Mohon tunggu...
Mawalu
Mawalu Mohon Tunggu...

Mawalu

Selanjutnya

Tutup

Politik Pilihan

Kunjungan Raja Salman ke Indonesia, Bukan Kunjungan Gratis

6 Maret 2017   16:34 Diperbarui: 9 Maret 2017   23:13 5572 26 20 Mohon Tunggu...

[caption caption="Raja Arab Saudi Salman bin Abdulaziz al-Saud bersama Presiden Indonesia Joko Widodo (AFP PHOTO)"][/caption]Raja Arab Saudi Salman bin Abdul Aziz al-Saud akhirnya mrnginjakkan kakinya di bumi zamrud khatulistiwa. Kunjungannya kali ini dibalut kemewahan yang tiada tara yang membuat siapa saja yang melihat langsung berdecak kagum. Selain kaya raya, Raja Salman adalah pelayan dua kota suci, yaitu Mekkah dan Madinah.   Kunjungan Raja Salman ke negara kita yang dibalut dengan kemewahan yang luar biasa fantastis itu tentunya bukan kunjungan gratis. Ada agenda khusus dibalik semua kemewahan yang ditampilkan jor-joran didepan mata. Kedatangan Raja Salman ke Indonesia kali ini ada agenda yang sangat penting yang beliau bawa, yaitu jualan saham Saudi Arabian Oil Co atau yang biasanya disebut sebagai Saudi Aramco. Raja Salman ingin menjual lima persen sahamnya melalui initial public offering (IPO) atau penawaran saham perdana di negara kita. Penjualan saham itu tentunya sudah diprediksi matang-matang oleh Raja Salman sebelum menginjakkan kakinya di negeri nyiur melambai ini. Dengan melepas 5% saham Saudi Aramco akan menguntungkan Arab Saudi dari sisi investasi. Langkah itu ditempuh Raja Salman karena saat ini Arab Saudi butuh fulus yang sangat besar guna menyuntik APBN mereka yang kini sedang lesu akibat tumbangnya harga minyak dunia yang turun dari US$ 90 per barel menjadi US$ 50/barel sejak tahun 2010 yang silam. Selain kondisi harga minyak dunia yang tak lagi seksi bagi sang Raja yang berhidung mancung itu, biaya perang Suriah dan Yaman juga semakin mahal. Apalagi saat ini negara-negara minim minyak dunia mulai mengusahakan energi alternatif pengganti minyak dengan beralih ke sumber tenaga listrik, dan lain sebagainya. Maka tak ayal lagi, Arab Saudi terpaksa kudu berhutang sana-sini untuk menutupi lubang-lubang devisit yang semakin hari semakin menganga. Dengan kondisi demikian, maka berimbas pula pada menurunnya pertumbuhan ekonomi di Arab Saudi dimana pertumbuhan ekonomi di Arab Saudi yang sebelumnya berkibar di angka 9,96% kini turun 1% di tahun 2016. Ini terjadi karena bisnis minyak di Arab Saudi adalah separuh nafas mereka. Akibat anjloknya perekonomian Arab Saudi, maka Akibatnya fatal, Raja Salman kalang kabut. Jatah subsidi BBM, air dan listrik untuk rakyatnya mau tak mau ia mutilasi. Raja Salman juga menghemat APBN-nya dengan cara memangkas gaji para PNS-nya dan membatalkan pembayaran bonus para PNS. Begitu pula gaji para Menteri, sang Raja memancungnya tanpa ampun hingga 20%.  Itulah sebabnya, kedatangan Raja Salman ke Indonesia kali ini karena beliau lagi butuh fulus untuk mendongkrak kembali perekonomiannya yang semakin lesu. Beliau ingin merasakan kecipratan pertumbuhan perekonomian di Indonesia, bukan hanya sekedar menikmati rinai rintik hujan di Istana Bogor yang sejuk dan semilir angin di pantai Nusa Dua Bali yang eksotis itu. Sekilas Tentang Saudi Aramco Lantas makhluk apakah yang bernama Saudi Aramco itu? Saudi Aramco adalah BUMN milik kerajaan Arab Saudi yang didirikan pada tahun 1933 yang silam. Kantor pusatnya terletak di Dhahran, Arab Saudi. Saudi Aramco juga memiliki kantor afiliasi, perusahaan patungan dan anak perusahaan lainnya di China, Jepang, Belanda, Korea Selatan, Singapura, Malaysia, Uni Emirat Arab, Inggris, dan Amerika Serikat. Saudi