Mohon tunggu...
Rokhis Khomarudin
Rokhis Khomarudin Mohon Tunggu...

Lahir di Pekalongan, tinggal di Jakarta, pernah tinggal di Jerman selama 4 tahun, suka Bayern Munich, suka makan sambil ati, nasi goreng kambing, kaeze spaetzel, nasi briyani, dan sego megono.

Selanjutnya

Tutup

Humaniora Pilihan

Banjir DKI Jakarta: Sebuah Cerita yang Tidak Akan Pernah Berakhir

21 Januari 2014   21:38 Diperbarui: 24 Juni 2015   02:36 713 0 0 Mohon Tunggu...

Bicara mengenai banjir di DKI Jakarta memang tidak ada habis-habisnya. Di kala musim hujan datang beberapa wilayah di Jakarta tergenang oleh air hujan yang tercurah ke permukaan bumi. Selalu memang yang disalahkan adalah hujan, hujan dari langit yang berhari-hari turun menyebabkan air sungai meluap, tanggul jebol, tanah tidak mampu lagi menyerap air hujan, walhasil terjadilah banjir. Apakah memang selalu hujan yang disalahkan? Hujan turun adalah suatu rahmat, rejeki, dan sudah menjadi kebiasaan turun pada saat musim hujan. Di wilayah tropis, hujan besar merupakan suatu hal yang biasa. Nah, kenapa selalu hujan yang disalahkan? Memang, banjir terjadi karena adanya air. Tetapi toh itu memang sudah alamiah, bahwa hujan turun pada saat memang harus turun. Bagaimana dengan perubahan iklim? Yang satu ini bisa kita lihatkan fakta kejadian banjir di DKI Jakarta dari tahun ke tahun. Dalam sebuah catatan, kejadian banjir DKI Jakarta sudah ada sejak tahun 1600-an dan banjir tahun 2007 merupakan banjir yang terbesar dalam tiga abad terakhir. Banjir memang sudah terjadi sejak dulu, namun tidak dipungkiri memang luasan daerah banjir di DKI Jakarta meningkat. Kenapa hal itu terjadi?

Mari kita lihat secara geografis, DKI Jakarta merupakan suatu kota yang dilalui oleh 13 Sungai dan 40% wilayahnya merupakan dataran rendah yang sebagian besar elevasinya dibawah permukaan laut. Penurunan muka tanah (land subsidence) terjadi karena pemanfaatan air tanah yang tidak terkontrol dan bertambahnya pemukiman dan bangunan tinggi untuk mengakomodasi pertambahan jumlah penduduk akibat urbaninasi. Untuk dua masalah ini (land subsidence dan akomodasi pertambahan jumlah penduduk), kami memiliki hasil penelitian yang cukup baik dengan memanfaatkan data penginderaan jauh. Penurunan muka tanah di DKI Jakarta berkisar antara 0.011 m (1.1 cm) hingga 0.27 m (27 cm) pertahun. Hasil ini adalah hasil pengolahan data satelit penginderaan jauh dari tahun 2007 hingga 2008. Penurunan muka tanah ini akan menyebabkan daerah rawan banjir di DKI Jakarta akan meluas. Disamping itu, hasil pengolahan data satelit penginderaan jauh juga dapat melihat perubahan lahan terbangun dari tahun ke tahun. Catatan kami, dari tahun 2007 hingga tahun 2013 penambahan lahan terbangun di wilayah ini sekitar 20%. Dari hasil penelitian ini, memang terlihat bahwa daerah rawan banjir meluas, dan perlu menjadi suatu pemikiran dan kewaspadaan sendiri bagi kita tentang kondisi lingkungan DKI Jakarta. Banjir akan menjadi cerita yang tidak akan pernah berakhir jika tidak dapat diatasi.

Untuk mengatasi masalah banjir di DKI Jakarta, kita harus melihat dari proses terjadinya banjir. Ada 3 proses alam yang dapat menyebabkan banjir di wilayah ini. Pertama, hujan besar terjadi di wilayah hulu tidak dapat diserap oleh tanah karena alih fungsi lahan hutan menjadi pemukiman atau lahan terbuka lainnya, sehingga air mengalir menuju sungai dan menyebabkan debitnya menjadi besar, mengalir dari hulu ke hilir. Dalam perjalanannya, sungai-sungai di daerah hilir terjadi penyempitan karena penambahan pemukiman. Akhirnya, aliran air sungai tidak dapat tertampung, meluap dan terjadilah banjir. Kedua, hujan terjadi di wilayah DKI Jakarta dengan dengan intensitas dan lama hujan yang tinggi, karena pemukaan tanah terdiri dari lahan terbangun dengan sistem drainease yang tidak memadai, maka air tidak dapat diserap oleh tanah, sehingga air menggenangi wilayah tersebut dan mengakibatkan banjir. Ketiga adalah karena luapan air laut, sehingga air menggenangi wilayah-wilayah pemukiman di dekat pantai.

Pada masalah banjir yang pertama, untuk mengatasinya adalah bagaimana caranya agar debit sungai akibat hujan dapat dikurangi dan tidak sampai menggenangi wilayah DKI Jakarta. Cara pertama yang dapat dilakukan adalah dengan reboisasi di wilayah hulu sehingga air hujan dapat terserap dengan baik tidak menjadi air larian yang masuk ke sungai sehingga menambah debit air sungai. Kedua, adalah mengurangi debit sungai dengan membangun danau atau embung-embung buatan yang dapat mengurangi debit aliran yang ke wilayah DKI Jakarta. Baik cara pertama maupun kedua, kerjasama dengan pemerintah daerah di wilayah hulu sangat disarankan. Walaupun dari segi manfaat yang banyak, namun nampaknya hal tersebut memerlukan usaha dan biaya yang sangat sedikit. Memperbaiki wilayah hulu yang sudah banyak villa tidaklah semudah membalikkan tangan. Pembuatan danau atau embung buatan memerlukan suatu kajian yang komprehensif agar danau/embung efektif menampung air dan juga dapat dimanfaatkan lebih lanjut untuk pariwisata misalnya. Penentuan lokasi danau/embung buatan yang tepat adalah kunci keberhasilan masalah ini. Cara terakhir adalah dengan normalisasi sungai baik di daerah hilir, tengah, maupun hulu. Hal ini akan menyebabkan air sungai dapat mengalir sebagaimana mestinya tidak meluap menggenangi permukiman disekitarnya. Tentunya hal ini tidak mudah dilakukan, namun saya yakin jika ada kerjasama antara pemerintah dengan masyarakat akan tercapai usaha ini. Memang tidak mudah dengan kondisi yang ada sekarang ini dimana banyak masyarakat DKI Jakarta tinggal di bantaran sungai.

Untuk masalah banjir yang kedua, saya ingin menggarisbawahi secara khusus untuk proses banjir yang kedua ini. Mungkin ada benarnya juga apa kata Pemerintah Daerah Depok yang mengatakan bahwa jangan terlalu mencampuri urusan wilayah orang, urusilah wilayah masing-masing. Karena Depok, saat ini juga mengalami masalah banjir yang sama. Bukan karena aliran sungai dari Bogor, namun karena kondisi wilayahnya yang sudah mulai tertutup oleh lahan terbangun dan drainase yang buruk, sehingga air hujan tidak dapat diserap oleh tanah dan sistem drainase tidak dapat mengalirkan air dengan baik, sehingga terjadilah banjir. Banyak kejadian banjir terjadi karena masalah yang kedua ini di DKI Jakarta.Mengatasi masalah banjir tipe ini harus dilakukan secara komprehensif yang melibatkan Pemerintah DKI Jakarta, Masyarakat, dan juga perusahaan swasta. Hal-hal fundamental yang harus dibenahi adalah permasalahan pengelolaan sampah, pengelolaan air tanah, pengelolaan buangan air limbah rumah tangga, dan pemanenan air hujan dengan sumur resapan.

