Mohon tunggu...
Mawalu
Mawalu Mohon Tunggu...

Mawalu

Selanjutnya

Tutup

Politik Pilihan

Pemindahan Ibukota Negara ke Palangkaraya, Strategi Jokowi Mengatasi Radikalisme

10 April 2017   21:14 Diperbarui: 15 April 2017   11:44 6326 22 7 Mohon Tunggu...

Rencana pemindahan ibu kota negara dari Jakarta kini bergulir lagi. Presiden Jokowi telah memerintahkan jajaran dan Kementerian terkait untuk melakukan survey, studi kelayakan dan hal-hal lainnya untuk memindahkan ibukota negara dari Jakarta ke Palangkaraya, Kalimantan Tengah.

Jakarta yang lahir pada tanggal 22 Juni 1527 yang silam dulu awalnya adalah kota dagang Batavia. Seiring dengan perkembangan jaman yang semakin maju dibidang ilmu pengetahuan dan tekhnologi, dan menjadi ibukota negara Indonesia, Jakarta pun berkembang pesat tak terkendali.

Dulu Batavia dibangun Belanda bersamaan waktunya Belanda membangun New York. Batavia dan New York dibangun Belanda dengan pola pembangunan yang sama, mengutamakan sistem pengairan dan irigasi.

Setelah New York direbut Inggris dari tangan Belanda, hanya Batavia yang masih dipertahankan oleh Belanda hingga 350 tahun lamanya. Jika Anda melangkahkan kaki menyusuri jejak-jejak kebesaran Belanda di masa lalu, daerah Kota Tua di Jakarta Utara adalah saksi bisu masa kejayaan Belanda di Batavia dulu.

Namun setelah Belanda hengkang dari bumi Pertiwi, Jakarta justru jadi rusak parah. Pemerintah kala itu gelap mata bangun sana sini tanpa memperdulikan lagi sistem pengairan dan irigasi untuk mengatasi banjir yang telah dibangun dengan susah payah oleh Belanda dulu.

Pembangunan terus digempur sehingga Jakarta pun tak ayal lagi jadi hutan beton dan lautan aspal. Struktur dan kontur tanahnya pun akhirnya berubah tak mampu lagi meresap air. Dam-dam dan bendungan yang dibangun Belanda banyak yang berubah fungsi, hanya pintu air Manggarai yang masih tersisa, itu pun karena lokasinya dekat dengan Istana Negara, sehingga pemerintah saat itu tidak mengubah fungsinya agar Istana Negara tidak kebanjiran.

Mengapa Harus Pindah Dari Jakarta

Jumlah penduduk Jakarta saat ini sekitar 15 ribu jiwa. Dengan luas wilayahnya yang 661,52 kilometer persegi, artinya kepadatan penduduk Jakarta berada dikisaran 22.675 koma sekian jiwa per kilometer persegi. Idealnya, satu hektare seharusnya dihuni kurang dari 100 orang, tapi di Jakarta dipadati lebih dari 250 orang, akibatnya koefisien dasar bangunan pun sudah tak ideal lagi.

Sejak dulu Jakarta tak disiapkan secara matang oleh pemerintah untuk menjadi Ibukota negara yang bersih, rapih dan bermartabat, sehingga kini Ahok yang ketiban pulungnya. Jakarta semakin tertindih beban berat, sudah sangat padat, dempet-dempetan, himpit-himpitan, kesenjangan sosial kian tajam, kriminalitas tinggi, gangguan jiwa pun meningkat.

Bisa jadi dalam 10 hingga 20 tahun kedepan, kendaraan di Jakarta tidak akan bisa bergerak sama sekali di jalanan karena pertumbuhan kendaraan di Jakarta mencapai 10 hingga 15 persen per tahun, sedangkan pertumbuhan pembangunan jalan hanya nol koma sekian persen saja setiap tahunnya akibat padatnya bangunan di Jakarta.

Itu belum termasuk tingginya populasi dan arus urbanisasi yang tak terkendali dari Aceh sampai Papua yang berbondong-bondong datang mengadu nasib dan keberuntungan ke ibukota negara.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x