Mohon tunggu...
Marzuki Umar
Marzuki Umar Mohon Tunggu... Dosen - Dosen STIKes Muhammadiyah Lhokseumawe

Penulis adalah Dosen STIKes Muhamadiyah Lhokseumawe

Selanjutnya

Tutup

Pendidikan Pilihan

Kepala Sekolah, Jiwa Literasi, Guru dan Siswa

4 Desember 2023   12:42 Diperbarui: 4 Desember 2023   12:50 173
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Sumber Gambar: Dokumen Pribadi

Oleh : Marzuki Umar, M.Pd.

Setiap insan tentu memiliki jiwa yang berbeda-beda antara satu dengan yang lainnya di dalam mengelola tata kehidupannya. Hal tersebut sangat tergantung pada tujuan hidup yang telah dibangun dan dibina sesuai dengan wawasan dan cara pandang masing-masing. Bagi orang yang mengharapkan kebaikan, maka ia akan mengarahkan dirinya ke alur-alur yang positif dan berguna. Begitu juga sebaliknya. Bahkan, pautan jiwanya itu selalu dijaga dan dilestarikan dalam bingkai "profesionalitas" guna mewujudkan tata kelola kehidupan dan penghidupan yang diinginkan.  

Salah satu "jiwa" yang perlu dijaga dan diukir di dalam diri seseorang di antaranya adalah jiwa literat. Jiwa yang dapat membuka cakrawala memahami seluk-beluk tataran hidup ini, sebenarnya tidak hanya terdapat pada diri kaum intelektual saja tetapi juga terselubung di dalam setiap orang. Konon, langkah dan sarana mengecap literasi pun kian membuming di berbagai situs media. Para calon literat hanya tinggal merelakan dirinya secara ikhlas untuk mengonsumsi dan memproduksi kembali apa saja yang ditemukan melalui daya baca yang tersurat dan tersirat itu. Dengan begitu, pengalaman dan pemahaman terhadap dirinya dan lingkungan akan dapat dibangun seefektif dan seefesien mungkin.

 Nah ..., jika kita telusuri lebih mendalam, esensial gelora literat itu seyogianya utama sekali wajib dipatri di dalam diri guru dan siswa beserta staf di sekolah. Sosok-sosok yang selalu bergelut dalam lingkup ilmiah ini sejatinya tetap eksis mengikuti perkembangan zaman, sehingga kesediaan memahami dan meng-update ilmu pengetahuannya itu tidak boleh diabaikan. Betapapun sibuknya dengan berbagai aktivitas rutinitas, baik itu di rumah maupun di sekolah, budaya literasi hendaknya tetap dijalankan walaupun durasinya tidak lama. Dalam hal ini, Direktorat SMP memberi suatu gambaran bahwa "Akses yang luas pada sumber informasi, baik dunia nyata maupun dunia maya dapat menjadikan peserta didik lebih tahu daripada guru. Oleh sebab itu, kegiatan peserta didik dalam berliterasi semestinya tidak lepas dari kontribusi guru. Guru sebaiknya berupaya menjadi fasilitator yang berkualitas. Guru dan pemangku kebijakan sekolah harus menjadi figur teladan literasi di sekolah", http://ditsmp.kemdikbud.go.id. Diakses 1 Desember 2023, pukul 21.46 WIB.

Kutipan di atas mengisyaratkan bahwa betapa pentingnya budaya literasi itu bagi setiap jiwa yang bergelut dalam dunia pendidikan, terutama sekali bagi guru, siswa dan tenaga kependidikan lainnya. Namun, kenyataannya sampai sejauh ini, hal itu sungguh sulit dilakukan. Padahal, sumber bacaan yang menjadi referensi yang tersurat dan tersirat di dalam berbagai bidang kian dekat dan melekat dengan kehidupannya.

