Mohon tunggu...
Ahmad Indra
Ahmad Indra Mohon Tunggu... Swasta

Aku ingin begini, aku ingin begitu. Ingin ini ingin itu banyak sekali

Selanjutnya

Tutup

Balap Pilihan

Efek Domino Mundurnya Lorenzo

21 November 2019   17:10 Diperbarui: 22 November 2019   14:57 0 2 1 Mohon Tunggu...
Efek Domino Mundurnya Lorenzo
Jorge Lorenzo bersama sang ibu, Maria Guerrero | Foto twitter Repsol Honda

Berbeda dengan para penggemar Lorenzo, Maria Guerrero justru menyambut gembira keputusan putranya untuk gantung helm usai seri Valencia. Kepergian Lorenzo dari kejuaraan Motogp mengejutkan semua pihak. Meski prestasinya merosot tajam, publik masih menyimpan harapan bahwa X-Fuera akan berhasil menguasai mesin RC213V. 

Namun kenyataannya justru berlawanan. Lorenzo mengumumkan pengunduran dirinya sebelum dihelatnya balapan seri pamungkas di sirkuit Ricardo Tormo, Valencia pekan lalu. Dan #thankyouJorge sempat menjadi trending topic di twitter Indonesia sesaat setelah konferensi pers diadakan, sebuah apresiasi dari para penggemar balap motor paling elit itu.

Efek Domino Mundurnya Lorenzo 
Selepas ditinggal rekan satu timnya, Marc Marquez memberikan komentar tentang kriteria pembalap yang sebaiknya ditunjuk untuk menjadi tandemnya di Repsol Honda Team. Yang berpengalaman atau justru yang masih muda. Lalu semua mata tertuju pada 3 nama yakni Johann Zarco, Cal Cructhlow dan Alex Marquez. 

Tak butuh waktu lama, teka-teki itu terjawab saat Repsol Honda secara resmi mengumumkan Alex Marquez yang tahun ini merebut juara dunia Moto2 sebagai tandem baru Marc. Padahal sejatinya kontrak Alex dengan Estrella Galicia 0.0 Marc VDS di Moto2 masih akan berlangsung hingga akhir 2020. 

Hangus sudah peluang Zarco untuk tetap mengendarai Honda. Sebenarnya Johann Zarco adalah rider potensial di Motogp. Juara dunia Moto2 tahun 2015 dan 2016 itu pada musim 2017 dan 2018 berada di peringkat ke enam klasemen akhir Motogp. Kepindahan dari Yamaha ke KTM pada musim 2019 menjadi bencana baginya. Tak sampai musim berakhir, Zarco dan Red Bull KTM putus kontrak. 

Namun Zarco mendapat keuntungan dari cideranya pembalap tim LCR Honda, Takaaki Nakagami. Nakagami harus absen di 3 seri terakhir guna pemulihan cidera dan Zarco menggantikannya. Di sinilah spekulasi kemungkinan merapatnya Zarco ke Honda muncul. 

Sedangkan Cruchtlow dinilai pantas ke Repsol karena pengalamannya di atas RC213V meski dari segi umur dia sudah di atas kepala tiga. Dan kedatangan Alex Marquez membuatnya kehilangan teknisi. LCR Honda harus merelakan kepergian Arlan Holterman, Marco Barbiani dari teknisi elektronik serta insinyur berpengalaman Gianni Berti yang dikontrak Repsol Honda untuk mendampingi Alex Marquez.

Sementara itu di kubu Ducati, kabar mengejutkan datang dari tim privateer, Reale Avintia Racing. Tim yang dihuni Tito Rabat dan Karel Abraham itu tiba-tiba saja mengumumkan bahwa mereka telah naik status menjadi tim satelit Ducati. Dengan kenaikan pangkat itu, Avintia akan mendapatkan motor dengan spesifikasi yang sama dengan yang digunakan Dovizioso pada musim ini. Plus dukungan dari para teknisi Ducati. 

Berita itu lalu dihubungkan dengan pertemuan antara Johann Zarco yang kehilangan kesempatan bergabung Honda dengan Direktur Olahraga Ducati, Paolo Ciabatti dan manajer tim merah, Luigi Dal'Igna. Apakah Avintia Racing dipersiapkan untuk menyambut kedatangan Johann Zarco yang beberapa waktu lalu menolak bergabung dengan tim itu dan memilih turun di Moto2? 

Hal itu masih menjadi misteri karena kontrak Tito Rabat dan Karel Abraham masih akan berlangsung selama setahun ke depan. Namun kemungkinan bergabungnya Zarco ke Avintia sudah mendapatkan penolakan dari Abraham. Dia menyatakan tak akan menyerahkan kursinya dan menuding Dorna membantu Zarco untuk bisa mendapatkan kursi yang lebih baik di Ducati.

Benarkah Lorenzo Sengaja dibuat Pensiun? 
Juara dunia 1999, Alex Criville beberapa waktu lalu menyebut bahwa Lorenzo adalah satu-satunya pembalap yang mampu menjadi penghalang Marquez. Meski kenyataannya, Andrea Dovizioso (2 kali), Maverick Vinales (2 kali), Alex Rins (2 kali) dan Danillo Petrucci (1 kali) pernah menghalangi Marquez memenangi balapan di beberapa sirkuit. Namun 12 kali kemenangan dari 19 seri dalam semusim bukanlah angka yang kecil. Marc Marquez benar-benar melaju tanpa lawan berarti di keseluruhan musim. 

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
VIDEO PILIHAN