Aramco memiliki rentang bisnis yang sangat luas dengan nilai tertinggi di seluruh dunia. Aset Saudi Aramco saat ini mencapai US$ 10 triliun dengan cadangan minyak terbesar di seluruh dunia dimana Saudi Aramco menghasilkan minyak mentah sebesar 12 juta boepd (barrels of oil equivalent per day/barel setara minyak per hari). Perusahaan raksasa itu memiliki lebih dari 100 ladang minyak dan gas di seantero Arab Saudi, termasuk ladang minyak di Ghawar dan Shaybah, ladang minyak terbesar dunia. Selain minyak, Saudi Aramco juga memiliki 284,2 triliun kubik cadangan gas alam. Perusahaan raksasa ini mempekerjakan 60 ribu karyawan, termasuk 10 ribu ekspatriat dari seluruh dunia. Indonesia, Negara Potensial Bagi Saudi Aramco Kita patut berbangga bahwa Indonesia kini sudah tak dipandang sebelah mata lagi oleh raksasa minyak dunia sekaliber Arab Saudi. Tak dipungkiri lagi, pertumbuhan ekonomi Indonesia saat ini semakin hari semakin berkibar. Bahkan, sebagian besar lembaga keuangan internasional sudah memprediksi bahwa bangsa kita akan memiliki kekuatan ekonomi keempat terbesar di dunia. Ini semua berkat tangan dingin Jokowi. China dirangkul, Rusia dan Iran digandeng, sehingga Arab Saudi pun terpancing klepak-kepek masuk ke dalam perangkap. Kalau almarhum Sutan Bhatoegana bilang, masuk tuh barang. Suka tak suka, Jokowi adalah marketing handal, Presiden yang pernah aku remehkan dulu kemampuannya mengurus negara ini. Investasi Saudi Aramco tentunya sangat berharga bagi negara kita, khususnya bagi Pertamina. Kalau kali ini Arab Saudi berani jor-joran lepas saham dengan investasi yang besar, itu artinya bukan sesuatu banget. Saat ini negara kita adalah salah satu negara terseksi di dunia dari sisi pertumbuhan ekonomi, pelan tapi pasti, apalagi dengan kesusksesan tax amnesty yang bikin negara-negara raksasa di dunia tercengang-cengang. 54 tahun pengalaman dalam bisnis perminyakan dan gas alam, Pertamina sekarang tak bisa dianggap remeh lagi oleh negara luar. Perusahaan minyak milik bangsa kita itu kini telah berkibar menanamkan kukunya di enam negara. Bisnis Pertamina berkembang dengan pesatnya yang meliputi bisnis usaha eksplorasi dan produksi minyak dan gas, pengolahan kilang minyak, pemasaran produk-produk migas dan petrokimia, pengembangan BBM nabati, serta tenaga panas bumi dan sumber-sumber daya energi berkelanjutan lainnya. Selain itu, salah satu faktor Raja Salman melirik Indonesia, yaitu alasan politis karena musuh bebuyutannya Iran telah lebih dulu mencengkram cakar mereka di bumi pertiwi ini bekerjasama dibidang proyek pembangkit listrik, teknologi dan sekaligus sebagai tujuan ekspor LNG dari Indonesia. Itulah sebabnya, Indonesia dikepret Raja Salman untuk menunjukkan giginya ke Iran. Ibarat kata Raja Salman ingin bilang ke Iran, "Bukan hanya ente doang, sob. Ane juga bisa!" Setelah Raja Salman menginjakkan kakinya di bumi pertiwi ini, tanpa menunggu waktu lama, Nota Kesepahaman (MoU) pun langsung ditandangani oleh kedua negara, antara lain terkait investasi Saudi Aramco. MoU senilai triliunan rupiah itu jelas-jelas merupakan potensi investasi menggiurkan bagi Pertamina dalam lawatan Raja Salman beserta 1.500 dayang-dayangnya itu. Salah satu yang diincar sang Raja yaitu kilang Cilacap. Apakah lawatan Raja Salman kali ini memberikan secercah asa bagi iklim investasi di negeri tercinta ini? Entahlah. Intinya, kunjungan Raja Salman ke Indonesia kali ini bukan hanya sekedar kunjungan cipika-cipiki dan pamer kemewahan semata, namun maknanya lebih dalam dan lebih luas dari itu. Ahlan wa Sahlan Raja Salman!

VIDEO PILIHAN