Permasalahan Pengelolaan Sampah

Perlu diakui pengelolaan sampah di kota-kota besar di Indonesia sangatlah buruk. Masyarakat dibiarkan begitu saja mengelola sampahnya secara mandiri. Sampah rumah tangga biasa di kelola oleh rukun tetangga atau membayar orang yang memungut sampah dan kemudian sampah dikirim ke Tempat Pembuangan Umum (TPU) tanpa memilah-milah mana sampah organik dan juga sampah non-organik. Hal ini akan menimbulkan masalah besar bagi lingkungan sekitar dan juga kondisi tanah di TPU tersebut. Jika orang yang tidak mampu/mau membayar, maka sampah biasanya dibuang ke Sungai atau Danau. Walaupun aturan pemerintah melarang membuang sampah sembarangan dengan denda yang sangat tinggi, toh kenyataannya sungai-sungai di Jakarta sangat kotor karena tumpukan sampah.Hal inilah salah satu yang menyebabkan kejadian banjir di Jakarta. Aliran sungai jadi macet, dan air meluap menjadi banjir.

Pengelolaan sampah memang perlu dilakukan. Masyarakat secara mandiri telah banyak juga membuat bank sampah dimana sampah non-organik yang dapat didaur ulang dikumpulkan dan orang yang membuang sampah tersebut mendapatkan uang.Demikian juga sampah organik yang dapat dijadikan pupuk dan sumber biogas yang dapat dimanfaatkan untuk keperluan rumah tangga. Dalam pengelolaan sampah, sebenarnya ada peluang bisnis yang sangat besar. Jika ada aturan kuat yang mengatur agar sampah rumah tangga dipisahkan antara kertas, plastik, dan organic, maka pengelola sampah dapat mengumpulkan sampah rumah tangga dengan mudah, dan kemudian sampah tersebut diolah kembali menjadi produk-produk daur ulang yang dapat menghasilkan uang. Masalah banjir juga dapat teratasi dan sungai-sungai akan terbebas dari sampah yang terbuang percuma. Sinergi antara aturan pemerintah yang, kesadaran masyarakat, dan juga pihak swasta dapat memecahkan masalah sampah di perkotaan. Terkadang, aturan pemerintah yang kuat dan juga bisnis dapat merubah budaya suatu masyarakat akan pengelolaan sampah.

Pengelolaan Air Tanah

Pemanfaatan air tanah oleh masyarakat saat ini kurang terkontrol dengan baik. Sehingga, seperti yang telah disebutkan di atas, dapat menyebabkan penurunan muka tanah, dan akhirnya menyebabkan luasnya daerah yang rawan terhadap banjir. Pengelolaan air yang baik di kota sebesar Jakarta memang merupakan suatu keharusan, agar masyarakat mendapatkan air bersih dan sehat.

Pengelolaan Buangan Air Limbah Rumah Tangga

Kemanakah air limbah rumah tangga dan air selokan kita mengalir? Jawabannya adalah sungai. Sekali lagi sungai merupakan suatu korban dari manusia yang membuang limbahnya sehingga sungai kita kotor. Berjuta liter tiap hari endapan bahan kimia menuju ke sungai, dan hal ini dapat menyebabkan pengendapan dan penyempitan sungai dan menyebabkan banjir. Pengelolaan buangan air limbah rumah tangga selalu di iringi dengan selokan pembuangan air.Selokan-selokan kecil dan kadang-kadang macet inilah yang juga dapat menyebabkan banjir karena tidak mampu menampung air aliran jika hujan datang dengan intensitas dan lama yang tinggi.Dari sini terlihat bahwa pengelolaan buangan air limbah rumah tangga perlu di kelola dengan baik. Pengelolaan selokan air larian harus di atur lebih baik sehingga air tidak tersendat dan meluap menyebabkan banjir.

