Mohon tunggu...
Masykur Mahmud
Masykur Mahmud Mohon Tunggu... Freelancer - A runner, an avid reader and a writer.

Harta Warisan Terbaik adalah Tulisan yang Bermanfaat. Contact: masykurten05@gmail.com

Selanjutnya

Tutup

Humaniora Pilihan

Seorang Dokter Mengamputasi Anak Sendiri Tanpa Bius

22 November 2023   09:05 Diperbarui: 22 November 2023   09:17 160
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Amputasi di Gaza | freepik.com

Kita sering mendengar atau menonton berita tentang kisah heroik dokter yang berhasil melakukan operasi untuk menyelamatkan hidup seseorang. Dunia kesehatan memberi apresiasi yang sangat besar saat operasi yang sulit berhasil dilakukan.

Namun, ada sebuah kisah yang hanya sedikit diberitakan. Di sebuah negara yang saat ini mengalami penderitaan bertubi-tubi. Seorang dokter di Plaestina terpaksa mengamputasi anak sendiri tanpa bius. 

Tentu ini bukan tanpa alasan. Serbuan rudal, bom, tembakan yang terus menerus dilakukan Israel telah melumpuhkan tidak hanya ekonomi Palestina, namun pasokan obat-obatan di seluruh rumah sakit di Gaza. 

Kita tidak bisa membayangkan bagaimana pasien-pasien yang terkena rudal dan bom serta tembakan tentara terlaknat di dunia harus dioperasi tanpa menggunakan obat bius. Itulah kenyataan yang sedang terjadi di Gaza sejak perang Palestina-Israel terjadi 7 Oktober 2023.

Jika di negara-negara lain operasi dilakukan di ruang dengan standar sangat bersih untuk menghindari bakteri, hal serupa tidak berlaku di Palestina. Korban perang yang selamat bahkan masih diserang ketika berada di dalam rumah sakit sekali pun. Sangat brutal bukan?

Dokter yang terpaksa mengamputasi anak sendiri tanpa bius tahu persis bagaimana rasa sakit yang harus ditanggung. Bayangkan bagaimana perihnya hati seorang ayah yang tidak memiliki pilihan selain menyaksikan rasa sakit anaknya di tangannya sendiri.

Namun, takdir berkata lain. Anaknya tidak bisa diselamatkan. Lagi-lagi, betapa hancurnya hati seorang ayah harus rela melihat buah hatinya pergi untuk selama-lamanya di tangannya sendiri.

Kisah-kisah seperti ini buka hanya terjadi pada satu, dua, tiga keluarga. Ratusan ayah kehilangan anak, ribuan suami kehilangan istri, dan ribuan anak kehilangan ayah.

Perihnya kehidupan di Palestina akibat serangan tentara Israel sudah tidak bisa dideskripsikan lagi oleh kata-kata. Mereka diserang, dirudal dan dibom dari arah yang sama sekali tidak bisa diprediksi. 

Nyawa di Palestina seakan tidak berharga. Seseorang bisa bernafas dipagi hari, lalu siangnya telah tiada. Seseorang bisa terlihat di malam hari, lalu ketika pagi rumah yang ditempati tidak lagi tersisa.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Humaniora Selengkapnya
Lihat Humaniora Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun