Mohon tunggu...
Masrul Purba Dasuha
Masrul Purba Dasuha Mohon Tunggu...

Saya Masrul Purba Dasuha, SPd seorang pemerhati budaya Simalungun berasal dari Pamatang Bandar Kabupaten Simalungun Sumatera Utara. Simalungun adalah jati diriku, Purba adalah marga kebanggaanku. Saya hidup berbudaya dan akan mati secara berbudaya. Jangan pernah sesekali melupakan sejarah, leluhurmu menjadi sejarah bagimu dan dirimu juga kelak akan menjadi sejarah bagi penerusmu. Abdikanlah dirimu untuk senantiasa bermanfaat bagi sesama karena kita tercipta sejatinya memang sebagai pengabdi.

Selanjutnya

Tutup

Humaniora Pilihan

Nagur, Kerajaan Tertua Di Pulau Sumatera

29 Januari 2016   04:59 Diperbarui: 2 Januari 2017   06:17 7308 1 3 Mohon Tunggu...

Oleh: Masrul Purba Dasuha, S.Pd

Pengantar

Nagur merupakan suatu kerajaan kuno (ancient kingdom) yang pernah berdiri di Sumatera Utara sebagai awal dimulainya periode sejarah di kalangan masyarakat Batak Timur yang sering disebut orang Hataran atau Simalungun. Menurut penuturan Tuan Subirman Damanik tinggal di Durian Banggal Kecamatan Raya Kaheian (sesuai keterangan yang diperolehnya dari naskah kuno Nagur, naskah ini terbakar tahun 1958 pada masa pemberontakan PRRI gelombang kedua). Terbentuknya kerajaan ini diawali sejak kehadiran seorang tokoh kesatrya dari India bersama para pengikutnya, mereka berasal dari golongan bangsa Munda yang datang dari sekitar dataran tinggi Chota Nagpur sebelah timur India meliputi negara bagian Jarkhand, Chhattisgarh, Benggala Barat, Bihar, dan Odisha (dulu Orissa), hingga daerah Assam. Pustaha Nagur menyebut tokoh kesatrya tersebut dengan Darayad Damadik, gelar lainnya adalah Narama. Dia adalah seorang penganut Hindu Waisnawa pemuja Dewa Wisnu. Bahkan gelar yang disandangnya diambil dari nama Dewa Narayan yang dalam mitologi Hindu adalah nama lain dari Dewa Wisnu. Dalam bahasa Sanskerta "Naara" berarti air atau entitas hidup dan "Ayana" adalah tempat istirahat, karena itu disebut "Naarayana" yang berarti tempat istirahat bagi semua entitas hidup. Hubungan dekat Narayana dengan air menjelaskan penggambaran Narayana dalam seni Hindu sedang berdiri atau duduk di samudera. Pengejawantahan penting dari Narayana adalah "Maha Menjadi yang merupakan dasar dari semua orang". Di Simalungun, gelar Narayan ditambah dengan Namanik sehingga penyebutannya menjadi Narayan Namanik yang bermakna "Naibata parsimada tondui pakon sipaulak tondui" (Dewa pemilik entitas hidup dan pengembali entitas hidup). Rakyat Nagur meyakini bentuk kepala Narayan seperti kepala burung enggang dan tubuhnya dibalut dengan jubah putih. Oleh rakyat Nagur, burung enggang diyakini sebagai reinkarnasi dari Narayan Namanik. Pada zaman dahulu, Narayan Namanik biasa dipanggil untuk menghidupkan orang yang baru meninggal (siluk matei) agar hidup kembali, dengan membaca mantera (tabas) yang berbunyi: "Narayan Namanik, roh ma ham sipaulak tondui" sebanyak 1.200 kali. Setelah orang yang meninggal itu hidup kembali, sebagai tebusan ditanamlah pisang sitabar jantan di pinggir halaman dan pisang unsim jantan di pinggir ladang. Usia kehidupannya tergantung dari usia pisang yang ditanam tersebut, bila pisang itu mati, maka manusia itupun akan ikut mati. Pada ujung lidah Darayad ditumbuhi sejumlah bulu sehingga dia sulit untuk menyebut huruf "N", dia pun menyebut Narayan Namanik dengan Darayad Damadik. Nama ini kemudian menjadi gelar baginya dan Damadik perlahan mengalami perubahan bunyi menjadi Damanik.

Gambar 1: Peta negara India, dataran tinggi Chota Nagpur yang terletak di sebelah timur India merupakan tempat kedudukan bangsa Munda yang menjadi asal Narayan Namanik.

Tuan Subirman Damanik menceritakan bahwa sang Darayad Damadik meninggalkan India akibat terjadi rodi membangun sebuah istana dan tempat pemujaan (parsinumbahan) yang mempekerjakan manusia dan juga kawanan hewan. Para hewan diperintah untuk mengangkut bebatuan dari Mesir untuk diboyong ke India, proses pembangunan istana dan tempat pemujaan ini akhirnya berujung konflik. Untuk menghindari pertikaian yang terjadi, Darayad Damadik lantas memilih meninggalkan tanah kelahirannya, beserta isteri tercintanya seorang puteri Mongol dan para pengikutnya, mereka pun pergi meninggalkan India, dengan menaiki sebuah kapal besar mereka mengarungi samudera luas. Kapal mereka kemudian terdampar di pesisir Selat Malaka, mereka lalu mendaratkan kapal mereka di daerah Pagurawan (Pargurouan) masuk Kabupaten Batubara sekarang. Dari tempat ini, dia beserta rombongannya perlahan masuk ke pedalaman melalui sungai Suka - Laut Tadur - Liang Tanggiripan (Parbatu/Tebing Tinggi) - Sorba Jahei terus ke hulu melalui Bah Balandei - Mariah Nagur - Dolog Simbolon - Sorba Dolog - Dolog Simarsolpah - Raya - Dolog Bah Rubei - Dolog Tinggi Raja - Parti Malayu - Dolog Siandorasi - Partibi Ganjang - Saran Tolbak dan akhirnya mereka sampai di Nagori Banua Sokkur. Tidak lama kemudian empat orang puteranya dari India datang menyusul, namun salah seorang saudari mereka tetap berada di India karena sudah menikah. Mereka berangkat dari India disertai tiga orang teman mereka, yaitu Naraga (Sinaga), Narasi (Purba), dan Narasag (Saragih). Setelah beberapa lama berdiam di Sokkur, ketiganya kemudian menikah dengan cucu Darayad Damadik. Dari sini diketahui bahwa Darayad Damadik merupakan perintis jalan (si rottos dalan) bagi kehadiran leluhur marga Sinaga, Purba, dan Saragih ke tanah Simalungun. Di samping sebagai pemimpin, Darayad Damadik juga memiliki kemampuan di bidang pengobatan (partambaran), selain mengobati kaum manusia dia juga mampu mengobati penyakit yang diidap hewan. Dia memiliki sebuah alat tiup yang disebut Salohap terbuat dari bambu yang berfungsi sebagai alat untuk mengundang hewan yang hidup di darat maupun di air untuk datang kepadanya. Meskipun dia bersahabat dengan sejumlah hewan, namun dia lebih serasi memelihara ayam, sementara Naraga dan kedua temannya Narasi dan Narasag lebih cocok memelihara gajah, kerbau, dan anjing.

Darayad Damadik mengakhiri masa hidupnya didampingi isterinya ketika melakukan pertapaan di Liang Sigundaba, sepeninggalnya sosoknya dipuja dan menjadi tokoh yang dikeramatkan. Pengkultusan terhadap sosok Darayad Damadik ini berkaitan dengan konsep Hindu-Buddha yang mengenal istilah "dewaraja", di mana seorang raja dipuja dan dianggap memiliki sifat kedewaan (keilahian) yang bersumber dari Dewa Siwa atau Dewa Wisnu. Bentuk pemujaan ini kemudian berkembang luas di Asia Tenggara yang diperkenalkan oleh para pengembara dari India. Konsep dewaraja dibentuk melalui ritual keagamaan yang dilembagakan dalam pranata kerajaan bercorak Hindu-Buddha di Asia Tenggara. Hal ini memungkinkan raja untuk mengklaim dirinya memiliki wewenang ilahiah yang bisa digunakan untuk memastikan legitimasi politik, mengelola tatanan sosial, menata aspek ekonomi, dan agama. Hal ini juga digunakan untuk menjaga ketertiban sosial, memuliakan raja sebagai dewa hidup yang pastinya menuntut pelayanan dan pengabdian maksimal dari rakyatnya. Seiring dengan itu, sistem kasta sebagaimana yang diterapkan di India turut diperkenalkan untuk menata masyarakat berdasarkan kelas sosialnya. Konsep ini juga terkait dengan Cakrawartin, istilah yang digunakan dalam agama Dharma (Hindu-Buddha) untuk merujuk kepada seorang penguasa jagat yang ideal, seorang maharaja yang bijaksana dan welas asih kepada seluruh makhluk di dunia. Sepeninggal sang raja biasanya didirikan monumen maupun patung yang bertujuan untuk menghormati dan memuliakan sang raja yang telah wafat. Secara politik, gagasan ini merupakan suatu upaya pengesahan atau justifikasi kekuasaan raja dengan memanfaatkan sistem keagamaan.

Catatan Tentang Nagur

Nama Nagur berasal dari perpaduan kata "Na + Agur" yang berarti gelar bagi seorang pemimpin yang gagah berani, benar, adil, dan bijaksana. Namun sejumlah sejarawan ada juga yang mengkaitkan nama Nagur dengan Chota Nagpur dan juga kota Nagore yang ada di India. Kerajaan ini berdiri ratusan tahun kemudian sepeninggal Darayad Damadik, terbentuknya kerajaan ini diawali oleh perpaduan sejumlah kampung yang pada suku Simalungun dibagi ke dalam beberapa bagian meliputi huta, nagori, dan urung. Pasca berdirinya kerajaan, dipilihlah suatu lokasi sebagai pusat kerajaan yang disebut dengan pamatang. Nama Nagur pertama kali masuk dalam catatan sejarah yaitu pada almanak (annals) Dinasti Sui (581-618 M) salah satu kekaisaran di Tiongkok penerus dari Dinasti Jin dan peletak dasar bagi kejayaan Dinasti Tang sebagai penggantinya. Almanak tersebut meriwayatkan tentang transaksi perdagangan bilateral antara Nagur dengan Dinasti Sui di perairan sungai Bah Bolon dekat Kota Perdagangan. Sebagaimana hasil penelitian Sutan Martuaraja Siregar, guru sejarah di Normaal School Pematang Siantar, dia melihat Nagur sebagai sebuah Kerajaan Batak yang didirikan orang Simalungun dan menjadi pusat penyembahan berhala (Priests Kingdom of Batak Pagan). Dengan adanya budidaya rambung merah (Sim: balata/Latin: Ficus Elastica) yang dikembangkan masyarakat Nagur, sehingga mengundang bangsa Tiongkok dari Dinasti Sui untuk membeli hasil sumber daya alam Nagur yang dibutuhkan sebagai kedap air (water-tight) bagi kapal-kapal dagang mereka. Pada waktu itulah pihak Tiongkok mendirikan kota pelabuhan Sang Pang To di tepi Sungai Bah Bolon, sekitar 3 Kilometer dari kota Perdagangan sekarang. Mereka banyak meninggalkan batu-batu bersurat di pedalaman Simalungun yang kini telah lenyap akibat penggusuran oleh pembukaan perkebunan dan pabrik-pabrik pada zaman Belanda. Tidak jauh dari tempat ini, ada satu lokasi yang pada zaman dahulu jadi tempat ritual pemujaan roh leluhur bernama Dolog Sinumbah, sebelum kehadiran Belanda di tempat ini terdapat banyak kuil dan candi Buddha, ada satu situs candi yang berhasil diselamatkan pada waktu penggusuran oleh pihak Belanda sewaktu mendirikan pabrik dan perkebunan (situs candi ini kini disimpan oleh keluarga marga Purba di Medan).

