Petrik Matanasi
Petrik Matanasi

Peziarah & Pemerhati Sejarah Nusantara. Asal Balikpapan. Kuliah sejarah 7 tahun di UNY Jogja. Kini tinggal Palembang. Bukan penulis handal, hanya saja suka menulis hal-hal yang humanis. Apapun yang saya tulis atau ucap, sulit sekali bagi saya untuk tidak Historis

Selanjutnya

Tutup

Humaniora

Bertemu Sang Kapten

11 November 2011   23:16 Diperbarui: 25 Juni 2015   23:46 1598 0 0

Akhirnya, bertemu juga dengan sang kapten timnas legendaris, sekaligus ajudan Sukarno. Sang Kapten tak lain adalah Maulwi Saelan.

Siang begitu panas. Pikiran segera melayang pada Es Pisang Ijo (khas Makassar), yang tak jauh dari TVRI Palembang. Saya segera berjalan kaki kesana. Sembari menunggu sebuah talk show. Sesampai di tukang jual es pisang ijo, saya segera buka notbeook dan segera menulis. Tentang kekesalan saya pada seorang akademisi yang merendahkan orang Papua. Es pisang ijo yang dingin perlahan meredakan kekesalan saya. Menulis pun jadi makin menyenangkan.

Setelah lebih dari 30 menit menulis, tulisan selesai dan es pisang ijo mencair. Segera notebook saya tutup dan es pisang ijo saya seruput habis. Rasanya, saya sedang berada di Makassar ketika es pisang ijo saya habiskan. Segera saya menuju TVRI.Ternyata, salah satu pembicara adalah kawan saya juga. Seorang sejarawan. JJ Rizal namanya. Orang sejarah UI, pasti kenal dia, kalau tidak jangan pernah ngaku orang sejarah. JJ Rizal memang kesohor di kalangan sejarawan. Kami mengakui JJ Rizal memang ahli dalam sejarah Indonesia kontemporer dan Betawi. Maklum orang Betawi. Beberapa waktu lalu, JJ Rizal mendadak ngetop. Karena jadi korban salah sasaran polisi yang main pukul sembarangan. Oknum polisi itu mengira si kawan saya adalah bandar narkoba. Beruntung, semua polisi itu kena hukum atasannya. Makanya, jangan macam-macam sama sejarawan. Hehehe Ternyata juga, disana ada Alwi Shihab, wartawan senior yang bejibun tulisannya. Alwi Shihab sosok yang ramah. Dia hanya tersenyum ketika saya bilang kalau saya pernah kutip tulisannya, soal Betawi dan si Pitung. Dia bilang kalau dalam seminggu dia bisa hasilkan dua artikel. Muke gile. Nih engkong-engkong seperti gak ada matinye. Layak untuk ditiru penulis kacangan macam saya. Ini baru senior, bisa member contoh. Ternyata lagi, disitu ada Maulwi Saelan. Ibu Diah yang baik hati lalu memperkenalkan saya pada Maulwi Saelan. Saya tertegun dan gembira bertemu dengannya. Hanya sejarawan bodoh yang tak tahu dia. Ketua PSSI masa kini, harus cium tangan dia jika bertemu. Bagi yang paham sejarah sepakbola Indonesia, pasti tahu siapa Maulwi Saelan. Maulwi Saelan tak lain bekas kiper tim nasional Indonesia. Tangannya adalah tameng gawang Indonesia. Banyak bola tim lawan yang tertangkap tangannya. Bersama timnya, Maulwi pernah bertanding melawan Timnas Amerika, Uni Sovyet dan lainnya. Tim Beruang Merah, Uni Sovyet pernah ditahan imbang 0-0 dalam sebuah pertandingan di Melbourne di tahun 1950an. Maulwi juga kapten timnas yang pastinya legendaris. Hingga hari ini, Maulwi sesepuh sepakbola Indonesia yang masing sangat besar kepeduliannya pada Sepakbola Indonesia yang begitu memprihatinkan. Maulwi, seperti yang saya baca dari biografinya, Kesaksian Seorang Wakil Komandan Tjakrabirawa: Dari Revolusi 1945 Sampai Kudeta 1965, Maulwi adalah bekas gerilyawan pro Indonesia di Sulawesi Selatan. Dia bergerilya bersama Aziz Taba dan lainnya. Setelah Tentara Belanda angkat kaki dari Indonesia, Maulwi bergabung dengan Polisi Militer selama beberapa tahun. Ayah Maulwi, Amin Saelan adalah seorang nasionalis di zaman pergerakan nasional. Bukan hanya Maulwi yang nasionalis di keluarganya. Kakak perempuan Maulwi, Emmy Saelan juga seorang pejuang kemerdekaan. Sayang, sang Kakak harus mati muda. Emmy juga dikenal sebagai kekasih dari Wolter Monginsidi—seorang penyair pejuang yang dihukum mati tentara Belanda pada September 1949. Vonis mati itu juga tak lain karena dosa-dosa Soumokil yang kemudian menjadi