Sebenarnya untuk mengurangi buangan limbah air rumah tangga dan air hujan yang masuk selokan dapat dibuat aturan bahwa setiap rumah yang dibangun atau setidaknya dalam suatu pengembangan perumahan dibuatkan suatu sistem penyerapan air limbah rumah tangga (semacam septic tank, tetapi tidak hanya untuk buangan hajat manusia, namun juga air kotoran bekas mandi) sehingga air yang terserap adalah air bersih masuk dalam tanah dan kotoran limbah rumah tangga yang mengendap kemudian diambil dan dapat dibuat pupuk untuk pertanian. Sama halnya dengan hal tersebut, air hujan juga dapat dibuatkan sumur serapan sehingga air dapat terserap dengan baik. Sistem ini adalah sistem sederhana yang dapat dibuat dan saya yakin akan mudah dilakukan.Sebenarnya di negara-negara maju, pengelolaan air buangan limbah rumah tangga dan juga air hujan sudah dilakukan dengan sistem yang baik dimana semua buangan limbah rumah tangga terkumpul dalam lokasi tertentu dan kemudian dikelola kembali menjadi air bersih, sehingga air tersebut dapat digunakan kembali dan masuk dalam rumah tangga. Saking ketatnya pengelolaan air limbah rumah tangga ini, sampai-sampai di suatu negara maju di Eropa menghitung jumlah air bersih yang dipake dan jumlah air kotor yang dikeluarkan oleh rumah tangga, dan rumah tangga harus membayar jumlah air tersebut.

Pemanenan Air Hujan

Hujan merupakan rahmat dan rejeki Tuhan yang diturunkan untuk kehidupan umat manusia. Banjir terjadi karena memang ulah manusia yang belum dapat memanfaatkan. Jika air berlebih pada saat hujan, kita harus dapat memanennya dan menyimpannya sehingga pada saat musim kemarau, air dapat digunakan dengan baik. Salah satu upaya untuk memanen air hujan adalah dengan sumur resapan. Memang sudah ada aturan di Jakarta, bahwa kalau membangun rumah harus mematuhi koefisien dasar bangunan dan juga membuat sumur resapan. Apakah ini berlangsung baik di masyarakat? Saya kira belum. Nah, sebenarnya pemerintah sudah membuat aturan yang baik, namun apakah kesadaran masyarakat sudah baik? Jangan selalu salahkan pemerintah, menyalahkan Gubernurnya, namun kesadaran diri sendiri untuk masalah ini belum dilakukan.

Upaya lainnya yang baik untuk memanen air hujan adalah dengan biopori. Tidaklah susah membuat satu lubang biopori dengan kedalaman 1 m di suatu lahan sempit dekat rumah kita. Hanya memerlukan beberapa menit, pada saat waktu libur kita, kita dapat membuat lubang biopori secara mandiri. Jika, kita buat beberapa lubang biopori di tepi jalan di rumah kita, tentu itu sangat membantu dalam penyerapan dan pemanenan air hujan. Jika air hujan terserap dengan baik, maka banjir genangan akan dikurangi. Hari ini saya melewati jalan di depan taman bunga cibubur, disitu terjadi genangan, setelah saya perhatikan memang di genangan tersebut, jalan lebih rendah dibandingkan dengan sekitarnya, dan tidak ada lubang untuk air mengalir ke selokan. Jika di pinggir jalannya dibuat biopori, saya rasa air akan dapat mudah diserap oleh tanah dengan baik. Lubang biopori tidak akan menganggu jalan jika dibuat dengan baik.

Demikian, beberapa cara mengatasi banjir dengan tipe yang kedua. Untuk tipe yang ketiga, nampaknya kita harus meniru kota Amsterdam di Belanda atau Kota Venesia di Italia. Air laut dapat mudah dialirkan ke kanal-kanal di perkotaan dan digunakan untuk tempat wisata. Jika hal ini ditiru, maka kemungkinan besar Jakarta akan menjadi tujuan Wisata seperti Kota Amsterdam atau Venesia.

Peran Lapan dalam Banjir DKI Jakarta

Apa peran Lapan dalam upaya untuk mengatasi banjir di DKI Jakarta.Masyarakat menganggap dan bahkan para wartawan menganggap bahwa Lapan sangat berperan dalam pemantauan cuaca dengan satelit penginderaan. Selalu, jika terjadi suatu cuaca ekstrim, saya dapat telpon dari wartawan untuk menerangkan kondisi cuaca yang terjadi. Padahal sudah ada lembaga resmi yang memantau kondisi cuaca tiap hari. Sebagai second opinion kata wartawan jika ditanya balik mengapa kok tanyanya ke Lapan. Okelah, memang tidak dapat dipungkiri bahwa Lapan memiliki kemampuan hal tersebut. Dengan data satelit MTSAT (satelit milik Jepang) yang diterima Lapan setiap jam sekali, maka Lapan dapat memantau kondisi awan di wilayah Indonesia tiap satu jam sekali. Awan dapat dikelaskan menjadi beberapa peluang hujaan dan juga kondisi sirkulasi awan secara global dapat dipantau. Pembentukan depresi maupun badai tropis yang mempengaruhi kondisi cuaca di Indonesia juga dapat dipantau. Apalagi jika satelit HIMAWARI (juga satelit milik Jepang) telah diluncurkan, dan jika Lapan dapat menerima dan merekamnya, maka kondisi cuaca di Indonesia bahkan sepertiga luas bumi dapat dipantau tiap sepuluh menit sekali.

