Mohon tunggu...
Muhammad Nur Hayid
Muhammad Nur Hayid Mohon Tunggu... -

ingin mengabdi untuk kemaslahatan, menjadi sinar bagi gelapnya kehidupan akhir zaman, seperti kanjeng nabi muhammad khoirul kholqi walbasyar.

Selanjutnya

Tutup

Edukasi

Demi Satu Hadits, Rela Berjalan Beribu Kilo

12 September 2012   00:15 Diperbarui: 25 Juni 2015   00:36 1524 3 1
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Lihat foto
Demi Satu Hadits, Rela Berjalan Beribu Kilo
Digital. Sumber ilustrasi: PEXELS/ThisIsEngineering

Sungguh belajar itu memang indah jika dilakukan dengan ihlas dan berharap ilmu dan hikmah dari Allah. Itulah yang kami rasakan saat kami mengasah jiwa dan otak kita selama ramadan kali ini dengan mengaji kitab kecil, ringan tapi dalam maknanya, hadits arbin annawawiyyah karangan syekh Nawawi. Kegiatan ini mengingatkanku masa-masa ketika kami masih menempa diri sejak di ibtidaiyah, tsanawiyah dan aliyah serta di pesantren dulu. Betapa dulu saya tidak sungguh-sungguh dan ihlas dalam belajar. Ibu ... Bapak ... maafkan anakmu yang dulu tak begitu serius dan rajin belajarnya ini ...

Hari pertama ramadan, kami membahas soal pentingnya niat dalam setiap memulai langkah dan kegiatan kita. Karena pada niatlah semua target dan tujuan itu akan berlabuh dan bisa tercapai. Tanpa niat yang baik dan benar, kita akan mendapatkan pekerjaan itu sebatas apa yang kita niatkan, tak lebih dan tak kurang. Sebaliknya kalau kita niatkan sesuatu itu secara benar dan baik, apalagi dilandasi oleh keimanan dan keihlasan kita hanya kepada dan karena Allah, insyallah kita akan mendapatkan apa yang cita-citakan dan pastinya ridlo dan pertolongan Allah. Insyallah.

Demikianlah hadits pertama yang diriwayatkan oleh sayyidina umar bin khattab RA, yang berbunyi 'innamal a'malu binniyat ilakh ... Hadits tersebut di riwayatkan oleh imam bukhori dan muslim. Ini pula yang menjadikan Imam Nawawi memposisikan hadits ini berada di urutan pertama, karena selain sanadnya ok, matan (isi) haditsnya juga sangat penting pesannya juga sangat fundamental. Nah aku tertarik menulis soal tema ini karena saat menjelaskan itu hadis yang pertama ini, yang kebetulan pemakalah saat itu, kiai Masrur, sesepuh kami di KBRI Alger menceritakan soal bagaimana hati-hatinya Imam Bukhori dalam meriwayatkan hadits nabi.

Sikap ikhtiyath (kehati-hatian) dan keihlasan itulah yang akhirnya sampai sekarang mayoritas umat Islam menjadikan kitab hadits Shohih Bukhori dan Muslim menempati urutan pertama dalam rujukan hukum Islam setelah Alqur'an, subhanallah. Dengan sedikit terbata-bata Pak Masrur menceritakan betapa di zaman itu, ketika beliau masih hidup, tak ada alat komunikasi modern dan transportasi cepat seperti sekarang. Namun, beliau tetap semangat dan sabar serta ihlas mencari keaslian hadist dari sumber yang terpercaya, beliau tetap berusaha mengumpulkan hadits yang outentik dari nabi demi menjaga kemurnian dan aqidah umat Islam yang akan datang belakangan yang diprediksi nabi akan dipenuhi dengan fitnah dan permusuhan.

Hasilnya bagaimana? Seperti yang kita rasakan saat ini, kita hanya tinggal membaca dan memahami serta mengamalkan. Namun betapa banyak yang tidak bersyukur dari kita, dan bahkan mencaci atau menghina bahwa apa yang dilakukan Imam Bukhori masih banyak salah dan haditsnya dianggap doif atau bahkan maudlu alias palsu. Naudzubillah. Tuduhan itu dilakukan oleh orang-orang sombong, sok pinter, yang mengaku-ngaku sok ulama yang berfikiran modern dan kritis. Semoga kita dijaga dari orang-orang semacam ini. Amin. Padahal jika mereka tahu perjuaangan dan keihlasan sang imam, mereka pasti akan beristigfar kepada Allah karena telah menghujat dan menhina hamba yang dicintaiNYA.

Bayangkan, untuk mencari keoutentikan sebuah hadits, Imam Bukhori rela berjalan melintasi negara guna menemui periwayat hadits yang didengar dan akan dikumpulkannya dalam kitab sohihnya. Sementara, pada masa itu, kita semua tahu, belum ada HP, belum ada pesawat terbang dan kendaraan cepat selain kuda dan unta. Namun Imam Bukhori rela berjalan kaki beribu kilo untuk menemui sang imam dan perawi hadits yang didengarnya. Demikian usaha beliau untuk memastikan usahanya mengkodifikasi hadits sohih semata karena Allah dan mengharap ridloNYA.

Dalam sebuah riwayat diceritakan bagaimana kehati-hatian sang imam dalam meriwayatkan sebuah hadits. Saat mendengar ada sebuah hadits dari rasulullah, sang imam lalu bertanya, dari mana hadits itu diriwayatkan. karena kurang yakin dengan penyampai kepada dirinya, Imam Bukhori lalu bertanya kepada penyampai hadits itu posisi sang syekh yang meriwayatkan hadits. Setelah diketahui posisinya, maka berjalanlah sang imam bukhori untuk menemui sang guru itu guna memastikan apakah benar dia meriwayatkan hadits dari rasulullah. Sebab, untuk meriwayatkan sebuah hadits itu memang tidak mudah, selain ada syarat shohih sanad dan matan yang artinya, kita harus menjamin ketersambungan perawi sampai rasulullah, sementara sahih matan adalah apa yang disampaikan dari sisi redaksionalnya juga harus sama persis sebagaimana disampaikan oleh rasulullah meskipun telah melawati rentang waktu yang panjang dan para guru dan syekh yang beraneka ragam.

Itu baru satu syarat. Untuk itulah selain harus adanya ketersambungan rawi dan matan, juga sifat periwayat menjadi juga harus terjamin, seperti dobit, siqqoh dan wara. Yang artinya, seorang periwayat harus kuat hapalannya guna menjamin apa yang dia sampaikan itu sama dengan yang disampaikan rasulullah. Sementara wara itu juga menjadi syarat karena amalan yang baik dan prilaku yang akhlaqul karimah juga penting untuk menjamin dia tidak mengarang dan menambahi atau mengurangi sabda rasul. Dalam kaitan itulah, sang imam ingin tahu apakah hadits yang baru didengarnya itu layak masuk dalam kategori sohih dari sisi matan dan riwayat atau tidak. Demi memastikan itu semua, sang imam pun memutuskan untuk menemui sang imam meskipun jauh sekali perjalanan yang akan dia tempuh.

Pagi itu sang imam berangkat dengan berjalan kaki untuk memastikan posisi dan status sebuah hadits. Sampai esok sore, sang imam baru sampai setelah bertanya ke beberapa orang mengenai alamat dan nama sang syekh. Karena niatnya cuman untuk memastikan hadits yang baru didengarnya, Imam bukhori tak mau membuang waktu karena takut esok hari tak ada umur bagi dirinya atau sang imam. Maka, sore itu beliau pun langsung menuju padepokan sang sang syekh yang dari kejauhan terlihat sedang memberi makan kepada kudanya. Perlahan sang imam berjalan menuju syekh yang sedang asyik mengambilkan rumput untuk kuda tungannya dengan sabar dan penuh khidmat. Setelah dekat, berjarak sekitar 2 meter, berucap salam lah sang imam kepada syekh sepuh itu. Assalamualaikum wr wb.

Maka dipersilahkanlah masuk ke kandang sang imam oleh sang syekh. Sebelum masuk dan duduk ditempat yang disediakan, hati kecil sang imam mulai heran dan ingin bertanya tentang apa yang baru dilihatnya, kenapa sang syekh ini aneh sekali dalam memberi makan kudanya. Meskipun dilakukan dengan ihlas dan penuh khidmat. Lalu setelah bertanya tentang identitas syekh yang dicarinya,dan benar orang yang dicarinya itu sudah ketemu dan di depan matanya, sebelum dia mengenalkan dirinya, sang imam pun bertanya, soal peristiwa yang baru dilihatnya, yaitu kenapa sang syekh memberi makan kudanya dengan memakaikan kacamata berwarna hijau kepada kudanya. Dengan jujur dan tangkas sang syeh menjawab ini semua sebagai cara dan strategi agar kudanya lahap dalam memakan rumput yang disediakan. karena rumputnya sudah kering, dengan memakaikan kacamata hijau, agar kudanya mengira rumputnya masih segar dan hijau sehingga nafsu makannya tinggi.

Mendapatkan jawaban seperti itu, belum lagi sang imam bertanya soal hadits yang didengarnya dari sang syekh, imam bukhori lalu meminta izin untuk pulang. Padahal beliau sudah menempuh jalan beribu kilo guna memastikan riwayat yang didengarnya itu sahih dan terjamin keoutentikannya. Namun keran beliau sudah mendapatkan jawaban dan isyarat mata batinnya, soal memberi makan kuda dengan memakaikan kacamata hijau agar rumput kering terlihat segar, imam bukhori langsung menilai syekh tersebut tidak bisa dipercaya. Karena kepada kuda tunggangannya saja yang setiap hari membantu dia, mengangkut dia dan memudahkan urusan dia, sang syekh sudah bohong, meskipun bohongnya itu untuk kebaikan agar makannya banyak dan lahap. Apalagi kepada lainnya, apakah tidak lebih parah, kira-kira demikian bayangan sang imam saat itu. Maka sejak itulah, hadits itu dibuang dan dicoret dari daftar untuk masuk ke hadits sohih bukhorinya. Subhanallah ...

Inilah sifat ikhtiyath dan kehati-hatian yang selalu dibangun oleh sang imam dalam mengumpulkan hadits sohih yang sekarang menjadi rujukan kaum muslimin di seluruh dunia. Hadits demi hadits beliau kumpulkan setelah memastikan keaslian dan keoutentikan yang didalaminya dengan berbagai cara. Itulah pelajaran yang harus kita ambil dari sang imam dalam menjalani hidup. Jika kita ingin menjadi orang terpercaya, kita harus jujur kepada diri sendiri dan berusaha menjaga kepercayaan itu dengan cara melakukan sesuatu atau pekerjaan itu ihlas hanya karena Allah dan hanya ingin mengapai ridloNYA. Selain itu, kita harus bersungguh-sungguh dalam menempuh jalan itu, dengan cara membangun niat yang baik. Sebab, jika niat sudah kita tata, sementara amalan juga kita kawal dan kelola dengan baik seperti misalnya, kita harus manjauhkan diri dari sifat bohong dan tipu daya, insyallah apa yang kita lakukan akan mendapat efek dan manfaat yang besar di luar dugaan kita, karena Allah pasti akan membantu kita. amin ... Itulah pelajaran yang kita bisa ambil dari sang Imam Bukhori, nafaanallahu biulumihi wabiasrorihi ... alfatehah.