 Lantas..., mengapa perbuatan literasi sampai detik ini sedemikian sulit dilaksanakan?
Mungkinkah kondisi tersebut dapat diubah guna menciptakan budaya literat dalam jiwanya? Dalam hal ini sekurangnya terdapat dua faktor yang menjadi pemicu tersendatnya jalan literasi tersebut. Pertama, pemahaman sosok calon literat terhadap literasi itu masih mengambang dan menganggap biasa saja. Kedua, umumnya menganggap bahwa setiap teks yang dijamah itu hanya sekadar dibaca dan dipahami saja dan tidak perlu untuk ditidaklanjuti dalam bentuk tulisan yang baru. Sikap seperti ini sebenarnya sungguh mudah diubah, apalagi bagi orang-orang yang bernaung di bawah payung lembaga pendidikan. Bisa jadi dengan memperhatikan karya-karya orang lain, yang sosok penulisnya memiliki kesibukan luar biasa, tetapi karyanya tetap bersua.

Mencermati kelambanan, kelalaian, dan kesalahpahaman terhadap literasi pada diri peserta didik dan tenaga kependidikan, Kepala Sekolah melakukan gebrakan konkret.  Beliau adalah Bapak Drs. Mukhtaruddin, M.Pd. yang saat ini memimpin SMA Negeri 7 Lhokseumawe. Sosok yang berperawakan mungil serta berwawasan milenial ini,  juga telah dapat melahirkan dua buku, yaitu buku "HABA GUREE" tentang Catatan Pemikiran Seorang Guru dan "HABA GUREE 2" tentang Catatan Pemikiran Kepala Sekolah.

Lalu..., gebrakan apa saja yang dilaksanakan dan dipersembahkan beliau kepada peserta didik dan tenaga kependidikan yang ada di bawah tanggung jawabnya? Mungkinkah perjuangan demi perjuangan pencinta literat ini dapat berbuah manis? Guna mengetahui kebijakan dan kepiawaian orang nomor satu di sekolah dimaksud dalam memberi kado istimewa kepada pencinta ilmu itu, paparan berikut merupakan jawaban konkret.

Pengadaan dan Pemberdayaan Pustaka Digital  


Perpustakaan adalah jendela dunia. Pepatah kuno ini rasanya lestari sepanjang zaman karena perpustakaan adalah gudang ilmu. Guna mengetahui berbagai ilmu dan pengetahuan terhadap berbagai persoalan hidup, itu dapat dijangkau dengan mudah melalui perpustakaan. Terlebih saat ini taman bacaan yang didambakan itu pun terdapat di mana-mana, termasuk di sekolah. Dengan begitu, warga sekolah tidak harus membuat program yang lebih ribet dengan mengeluarkan sejumlah dana serta menentukan waktu luang untuk menuju ke lembaga ilmu itu.

Alhamdulillah..., SMA Negeri 7 Lhokseumawe sampai saat ini masih dina-khodai oleh seorang Kepala Sekolah yang profesional. Sosok gemar menulis ini telah mampu membawa warga sekolahnya ke alur literasi yang tangguh. Berkat kerja keras beliau, kini sekolah asuhannya itu telah memiliki pustaka digital, yang telah dapat dioperasikan sejak tahun 2020 sampai detik ini.  Di ruang perpustakaan sekolah tersebut terdapat 6 (enam) unit komputer, yang digunakan untuk pustakawan 2 (dua) unit dan 4 (empat) unit lagi difasilitasi kepada penguna jasa pustaka. Pengadaan media elektronik ini mengacu kepada dana BOS.

Langkah pemberdayaan pustaka digital ini pun dirancang secara bersahaja. Hal ini sebagaimana hasil wawancara penulis dengan Kepala Sekolah dan Kepala Perpustakaannya, bahwa adanya wajib kunjungan pustaka. Keduanya mengilustrasikan bahwa "Ruang perpustakaan kita memang sederhana dengan ukuran yang tidak luas pula. Namun, performanya itu kita coba racik sedemikian rupa sehingga hal yang biasa akan menjadi suatu yang luar biasa. Yang paling utama di sini adalah pemanfaatan ruang tersebut secara optimal sehingga lebih berdaya guna dan berhasil guna. Dalam hal ini, kunjungan dan layanan harus berjalan secara harmonis."

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
Mohon tunggu...

Lihat Konten Pendidikan Selengkapnya
Lihat Pendidikan Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun