Mohon tunggu...
Ahmad Indra
Ahmad Indra Mohon Tunggu... Swasta

Aku ingin begini, aku ingin begitu. Ingin ini ingin itu banyak sekali

Selanjutnya

Tutup

Politik Pilihan

70 Tahun Superioritas Israel

16 Mei 2021   18:53 Diperbarui: 17 Mei 2021   17:44 542 13 4 Mohon Tunggu...
Lihat foto
70 Tahun Superioritas Israel
Asap mengepul setelah serangan udara Israel di Kota Gaza di tengah memuncaknya konflik Israel dan Palestina pada Rabu, 12 Mei 2021.(Foto Kompas / Khalil Hamra)

Konflik PalestinaIsrael selalu tak sederhana jika dibicarakan. Konflik panjang yang terpampang pada peta geopolitik Timur Tengah itu setidaknya sudah berlangsung seumur republik kita tercinta, 70-an tahun.

Zionisme dipandang sebagai biang keladi dari pertumpahan darah itu. Cita-cita Zionis untuk mendirikan sebuah tanah air nasional bangsa Yahudi, Medinat Yisrael, membuat puluhan ribu orang tergusur dari tempat kelahirannya hingga menyebabkan konflik regional yang menghanguskan jutaan dollar dan hilangnya puluhan ribu nyawa.

Setidaknya terjadi 3 perang besar yang telah terjadi antara negara-negara Arab dan Israel. Tahun 1948 menjadi awal konflik berdarah antara koalisi Arab melawan Israel disusul dengan Perang 6 Hari yang terjadi pada 1967. Malangnya, kekuatan koalisi Arab berhasil dipatahkan oleh strategi dan tindakan ofensif militer Israel.

Barulah pada konflik bersenjata tahun 1973, Israel dibuat kewalahan. Angkatan bersenjata negara-negara Arab di bawah komando Mesir dan Suriah menguras kekuatan militer Israel, meski pada akhirnya peperangan itu diakhiri dengan gencatan senjata. Konflik bersenjata yang dikenal dengan Perang Yom Kippur itu pun melibatkan AS dan Uni Soviet secara tak langsung.

Sejarah konflik yang bermula dari agresi Zionisme ke tanah Palestina rasanya cukup dijadikan dasar bahwa konflik itu adalah konflik berlatar kemanusiaan. Meski sebagian pihak menyematkan status konflik itu sebagai perseteruan antara dunia Islam dan Yudaisme.

Pasca Perang Yom Kippur, ancaman nyata Israel di Timur Tengah mulai beringsut memudar. Bermula pada ditandatanganinya perjanjian damai dengan Mesir pada 1978 yang dikenal dengan Perjanjian Camp David. Langkah itu mengantarkan Presiden Mesir, Anwar Sadat pada pembunuhannya di tahun 1981.

Yordania pun mengakhiri konflik dengan Israel yang disebut telah mengakibatkan kerugian hingga USD 18 milyar itu. Disaksikan Presiden AS, Bill Clinton, Raja Hussein dan Yitzhak Rabin membubuhkan tanda tangannya di atas perjanjian damai pada 26 Oktober 1994.

Namun hal serupa tak terjadi dengan pengancam Israel lainnya. Irak, Libya dan Suriah tereliminasi dari daftar ancaman regional melalui konflik dalam negeri.

Meski berada di tengah mayoritas negeri Arab yang cenderung islamis, pemerintahan Irak dan Suriah memiliki corak ideologi yang berbeda. Hafez al-Assad (pendahulu Basyar al-Assad) dan Saddam Hussein adalah seorang sosialis. Mereka adalah pengikut partai Ba'ath yang menggelorakan gerakan Pan Arabisme/nasionalisme Arab yang anti Barat.

Ba'ath mulai berkuasa di Suriah pada 1963 dan kemudian di Irak pada 1968. Di Suriah, partai ini masih bertahan dengan diwariskannya kekuasaan dari Hafez al-Assad ke Basyar al-Assad. Sementara di Irak, Ba'ath sudah diberangus saat Saddam Hussein tumbang oleh serangan tentara Sekutu pimpinan AS.

Praktis, saat ini Suriah menjadi satu-satunya aral yang nyata bagi hegemoni Israel. Konflik internal di negeri itu disebut sebagai upaya untuk menghancurkan rejim Suriah sebagaimana di Irak dan Libya sekaligus mencoreng wajah Islam di pentas internasional.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
VIDEO PILIHAN