Mohon tunggu...
WongNdeso
WongNdeso Mohon Tunggu... Administrasi - ASN

Seorang ASN di PEMKO MEDAN yang Hoby menulis, membaca dan bermusik. Anggota dari PPPSU (Perkumpulan Penulis dan Pendidik) Sumatera Utara . Saat ini masih terus belajar

Selanjutnya

Tutup

Kebijakan Pilihan

Harga Rokok Vs Harga BBM

8 September 2022   10:03 Diperbarui: 8 September 2022   10:07 311 2 0
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

Sejak Pemerintah mengumumkan Harga BBM baru, berbagai pendapat dan sikap bermunculan. Ada yang mendukung dan ada yang tidak mendukung. Yang mendukung beralasan kebijakan itu merupakan bentuk keberpihakan negara dalam menyelamtkan APBNdengan mengalihkan anggaran subsidi BBM ke subsidi lain bagimasyarakat ekonomi lemah Selama ini subsidi BBM banyak dinikmati oleh orang kaya . 

Mengutip Pernyataan Menteri Keuangan , Sri mulyani yang menyebutkan anggaran subsidi BBM dan kompensasi energi tahun 2022 mencapai Rp. 504,4 triliun. Angka ini mengalami tiga kali pembengkakanakibat harga minyak dunia terus naik. Subsidi BBm yang awalnya diperuntukkan untuk membantu masyarakat ekonomi lemah akhirnya membengkak hingga atusan triliun rupiah karena dinikmati oleh semua kalangan. Kondisi tersebut tidak adil dan akan lebih efektif jika pemerintah melakukan penyesuaian dengan mengalihkan subsidi tersebut ke sektor yang lebih produktifMenurut Sri Mulyani , pemerintah uga sudah menyiapkan bantuan ketika harga BBM subsidi naik . Total BLT BBM yang akan diterima masyarakat tidak mampu masing masing penerima Rp 600.000,-

Sedangkan yang menolak kenaikan harga BBM beralasan :

1. Situasi dan kondisi masyarakat Indonesia yang belum pulih dari keterpurukan setelah Pandemi Covid 10. Jika melihat data Dari Bank Duni (World Bank) tahun 2021 jumlah rakyat miskin di Indonesia berjumlah 138,9 jutajiwa dengan pendapatan di bawah  31.086,7dollar /orang atau Rp. 1.000.000/0rang/bulan

2. Kenaikan harga BBM bersubsidi sudah pasti akan berdampak buruk secara domino terhadap kemampuan rakyat kelas menengah ke bawah dalam memenuhi kebutuhan hidup

 Pro Kntra kenaikan harga BBM ini tidak menyurutkan langkah Pemerintah untuk meniakkan Harg BBM pada tanggal 3 September 2022 kemarin . Walaupun secara matematis kenaikan nya cuku tinggu ( untukm Pertalite naik 2400, Pertamax naik 2600), tetapi Pemerintah mengatakan akan mengkonversikan angka kenaikan ini untuk BLT (Bantuan Langsung Tunai) yang kan diberikan kepada masyarakat miskin. Menurut hemat penulis, ini wujud dari prinsip Gotong Royong dimana masyarakat miskin, yang menjadi bagian dari Bangtsa ini bisa merasakan manfaatnya kalau memang program ini tepat sasaran. Bukan berarti penulis setuju total atas kenaikan ini. Penulis setuju dkarena dasarnya untuk kepentingan bersama

Selanjutnya mari kita bahas tentang Harga Rokok.

Rokok, bagi masyarakat Indonesia sepertinya sudah menjadi kebutuhan. Komoditas Rokok sudah menjadi Komoditas masal yang mudah ditemuai di setiap sudut warung warung. 

Kementerian Kesehatan merilis Hasil Survey Global Adult Tobacco Survey GATS yang dilaksanakan tahun 2021 , dalam 10 tahun terakhir terjadi peningkatan signifikan jumlah perokok dewasa sebanyak 8,8 juta dari 60,3 juta tahun 2011 menjadi 69,1 juta orang. Hasil Survey GATS juga menunjukkan adanya kenaikan Previlensi perokok elektronikhingga 10 kali lipat dari 0,3% (2011) menjadi 3% (2021). Sementara prevalensi perokok pasif juga tercatat naiki menjadi 120 juta orang. Terkait label peingatan pada bungkus rokok , hasil survey menyebutkan angka keterpaparan terhadap peringatan kesehatan dari77,2% (2011) menjadi 77,6%. Temuan lainnya adalah rokok sangat berdampak pada sosial ekonomi masyarakat. Saat ini, rokok menjadi pengeluaran belanja terbesar kedua pada orang miskin. Lebih tinggi dari belanja untuk amakanan bergizi.

KESIMPULAN

Dari paparan diatas maka penulis berkesimpulan bahwa kebanyakan masyarakat lebih senang membelanjakan uangnya pada membeli rokok daripada menerima kenaikan subsidi harga BBM. Rokokyang nota bene dikonsumsi untuk dirinya sendiri dan mengganggu kesehatan diri dan orang lain, berapapun harganya akan dibeli. Mereka para pecandu rokok tidak pernah keberatan atau menolak jika harga rokok tinggi. Berbeda dengan kenaikan harga BBM yang akan digunakan untuk kompensasi bantuan. Tentunya ini secara sosila bermanfaat untuk orang lain. Dan inilah wujud dari prinsip Gotong Royong, yang selama ini sudah menjadi Karakter bangsa. Mari kita sama sama menyikapi Kenaikan Harga BBM dengan lebih bijak , untuk kepentingan bersama. Dampak kenaikan BBM memang ada. Tetapi itu kita rasakan bersama, bukan dirasakan sendiri,seperti saat kita mengisap rokok. 

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Kebijakan Selengkapnya
Lihat Kebijakan Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!

Video Pilihan

LAPORKAN KONTEN
Alasan