Namun tidak hanya itu yang dapat diperankan oleh Lapan dalam masalah banjir. Jika cuaca bukanlah menjadi masalah seperti tulisan di atas, maka kondisi lahan yang menjadi penentu, dan pemantauan kondisi lahan di DKI Jakarta juga dapat dideteksi dari data satelit penginderaan jauh yang di rekam oleh Lapan. Seperti yang saya sebutkan di atas, bahwa data satelit penginderaan jauh dapat diolah menjadi informasi penutup lahan dan juga kondisi penurunan muka tanah (land subsidence). Perubahan penutup lahan dan penurunan muka tanah di DKI Jakarta atau bahkan di wilayah lainnya dapat dipantau dari tahun ke tahun, karena data penginderaan jauh secara historis direkam dengan baik. Selain itu, dari data penginderaan jauh juga dapat dihasilkan informasi ketinggian tempat (elevasi, sering dikenal dengan digital elevation model (DEM)). Teknologi saat ini memungkinkan untuk menghasilkan informasi ketinggian tempat dengan resolusi spasial hingga 1.5 m. Hal ini berarti bahwa setiap 1.5 m terdapat informasi ketinggian tempat di suatu wilayah. Data ketinggian tempat ini adalah data yang krusial untuk pemodelan banjir, dimana potensi terjadi genangan, dan juga bahkan dapat digunakan untuk menentukan dimana posisi embung atau danau buatan yang tepat, jika akan melaksanakan proyek pembangunan danau buatan di wilayah hulu atau tengah untuk mengurangi laju aliran sungai ke arah hilir. Informasi perubahan penutup lahan, penurunan mukan tanah, dan ketinggian tempat merupakan informasi yang dapat dihasilkan dari data satelit penginderaan jauh dan hal ini merupakan core competency dari Lapan.

Selain hal itu, Lapan juga mengembangkan teknologi pesawat tanpa awak yang dapat digunakan untuk memotret wilayah banjir di DKI Jakarta jika banjir terjadi. Hal ini akan memudahkan untuk mendeteksi dan memetakan secara cepat kondisi bencana yang terjadi.

Kesimpulan yang dapat diambil dari tulisan ini adalah bahwa hujan adalah pemicu terjadi banjir, namun perubahan kondisi lahan di DKI Jakartalah yang menyebabkan daerah rawan di DKI Jakarta meluas. Untuk mengatasinya perlu sinergi antara pemerintah pusat, daerah, pemda lainnya, masyarakat, dan juga swasta. Tanpa sinergi, tidak akan teratasi masalah banjir di DKI Jakarta. Aturan pemerintah yang ketat, namun kesadaran masyarakat tidak ada, maka percuma saja. Jangan selalu salahkan pemerintah jika kita masih membuang sampah sembarangan, di halaman rumah kita tidak ada sumur resapan maupun biopori, dan juga koefisien dasar bangunan kita tidak sesuai dengan aturan yang dicanangkan oleh pemerintah. Jika masih terjadi, maka berkawanlah dengan banjir, hidup akrablah dengan banjir, dan siapkan segala sesuatu jika banjir melanda di wilayah anda. Jangan tergantung pada pemerintah, bangun komunitas mandiri siaga banjir, bahu membahu untuk gotong royong dan bekerjasama dalam menghadapi banjir yang terjadi. Siapkan bahan makanan, obat-obatan, dan perahu karet yang cukup jika musim banjir tiba.Toh, dalam satu tahun paling seminggu atau dua minggu wilayah kita tergenang oleh banjir.

VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x