Selayang Pandang tentang Sang Imam

Sekedar pelangkap, kami tuliskan juga sejarah singkat sang imam dari beberapa sumber. Imam Bukhori kecil dilahirkan di kota di Bukhara, daerah Uzbeikistan sekarang ini. Nama lengkap beliau adalah Abu Abdullah Muhammad bin Ismail bin Ibrahim bin Al-Mughirah bin Badrdizbah Al-Ju’fiy Al Bukhari. Nama panjang ini membuat sebagian orang susah menyebutnya sehingga sering mengenalnya dengan sebukan Imam Bukhari. Beliau lahir pada hari Jumat, 13 Syawal 194 H atau 21 Juli 810 Masehi. Konon kakek beliau yang bernama Bardizbeh merupakan seorang turunan Persia yang dikabarkan beragama Zoroaster. Wallahu A'lam. Namun orangtuanya yang bernama Sykeh Mughirah merupakan seorang muslim sejati yang wara dan khusyuk. Dia memeluk Islam di bawah asuhan Al-Yaman Al-Ja’fiy.

Diriwayatkan pula, masa kecil Imam Bukhari dipenuhi dengan keprihatinan mendalam. Dalam cerita itu disebutkan sejak kecil beliau menjadi anak yatim dan juga tidak dapat melihat karena buta (tidak lama setelah lahir). Namun sang ibu yang sayang dan cinta kepada anaknyatak pernah putus asa dalam berusaha dan berdo’a untuk kesembuhan anaknya. Dengan izin Allah, menjelang usia 10 tahun mata sang imam bisa kembali sembuh secara total. Imam Bukhari adalah ahli hadits yang termasyhur diantara para ahli hadits yang kita kenal sejak dulu hingga sekarang. Urutannya adalah sebaga berikut, Imam Bukhori, Imam Ahmad, Imam Muslim, Abu Dawud, Tirmidzi, An-Nasai, dan Ibnu Majah. Bahkan dalam kitab-kitab fiqih dan hadits, hadits-hadits Imam Bukhori memiliki derajat yang paling tinggi. Sebagian dari mereka bahkan menyebut sang imam dengan julukan Amirul Mukminin fil Hadits (Pemimpin kaum mukmin dalam hal Ilmu Hadits).

Tempat beliau lahir dulu masuk dalam wilayah Rusia. Namun sekarang sudah menjadi negara sendiri setelah Uni Sovyet jatuh. Tempat ini, Bukhoro telah menjadi pusat kebudayaan ilmu pengetahuan Islam sesudah Madinah, Damaskus dan Bagdad pada zaman itu. Daerah itu pula yang telah melahirkan filosof-filosof besar seperti al-Farabi dan Ibnu Sina. Bahkan ulama-ulama besar seperti Zamachsari, al-Durdjani, al-Bairuni dan lain-lain, juga dilahirkan di Asia Tengah. Sekalipun daerah tersebut telah jatuh di bawah kekuasaan Uni Sovyet (Rusia), namun menurut Alexandre Benningsen dan Chantal Lemercier Quelquejay dalam bukunya “Islam in the Sivyet Union” (New York, 1967), pemeluk Islamnya masih berjumlah 30 milliun. Jadi merupakan daerah yang pemeluk Islam-nya nomor lima besarnya di dunia setelah Indonesia, Pakistan, India dan Cina. (Dari situs tetangga)

Orang-orang Dekat Sang Imam

Bukhari dididik dalam keluarga ulama yang taat beragama. Dalam kitab As-Siqat, Ibnu Hibban menulis bahwa ayahnya dikenal sebagai orang yang wara’ dalam arti berhati-hati terhadap hal-hal yang hukumnya bersifat syubhat (ragu-ragu), terlebih lebih terhadap hal-hal yang sifatnya haram. Ayahnya adalah seorang ulama bermadzhab Maliki dan merupakan mudir dari Imam Malik, seorang ulama besar dan ahli fikih. Ayahnya wafat ketika Bukhari masih kecil.

Perhatiannya kepada ilmu hadits yang sulit dan rumit itu sudah tumbuh sejak usia 10 tahun, hingga dalam usia 16 tahun beliau sudah hafal dan menguasai buku-buku seperti “al-Mubarak” dan “al-Waki”. Bukhari berguru kepada Syekh Ad-Dakhili, ulama ahli hadits yang masyhur di Bukhara. Pada usia 16 tahun bersama keluarganya, ia mengunjungi kota suci Mekkah dan Madinah, dimana di kedua kota suci itu beliau mengikuti kuliah para guru-guru besar ahli hadits. Pada usia 18 tahun beliau menerbitkan kitab pertamanya “Qudhaya as Shahabah wat Tabi’ien” (Peristiwa-peristiwa Hukum di zaman Sahabat dan Tabi’ien).

