Muhammad Idris
Muhammad Idris

Aku bukan lelaki agamis, aku bukan lelaki pancasilais, aku bukan lelaki liberalis, aku bukan lelaki sosialis, aku bukan lelaki komunis, aku bukan lelaki sekularis, aku hanya lelaki yang berusaha selalu ada dan berguna

Selanjutnya

Tutup

Edukasi

Gelar Master dan Doktor Abal-abal

21 Oktober 2012   04:40 Diperbarui: 24 Juni 2015   22:35 14 2 5
Gelar Master dan Doktor Abal-abal
1350794488411223186

Seorang kawan dari Turki selalu terheran-heran dan tak habis pikir dengan keunikan pendidikan, khususnya pendidikan tinggi di Indonesia. Ia sedikit menyindir penyelenggaraa pendidikan di negeri ini, unik di sini tentu bukan dalam hal unik yang “lebih dan beda” di banding negaranya, atau banyak negara yang pernah dikunjungi. Kebetulan, sang kawan dari Istambul tersebut berkuliah di Pasca Sarjana Universitas Negeri Jakarta. Saya tak tahu persis apa jurusan yang diambilnya, yang pasti, ia salah satu penerima scolarship yang di adakan pemerintah Indonesia untuk mahasiswa asing yang ingin kuliah dan mengenal budaya di Indonesia. Beberapa hal ditemukanya pada teman sekelasnya yang orang Indonesia. Saya sebagai orang Indonesia, sedikit-sedikit merasa risi oleh ceritanya, yah namun itulah kenyataanya yang harus kita terima. Temuan-temuanya tersebutlah, bagi kita orang Indonesia mungkin sudah lumrah dalam kehidupan kita. Yah inilah negeri ini, negeri yang terlalu banyak masalah yang mengakar dan diketahui khalayak namun tetap dibiarkan. Kurang lebih hampir satu tahun tinggal dan kuliah di Indonesia telah membuatnya bisa menarik kesimpulan, penyebab besar pendidikan di Indonesia dikelola secara asal-muasalan, tanpa visi misi jelas, target, mubadzir, tanpa fokus, dan tanpa keseriusan pemerintahnya. Sang kawan bercerita, Ia heran bagaimana hampir mahasiswa S2, di UNJ, termasuk di kelasnya selalu bisa meraih gelar memuskan, bahasa akademiknya Cumlaude, dan bla bla bla. Padahal buku mata kuliah berbahasa Inggris, Ujian berbahasa Inggris pula, juga dosen yang menerapkan metode Billingual atau dua bahasa. Trus mana yang salah? Ia pun coba mengamati dengan detail, juga lakukan beberapa obrolan dengan beberapa kawan kelasnya. Lantas apa yang membuatnya bingung?, yah usut punya usut, ternyata teman sekelasnya “tak jago” berbahasa Inggris, bahkan kemampuan bahasa inggris reading, orang Indonesia menyebutnya sebagai kemampuan “Inggris pasiv” pun, kalau tak disebut bodoh, jauh di bawah rata-rata. Yang menjadi pertanyaan sang kawan saya kemudian, bagaimana mereka memahami ceramah dosen yang kebanyakan Inggrisnya tersebut, memahami buku mata kuliah yang berbahasa Inggris, juga yang paling mengherankan sang mahasiswa Turki lagi, bagaimana mungkin teman-temanya yang rata-rata sudah udzur usia ini bisa “selalu pasti” lulus ujian TOEFL di atas rata-rata, yang kemudian dipakai sebagai pra syarat kelulusan. Yah tentu anda sebagai orang yang sudah lama hidup di Indonesia bisa menjawab keheranan kawan saya tersebut. Penemuanya yang kedua. Ia amati kawan-kawanya di pasca sarjana, tak ada “niatan mencari ilmu” dari kawan-kawanya. Untuk kasus yang ini, tentu anda juga telah paham dan bisa menjawab keheranan si Turki. Dari hasil wawancaranya dengan kawan-kawanya, si mahasiswa Turki tersebut menarik kesimpulan, hampir semua mahasiswa pasca sarjana di tempatnya berkuliah hanya untuk satu tujuan, yakni naik gelar. Yah inilah satu hal dalam dunia pendidikan kita yang tak maklum namun bisa dimaklumi. Berbeda di negerinya sana, di sini (Universitas Negeri Jakarta), mereka yang kuliah hampir semuanya pegawai negeri, hampir tak ada satu pun dari pegawai swasta, kalaupun ada tak seberapa, entah itu guru, PNS departemen, honorer, sampai perwira militer. Para mahasiswa golongan tua ini, karena memang umurnya sudah tua, berkuliah hanya untuk menaikan pangkat golongan, dan tentu menaikan gajinya. Bukan semata untuk “niat mulia” menjadi pintar, lebih profesional mengabdi pada negara, dan bla bla bla. Heheh memang sudah berprasangka baik di negeri ini. Sebenarnya masih banyak penemuan-penemuan yang lain yang membuatnya heran dan tak dijumpai di negaranya, namun tentunya maklum bagi kita penduduk pribumi. Seperti, mahasiswa pasca sarjana harus gengsi gak pakai mobil, mahasiswa “gelar master” tanpa pernah ikut kuliah dan melakukan penelitian, kelas eksekutif, ucapan selamat layaknya ucapan belasungkawa, hingga gelar doktor yang tak nyambung, misal seorang Kapten TNI AL, tapi tesisnya “Pengaruh Gizi Terhadap Pencapaian Belajar Murid Didik”. Yah itulah penerapan pendidikan negeri ini. sampai kapan kita harus terus mengelus dada, semoga mencerahkan.