tahu seperti apa sabut kelapa itu (dok.pri)
Mungkin ada yang belum pernah tahu seperti apa sabut kelapa itu (dok.pri)
Masyarakat Indonesia terutama yang tinggal di kompleks perumahan sudah sangat tergantung dengan gas LPG lengkap dengan kompor gasnya sebagai perangkat untuk memasak. 

Mereka sudah terbiasa memasak dengan cara yang praktis dan nggak ribet. Sekali tekan pemantik lalu joss.., keluarlah api yang siap mendidihkan air atau mematangkan masakan. 

Setelah dimanfaatkan airnya untuk minuman yang menyegarkan sekaligus memulihkan stamina, batok dan sabut kelapa muda tadi bisa dijadikan bahan bakar (dok.pri)
Setelah dimanfaatkan airnya untuk minuman yang menyegarkan sekaligus memulihkan stamina, batok dan sabut kelapa muda tadi bisa dijadikan bahan bakar (dok.pri)
Dengan langkanya pasokan LPG tak bisa dipungkiri emak-emak menjadi panik dan pontang-panting kesana-kemari hanya untuk berburu LPG. Pada akhirnya memang bisa mendapatkan LPG tapi dengan harga yang jauh lebih mahal dari sebelumnya. 

Bagi mereka yang hidup di desa atau di manapun yang mungkin saja terbiasa menggunakan bahan bakar selain gas untuk memasak, tentu tidak terlalu pusing dan panik akibat langkanya LPG tadi. Bahkan mereka merasa tenang-tenang saja. 

Mereka terutama penduduk di daerah pedesaan di mana hampir setiap rumah menggunakan tungku untuk menyalakan api dari ranting atau potongan kayu bakar toh tetap bisa memasak untuk kebutuhan makan mereka sehari-hari.

Menggunakan briket arang atau batu bara dan kayu bakar untuk memasak memang nggak efektif karena harus menyalakan briket atau kayu bakar terlebih dulu. Sangat berbeda dengan teknologi kompor gas yang lebih efisien.

Memanfaatkan air kelapa baru kemudian batok dan sabutnya (dok.pri)
Memanfaatkan air kelapa baru kemudian batok dan sabutnya (dok.pri)
Meski dianggap ribet dan ndesani toh sebagian warga Indonesia terutama yang hidup di desa sangat terbiasa dengan tungku dan kayu bakarnya untuk keperluan memasak mereka. 

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2