Bersama gurunya Syekh Ishaq, beliau menghimpun hadits-hadits shahih dalam satu kitab, dimana dari satu juta hadits yang diriwayatkan oleh 80.000 perawi disaring lagi menjadi 7275 hadits. Diantara guru-guru beliau dalam memperoleh hadits dan ilmu hadits antara lain adalah Ali bin Al Madini, Ahmad bin Hanbali, Yahya bin Ma’in, Muhammad bin Yusuf Al Faryabi, Maki bin Ibrahim Al Bakhi, Muhammad bin Yusuf al Baykandi dan Ibnu Rahwahih. Selain itu ada 289 ahli hadits yang haditsnya dikutip dalam kitab Shahih-nya.

Canggihnya Imam Bukhari

Bukhari diakui memiliki daya hapal tinggi, yang diakui oleh kakaknya Rasyid bin Ismail. Kakak sang Imam ini menuturkan, pernah Bukhari muda dan beberapa murid lainnya mengikuti kuliah dan ceramah cendekiawan Balkh. Tidak seperti murid lainnya, Bukhari tidak pernah membuat catatan kuliah. Ia sering dicela membuang waktu karena tidak mencatat, namun Bukhari diam tak menjawab. Suatu hari, karena merasa kesal terhadap celaan itu, Bukhari meminta kawan-kawannya membawa catatan mereka, kemudian beliau membacakan secara tepat apa yang pernah disampaikan selama dalam kuliah dan ceramah tersebut. Tercenganglah mereka semua, lantaran Bukhari ternyata hafal di luar kepala 15.000 hadits, lengkap dengan keterangan yang tidak sempat mereka catat.

Ketika sedang berada di Bagdad, Imam Bukhari pernah didatangi oleh 10 orang ahli hadits yang ingin menguji ketinggian ilmu beliau. Dalam pertemuan itu, 10 ulama tersebut mengajukan 100 buah hadits yang sengaja “diputar-balikkan” untuk menguji hafalan Imam Bukhari. Ternyata hasilnya mengagumkan. Imam Bukhari mengulang kembali secara tepat masing-masing hadits yang salah tersebut, lalu mengoreksi kesalahannya, kemudian membacakan hadits yang benarnya. Ia menyebutkan seluruh hadits yang salah tersebut di luar kepala, secara urut, sesuai dengan urutan penanya dan urutan hadits yang ditanyakan, kemudian membetulkannya. Inilah yang sangat luar biasa dari sang Imam, karena beliau mampu menghafal hanya dalam waktu satu kali dengar.

Selain terkenal sebagai seorang ahli hadits, Imam Bukhari ternyata tidak melupakan kegiatan lain, yakni olahraga. Ia misalnya sering belajar memanah sampai mahir, sehingga dikatakan sepanjang hidupnya, sang Imam tidak pernah luput dalam memanah kecuali hanya dua kali. Keadaan itu timbul sebagai pengamalan sunnah Rasul yang mendorong dan menganjurkan kaum Muslimin belajar menggunakan anak panah dan alat-alat perang lainnya.

Karya-karyanya Pun Selalu Monumental

Karyanya yang pertama berjudul “Qudhaya as Shahabah wat Tabi’ien” (Peristiwa-peristiwa Hukum di zaman Sahabat dan Tabi’ien). Kitab ini ditulisnya ketika masih berusia 18 tahun. Ketika menginjak usia 22 tahun, Imam Bukhari menunaikan ibadah haji ke Tanah Suci bersama-sama dengan ibu dan kakaknya yang bernama Ahmad. Di sanalah beliau menulis kitab “At-Tarikh” (sejarah) yang terkenal itu. Beliau pernah berkata, “Saya menulis buku “At-Tarikh” di atas makam Nabi Muhammad SAW di waktu malam bulan purnama”.

