Mohon tunggu...
masrierie
masrierie Mohon Tunggu... suka menulis

sekedar berbagi

Selanjutnya

Tutup

Hobi Artikel Utama

Populasi Kucing Jalanan Tak Terkendali, Siapa Mesti Tanggung Jawab?

5 Agustus 2019   16:39 Diperbarui: 7 Agustus 2019   19:47 0 12 8 Mohon Tunggu...
Populasi Kucing Jalanan Tak Terkendali, Siapa Mesti Tanggung Jawab?
Kucing liar di komplek (Foto: Dokumentasi Pribadi)

Kucing-kucing Jalanan Semakin Banyak 
Di kediaman saya,  jangan tanya jumlah kucing yang wara-wiri di jalanan. Kucing liar yang populasinya sudah seperti ledakan penduduk, beranak-pinak, dan menyusuri bak-bak sampah, terseok-seok di jalanan, memasuki ruang-ruang warung tegal dan cafe jalanan, bahkan di teras restoran. 

Tempat sampah adalah favorit mereka.  Sesekali mereka masuk ke dalam selokan, untuk minum.

Jangan tanya juga, betapa caci maki dan omelan kepada kucing-kucing yang dianggap hama pengganggu lingkungan. Karena kotorannya bertebaran di pekarangan rumah penduduk, atau di taman-taman warga.

Duh, belum lagi yang sering menumpang tidur di kursi-kursi serambi rumah. Dan mengotori jok motor yang di parkir. Tetangga saya jengkel dengan bulu kucing yang menumpang tidur di jok kursi teras rumahnya.

(Foto: Dokumentasi Pribadi)
(Foto: Dokumentasi Pribadi)
Tetangga lainnya mengumpat kucing-kucing tersebut, karena sanggup menyelinap masuk dari loteng, untuk  masuk ke dapur dan mencuri ikan goreng di meja makan. Beberapa kucing liar  lagi beranak di garasi tetangga, bahkan beranak  di dalam langit langit rumah.

Bagaimanapun, Kucing itu hewan tanpa akal, Mahluk tanpa Dosa
Suatu hari saat keluar  dari sebuah supermarket dekat rumah, seekor induk kucing mengeong-ngeong di bawah sebuah pipa paralon yang tegak di depan sebuah bank. Astaga, seorang tukang parkir dengan penuh kasih, membongkar pipa tersebut. Ternyata bayi kucing terjatuh dari atap masuk pipa paralon saluran air hujan dari genting.

Tukang parkir itu lalu mencarikan dus dan menyimpan induk kucing dan bayinya di tempat yang lebih nyaman, dekat gudang. Dengan  tulus ia memanjat genteng untuk mengambil 2 lagi bayi kucing yang tersisa dan menempatkan  bayi kucing bersama induknya. 

Tak hanya itu, ia mengumpulkan sisa-sisa ayam goreng di rumah makan ayak goreng cepat saji dekat bank tersebut. Lalu menyimpannya di sebuah wadah bekas, dan menyiapkan minum.

(Foto: Dokumentasi Pribadi)
(Foto: Dokumentasi Pribadi)
Terenyuh hati saya menyaksikan tukang parkir yang jelas-jelas bukan orang berada, namun begitu lembut dan penuh sayang kepada hewan.

Kucing-kucing liar, terlantar,kini sudah berkembang biak tak terbendung lagi. Tapi mereka tidak salah. Mereka adalah mahluk ciptaan Nya yang  tumbuh berkembang  sesuai fitrahnya. 

Bertahan di bawah curah  hujan, terik panas mentari, berjuang mencari makanan sesuai tuntutan hidup. Ada yang bertahan , ada yang mati mengenaskan. Ada yang melahirkan bayi bayi kucing cacat, ada yang bertahan dengan  cacat bawaan . Ada yang cacat karena siksaan dari manusia, atau tertabrak kendaraan.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4