Presiden RMS. Adik Maulwi adalah Ely Saelan—yang tak lain adalah istri dari Jenderal M Yusuf. Seorang Jenderal yang tidak akan dilupakan oleh banyak prajurit bawahannya. Yusuf adalah jenderal yang begitu peduli kesejahteraan prajurit bawahannya. Jika Ahmad Yani dan kawan-kawan bisa berlaku seperti M Yusuf, bisa jadi Letkol Untung tidak akan menyikatnya. Kembali ke sang kapten, disela-sela dinasnya sebagai militer, Maulwi masih meluangkan waktu untuk sepakbola. Bukan mencari sampingan—karena kecilnya gaji tentara. Melainkan karena kecintaan. Rasa cinta pada sepakbola, dan rasa nasionalisme yang dia milikilah yang membuatnya kemudian berjaya di lapangan hijau. Maulwi pernah bermain bersama pemain sepakbola legendaris macam Ramang. Keduanya berasal dari Sulawesi Selatan. Disiplin tentara yang dilakoni selama di CPM, membuat Maulwi tahu bagaimana harus berhadapan dengan tim lawan. Seumur hidupnya, Maulwi mencapai pangkat Kolonel dalam karirnya sebagai militer. Setelah percobaan pembunuhan yang gagal terhadap Sukarno di Karebosi, Makassar, Maulwi diangkat menjadi salah-satu komandan pasukan Tjakrabirawa. Pasukan pengawal Presiden Sukarno. Maulwi adalah wakil dari Brigadir Jenderal M Saboer yang merupakan Komandan tertinggi Tjakrabirawa. Maulwi punya tangung-jawab atas keselamatan Paduka Jang Moelia Sukarno. G 30 S 1965 kemudian menjadi hal buruk bagi Maulwi. Banyak orang Tjakrabirawa kena sial. Karena yang terlibat dalam penculikan para jenderal adalah pasukan Tjakrabirawa. Meski hanya sekitar 60 Tjakra yang berasal dari Jawa Tengah, batalyon 454 raider, yang merupakan bekas pasukan Letkol Untung di Jawa Tengah. Komandan Tjakra, Brigjen Saboer kemudian meninggal di tahanan. Beruntung Maulwi dikaruniai umur panjang. Beruntung juga saya bisa bertemu dengannya sore ini (9/11/2011). Pada Maulwi, saya mengaku saya menulis sebuah pleidoi kecil untuk Tjakrabirawa. Dimana memang hanya 60 orang Tjakra saja yang terlibat. Tapi akibatnya, 3000 anggota Tjakra harus bernasib malang karena mereka tidak lagi jadi pengawal Sukarno. Mengawal pemimpin Besar Revolusi adalah kebanggan, jadi banyak mantan Tjakra yang bersedih. Tjakrabirawa sempat dianggap sesuatu yang tabu diceritakan di masa orde baru, walau Tjakra sebagai korps tidak pernah pernah terlibat dalam G 30 S. Hanya ke-60 pasukan Tjakra pimpinan Untung sajalah yang terlibat. Paspampres, belakangan sudah mengakui keberadaan Tjakranirawa sebagai bagian dari sejarah Paspampres sebagai pasukan pengaman presiden.Begitu berita gembira sang kapten kepada saya. Sebelumnya, saya pernah membaca di sebuah buku tentang Paspampres yang juga terbitan pemerimtah, sama sekali tidak menyebut paspampres. Bagi saya ini benar-benar menjijikan. Beruntung hal menjijikan itu sudah selesai. Ketika saya singgung kalau G 30 S adalah konflik internal AD, sang kapten tampak sepakat. Setidaknya, teori Ben Anderson dan Ruth McVey dalam analisis awal tentang G 30, yang dikenal sebagai Cornell Paper, itu mendapat dukungan. Saya pribadi mendukung teori itu. Menyanangkan sekali bisa berbicara sedikit dengan sang kapten. Maulwi masih aktif dalam kehidupan sosial. Maulwi membangun sebuah sekolah di daerah Kemang. Saya lupa namanya. Selain pada sepakbola, Maulwi juga peduli pada pendidikan anak-anak Indonesia. Sebagai rasa hormat saya, Sang Kapten saya hadiahi buku terakhir saya, Sejarah Tentara. Benar-benar sebuah kebetulan. Baru saja, saya cicipi Es Pisang Ijo khas Makassar, akhirnya saya bertemu orang hebat dari kota Makassar. Sang kapten timnas. Maulwi seolah ditakdirkan menjadi seorang kiper. Pertama di lapangan bola memastikan gawang tidak dibobol lawan. Kedua diluar lapangan dia harus menjaga keselamatan Pemimpin Besar Revolusi, Presiden Sukarno. Salut buat Sang Kapten… Kebetulan besok Hari Pahlawan, tulisan ini juga saya dedikasikan untuknya bersama pahlawan lain dari berbagai medan seperti Kakaknya, Emmy Saelan, Wolter Monginsidi dan lainnya. Senang bertemu Sang Kapten.