Karya Imam Bukhari lainnya antara lain adalah kitab Al-Jami’ ash Shahih, Al-Adab al Mufrad, At Tharikh as Shaghir, At Tarikh Al Awsat, At Tarikh al Kabir, At Tafsir Al Kabir, Al Musnad al Kabir, Kitab al ‘Ilal, Raf’ul Yadain fis Salah, Birrul Walidain, Kitab Ad Du’afa, Asami As Sahabah dan Al Hibah. Diantara semua karyanya tersebut, yang paling monumental adalah kitab Al-Jami’ as-Shahih yang lebih dikenal dengan nama Shahih Bukhari.

Dalam sebuah riwayat diceritakan, Imam Bukhari berkata: “Aku bermimpi melihat Rasulullah saw., seolah-olah aku berdiri di hadapannya, sambil memegang kipas yang kupergunakan untuk menjaganya. Kemudian aku tanyakan mimpi itu kepada sebagian ahli ta’bir, ia menjelaskan bahwa aku akan menghancurkan dan mengikis habis kebohongan dari hadits-hadits Rasulullah saw. Mimpi inilah, antara lain, yang mendorongku untuk melahirkan kitab Al-Jami’ As-Sahih.”

Untuk mengumpulkan dan menyeleksi hadits shahih, Bukhari menghabiskan waktu selama 16 tahun untuk mengunjungi berbagai kota guna menemui para perawi hadits, mengumpulkan dan menyeleksi haditsnya. Diantara kota-kota yang disinggahinya antara lain Bashrah, Mesir, Hijaz (Mekkah, Madinah), Kufah, Baghdad sampai ke Asia Barat. Di Baghdad, Bukhari sering bertemu dan berdiskusi dengan ulama besar Imam Ahmad bin Hanbali. Dari sejumlah kota-kota itu, ia bertemu dengan 80.000 perawi. Dari merekalah beliau mengumpulkan dan menghafal satu juta hadits.

Namun tidak semua hadits yang ia hapal kemudian diriwayatkan, melainkan terlebih dahulu diseleksi dengan seleksi yang sangat ketat, diantaranya apakah sanad (riwayat) dari hadits tersebut bersambung dan apakah perawi (periwayat / pembawa) hadits itu terpercaya dan tsiqqah (kuat). Menurut Ibnu Hajar Al Asqalani, akhirnya Bukhari menuliskan sebanyak 9082 hadis dalam karya monumentalnya Al Jami’ as-Shahih yang dikenal sebagai Shahih Bukhari.

Wafatnya Sang Maestro Hadits

Suatu ketika penduduk Samarkand mengirim surat kepada Imam Bukhari. Isinya, meminta dirinya agar menetap di negeri itu (Samarkand). Ia pun pergi memenuhi permohonan mereka. Ketika perjalanannya sampai di Khartand, sebuah desa kecil terletak dua farsakh (sekitar 10 Km) sebelum Samarkand, ia singgah terlebih dahulu untuk mengunjungi beberapa familinya. Namun disana beliau jatuh sakit selama beberapa hari. Dan Akhirnya meninggal pada tanggal 31 Agustus 870 M (256 H) pada malam Idul Fitri dalam usia 62 tahun kurang 13 hari. Beliau dimakamkan selepas Shalat Dzuhur pada Hari Raya Idul Fitri. Sebelum meninggal dunia, ia berpesan bahwa jika meninggal nanti jenazahnya agar dikafani tiga helai kain, tanpa baju dalam dan tidak memakai sorban. Pesan itu dilaksanakan dengan baik oleh masyarakat setempat. Beliau meninggal tanpa meninggalkan seorang anakpun.(tulisan soal biografi sang imam diambil dari berbagai sumber) Alger, 9 Syawwal 2012.

Mohon tunggu...

Lihat Konten Edukasi Selengkapnya
Lihat Edukasi Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x
LAPORKAN KONTEN
Alasan