Gambar 2: Penulis saat berada di desa Nagur di Kecamatan Tanjung Beringin Serdang Bedagai yang letaknya tepat di bibir pantai timur Sumatera Utara.

Nakhoda Persia, Buzurug bin Shahriyar Al-Ramhurmuzi saat lawatannya ke pulau Sumatera pada tahun 955 M mencatat adanya suatu kerajaan bernama Nakus yang mengacu pada Nagur. Keterangan lainnya juga datang dari Marco Polo (1271-1295), seorang pengembara dari Venesia, Italia pada tahun 1292 pernah mengunjungi sejumlah pulau di pesisir Sumatera, di antaranya adalah Dagroian yang tidak lain adalah Nagur, yang letaknya berada di Pidie (Aceh) sekarang. Marco Polo menceritakan kebiasaan masyarakat Dagroian yang kanibal dan larut dengan praktik genosida. Masyarakatnya benar-benar primitif dan penyembah berhala. Kemudian pada awal abad ke 13 M, Zhao Rugua mencatat sebuah negeri bernama Pa-t’a di bawah kuasa Sriwijaya. Antara Pa-t’a dan Bata sudah diterima umum ada kaitannya dengan Batak. Batak yang dimaksud di sini merujuk pada Nagur, karena pada masa itu Nagurlah satu-satunya kerajaan Batak. Sementara itu, Niccolo de’ Conti seorang pedagang dan penjelajah dari Venesia, Italia pada tahun 1430 berkunjung ke Sumatera dan tinggal selama setahun di kota Sciamuthera (Samudera Pasai) dan pada tahun 1449 dia pertama kalinya menemukan jejak masyarakat benama “Batech”. Dia mengatakan di bagian tertentu di pulau Sumatera terdapat sebuah tempat bernama Batech, penduduknya memangsa daging manusia. Mereka terus-menerus berperang dengan tetangga mereka, tengkorak musuh mereka disimpan sebagai harta kemudian menjualnya untuk memperoleh uang. Lain dari pada itu, Tomé Pires seorang apoteker dan kepala gudang rempah-rempah Portugis di Malaka, dalam karya terbesarnya Suma Oriental (Dunia Timur) yang ditulis pada tahun 1512-1515. Buku tersebut memberikan banyak informasi berharga mengenai keadaan nusantara pada abad ke-16, dia menyebut Sumatera dengan Camotora sebuah daerah yang luas dan makmur terdapat banyak emas, kapur barus, lada, sutera, kemenyan, damar, madu, minyak tanah, belerang, kapas, dan rotan. Selain itu, Sumatera juga memiliki banyak padi, daging, ikan, dan bermacam-macam minyak, tuak termasuk tampoy yang mirip anggur di Eropa. Dia mengatakan Sumatera adalah ibukota dari Pasai. Pires mencatat tiga tempat yang menjadi pusat aktivitas para pedagang asing di pesisir timur, yaitu Batta (di selatan Pasai) yang memiliki komoditi utama rotan, lalu Aru yang memiliki cukup banyak kamper dan kemenyan, dan terakhir Arcat (antara Aru dan Rokan). Dia mencatat nama raja yang memerintah di Kerajaan Batak adalah Tomyam yang identik dengan nama Tamiang, seperti pernah diberitakan Castanheda juga seorang penjelajah dari Portugis bahwa Raja Tamiang adalah menantu dari Raja Aru

Gambar 3: Salah satu surat kabar pada zaman Belanda yang memberitakan tentang Nagur dan kerajaan Simalungun lainnya.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
  5. 5
  6. 6
VIDEO PILIHAN