Mohon tunggu...
Mawalu
Mawalu Mohon Tunggu...

Mawalu

Selanjutnya

Tutup

Birokrasi Pilihan

Bagaimana Kalau Nama Jakarta Diganti saja Menjadi New Batavia?

24 Juni 2015   21:33 Diperbarui: 24 Juni 2015   22:26 1574 13 19 Mohon Tunggu...

Hanya orang Belanda saja yang mau membangun kota-kota besar di dataran rendah yang sering banjir macam jakarta ini, karena kondisinya tak jauh beda dengan Amsterdam yang banyak dam dan bendungannya. Amsterdam artinya Bendungan Amster. Rotterdam artinya Bendungan Rotter, dan banyak dam-dam lainnya di negeri seribu kincir angin itu.

Bahkan kota New York yang lokasinya di dataran rendah pun dibangun oleh Belanda bersamaan waktunya Belanda membangun Batavia dulu. Sebelumnya New York itu diberi nama New Amsterdam oleh kolonial Belanda. Makanya nasibnya sial, direbut oleh orang Inggris dan para kompeni itu pun ngacir lintang pukang tak tentu arah dihajar sampai babak belur oleh pasukan Inggris.

Setelah New York lepas, hanya Batavia saja yang masih tersisa dan masih bisa dipertahankan oleh Belanda selama 350 tahun. Maka Belanda pun bangun pintu air Manggarai, bangun rel kereta, bangun jalan raya yang lebar-lebar, dan bantaran sungai Ciliwung didesain sedemikian rupa sehingga airnya mengalir lancar tanpa terhambat. Daerah Kota Tua di Jakarta Utara adalah saksi bisu masa kejayaan Belanda di Batavia dulu.

Orang Belanda memang jago yang model beginian. Mereka lihai mengakali masalah pengairan sehingga dijaman kolonial Belanda dulu, Batavia tak pernah ada itu istilah siklus banjur tahunan, lima tahunan, dan tetek bengek siklus-siklus lainnya.

Namun sepeninggal Belanda, Jakarta jadi rusak parah. Pemerintah kita mata gelap bangun sana sini tanpa memperdulikan lagi sistem pengairan yang telah dibangun susah payah oleh para kompeni dulu.

Pembangunan dihajar membabi buta sehingga saat ini Jakarta pun tak ayal lagi jadi hutan beton dan aspal, struktur dan kontur tanahnya pun sudah tak mampu lagi meresap air, dam-dam yang dibangun Belanda dulu banyak yang sudah berubah fungsi, hanya pintu air manggarai saja yang tersisa, itu pun karena dekat dengan Istana Negara, maka mreka tak berani mngubah fungsinya krena takut Istana Negara kebanjiran.

Solusi untuk mengatasi masalah banjir di Jakarta ini cuma satu, yaitu menjalin kerjasama dengan Belanda dan ahli-ahli pengairan di negeri kincir angin itu. Belanda memiliki banyak ahli dibidang itu, daripada buang-buang uang APBD hanya untuk menguras got sehingga menimbulkan kemacetan yang luar biasa parah, bikin BKT dan BKB, tabur puluhan ton garam di langit Jakarta untuk mengakali curah hujan, dan tetek bengek upaya-upaya lainnya, namun hasilnya tetap saja nihil binti nonsense.

Kalau tak salah, dulu semasa Ahok masih jadi Wagub, beliau pernah ke Belanda untuk konsultasi terkait masalah banjir di Jakarta. Nah, mungkin saat ini adalah waktu yang pas untuk teken MoU dengan para ahli di negeri kimcir angin itu. Kan sudah jadi Gubernur, wewenangnya untuk itu sudah dalam genggaman.

Atau kalau masih sial terus dihajar banjir, mungkin perlu dipertimbangkan untuk mengganti nama Jakarta, seperti dulu Inggris mengganti nama New Amsterdam yang  sial itu menjadi New York. Bisa jadi nama Jakarta ini  nama yang sial sehingga masalah selalu terus bermunculan silih berganti bagaikan laron di musim penghujan.

Bagaimana kalau nama Jakarta diganti saja menjadi New Batavia? Siapa tahu sialnya hilang sehingga kota kesayangan kita ini enggak sial lagi dihajar banjir yang mengamuk membabi buta setiap tahun.

Menurut kalian bagaimana dengan usul ku ini?

VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x