Mas Gagah
Mas Gagah

"Dosen yang mengabdi untuk Pendidikan dan bukan untuk Institusi Pendidikan" ; Suka: Buku, Film, dan Ngebolang ; Visit Blog: www.dosenbaper.wordpress.com

Selanjutnya

Tutup

Edukasi Artikel Utama

Jika Pendidikan Gagal Menciptakan Masyarakat Pecinta Buku

7 Desember 2018   13:22 Diperbarui: 7 Desember 2018   20:23 605 12 5
Jika Pendidikan Gagal Menciptakan Masyarakat Pecinta Buku
Ilustrasi: www.sabukpustaka.com

Tulisan ini sebenarnya terinspirasi dari tulisan A Laksana yang menjelaskan bahwa model pendidikan di Indonesia hingga hari ini belum mampu melahirkan masyarakat yang mencintai membaca. Sebab tidak membaca maka siswa akan kesulitan untuk menulis. Saya sendiri mungkin menjadi salah satu korban sekolah yang tidak mendidik siswa menjadi manusia yang mencintai buku.

Semua jenjang pendidikan di Indonesia juga sepertinya setali tiga uang. Universitas dari jenjang S1 sampai S3 nampaknya belum mampu melahirkan intelektual yang mencintai membaca. Jika untuk menghasilkan intelektual yang mau membaca saja sulit, bagaimana bisa menghasilkan intelektual yang mencintai menulis.

Kesalahan ini sepertinya tidak hanya dari pihak sekolah atau kampus. Masalahnya pemerintah juga belum memberikan kebijakan yang menarik agar sekolah atau kampus memiliki model pembelajaran yang membuat siswa atau mahasiswa gemar membaca.

Jika ditelusuri lebih jauh, kesalahan mungkin dari oknum pemerintah secara individual. Tidak mungkin akan menciptakan masyarakat gemar membaca jika individu dalam pemerintahan tidak suka membaca buku. Jangankan sekedar membaca buku, bisa jadi membeli buku saja tidak mau.

Sudah lebih dari 70 tahun Indonesia merdeka, tetapi masyarakat kita masih saja tidak menjadi masyarakat pembaca. Semakin ke sini sepertinya malah semakin menurun. Kita bisa mengambil contoh, Soekarno sebagai presiden pertama merupakan tokoh yang mencintai membaca buku. Soekarno tidak hanya presiden tetapi figur atau teladan yang mencintai buku-buku.

Debat kusir di media sosial yang kemudian saling caci maki, menjadi bukti bahwa masyarakat kita masih belum mencintai membaca. Mereka lebih senang beradu argumen menggunakan kekuatan otot dan caci maki. Masyarakat seperti ini sepertinya adalah dampak dari pendidikan yang belum menghasilkan masyarakat pembaca.

Pendidikan yang tidak menghasilkan masyarakat pembaca hasilnya indeks pembangunan manusia Indonesia rendah. Penelitian atau jurnal yang dihasilkan oleh akademik juga masih sedikit dan kualitasnya masih banyak dipertanyakan.

Penulis sendiri pernah bertanya pada mahasiswa, berapa kali membaca buku. Hampir keseluruhan menjawab bahwa mereka hanya saat mau ujian membaca buku. Pada sebuah kelas jurnalistik saya bertanya pada mahasiswa, apakah mereka membaca koran setiap pagi. Jawaban serentak, bahwa mereka tidak membaca koran sama sekali.

Mereka menjawab dengan tersenyum tanpa rasa bersalah. Tidak membaca buku atau tidak membaca koran bagi bagi mereka seakan biasa saja. Saat di kelas kepala mereka tidak membawa hasil bacaan, maka saat diminta bertanya hanya bengang bengong.

Kondisi buruk tersebut hanyalah sebagian kecil potret pendidikan kita yang belum menghasilkan masyarakat pembaca buku. Kita berharap, jangan lagi pendidikan kita gagal menciptakan masyarakatnya mencintai buku. Kegagalan sekolah atau kampus artinya kegagalan pemerintah dalam membuat model pendidikan yang membuat masyarakat mencintai membaca.

Salam Indonesia