Mohon tunggu...
Maryanah Ahnan
Maryanah Ahnan Mohon Tunggu... Profesi sebagai penulis dan guru

Mahyra Senja adalah nama pena dari Maryanah, S. PD seorang guru mata pelajaran bahasa Indonesia yang gemar menulis fiksi dan puisi.

Selanjutnya

Tutup

Edukasi

Ancaman Corona Mengintai Siswa

19 Maret 2021   13:07 Diperbarui: 19 Maret 2021   13:13 73 2 0 Mohon Tunggu...


Tahun ajaran baru sudah semakin dekat. Rencana mengenai pembukaan sekolah pun akan segera diterapkan oleh pemerintah. Begitu pula puluhan juta siswa di seluruh dunia yang terkena dampak covid-19, seperti negara Rusia, China, Polandia, Belgia, Singapura, Australia, Prancis dan Amerika sudah memutuskan untuk kembali membuka sekolah setelah hampir satu semester belajar di rumah. Meskipun jumlah korban yang terinfeksi virus corona meningkat tajam. Namun, karena kondisi corona itu tidak dapat dicegah dan berakibat fatal bagi dunia pendidikan, akhirnya langkah penutupan sekolah kembali diberlakukan.

UNESCO mengungkapkan pandemi covid-19 mengancam 577 juta pelajar di dunia dengan total 39 negara yang menerapkan penutupan sekolah. Total pelajar yang berpotensi dan beresiko tertularnya covid 19 yaitu kurang lebih 86.034. 287 orang siswa di dunia. Hal ini yang menyebabkan berbagai kekhawatiran dari beberapa pihak, khususnya orang tua dan guru karena akan berdampak bagi dunia pendidikan yaitu munculnya kluster corona baru, akan membuat virus ini menyebar semakin luas.  

Jika kegiatan tatap muka tetap diberlakukan maka upaya pemerintah dalam mencegah kluster ini akan gagal, karena keputusan pemerintah yang akan merencanakan kegiatan tatap muka tanpa persiapan yang matang dan tergesa-gesa dikhawatirkan hanya akan menambah masalah baru bagi pendidikan ditengah masyarakat yang terancam corona. Keresahan yang dirasakan oleh seluruh elemen pendidikan pun mulai meningkat.

Hasil belajar yang dicapai melalui proses belajar secara jarak jauh, dirasakan belum mencapai tujuan belajar yang diharapkan. Meskipun berlakunya kurikulum darurat di masa pandemi, tetapi pada kenyataannya tidak berjalan secara efektif.  Masalah baru pun muncul, seiring berjalannya waktu, upaya memberantas kebodohan bagi dunia Pendidikan, akan terasa sangat sulit mengingat tidak diberlakukan kegiatan tatap muka di sekolah. Dampak yang sangat terasa adalah dunia pendidikan semakin ditinggalkan sehingga akan berpengaruh pada kualitas Pendidikan dan manusia.

Salah satu manfaat kegiatan belajar tatap muka yaitu meningkatkan pendidikan karakter dan pembentukan budi pekerti siswa, karena hal tersebut tidak mungkin tercapai dengan belajar secara jarak jauh, tetapi perlu contoh dan keteladanan dari guru. Bila tidak mendapatkan penanganan yang tepat mengenai pendidikan karakter ini, maka lambat laun akan terjadi pergeseran moral di tengah masyarakat hingga akhirnya merambat pada masalah ekonomi, sosial dan budaya.

Upaya yang dilakukan guru dalam menangani masalah ini pun beragam, mulai dari memberikan materi yang kreatif hingga metode pembelajaran jarak jauh yang menarik bagi siswa. Guru pun dituntut untuk menguasai metode pelajaran jarak jauh bahkan berbondong-bondong belajar menggunakan teknik pengajaran secara online. begitu pula dengan siswa. Mereka dituntut untuk menguasai komputer tanpa bimbingan guru, serta disiplin belajar di rumah. Namun, kendala yang dialami oleh siswa yang seringkali terjadi yaitu ketersediaan gawai, laptop, komputer dan kuota internet.

Tanpa salah satu sarana belajar tersebut, maka mereka terancam tidak dapat melaksanakan pembelajaran jarak jauh. Pemerintah berupaya memberikan kuota bagi siswa secara gratis, tetapi pada kenyataannya belum berjalan secara efektif, karena kuota yang diberikan tidak sebanding dengan kebutuhan siswa. Sehingga tidak semua siswa bisa mengikuti sistem pembelajaran jarak jauh, terutama masyarakat yang tinggal di daerah. Selain masalah tersebut ketersediaan sinyal dan ketidakmampuan menggunakan teknologi menjadi ancaman baru bagi embelajaran sistem belajar ini.

Masalah yang dihadapi oleh instansi pendidikan sangatlah kompleks, terutama di Indonesia. Meskipun bila seandainya pemerintah memberlakukan kegiatan tatap muka, selama pandemi dengan mematuhi protokol kesehatan. Namun, ancaman akan munculnya cluster baru tidak bisa dipungkiri lagi. Akibatnya akan menambah masalah baru dan semakin bertambahnya korban akibat virus ini, sedangkan jika pemerintah terus menerus memberlakukan sistem belajar secara jarak jauh, maka akan berdampak pada ancaman kesehatan mental siswa di masa pandemi, praktikum bagi sekolah kejuruan tidak bisa terlaksana, program belajar keluar negeri menjadi terhambat, banyaknya keluhan baik sarana maupun lainnya dari pihak orang tua siswa.

Polemik ini akan terjadi karena aktivitas normal di sekolah berkurang, apalagi jika masa berlangsungnya Pendidikan jarak jauh tersebut menjadi menjadi satu tahun. Hal ini akan berdampak pada mental siswa karena mereka belum beradaptasi dengan dunia pendidikan secara online dan sarana untuk bersosialisasi dengan teman sebaya pun berkurang, hingga menurunnya minat dan belajar siswa. Karena kebijakan pembatasan sosial yang terjadi tanpa persiapan yang matang dan upaya untuk menyelesaikan masalah tersebut belum dilaksanakan secara nyata.


Menurut Yulina Eva Riany, sebagai pakar ilmu anak dan keluarga fakultas ekologi manusia IPB, sejatinya aktivitas di sekolah adalah sarana untuk belajar dan bermain bagi anak serta remaja, hilangnya waktu bermain bersama teman sebaya, akan berdampak secara mental perkembangan mereka. Sehingga pemerintah perlu melakukan upaya pencegahan dan solusi mengenai masalah tersebut agar tidak berakibat fatal bagi kehidupan anak dan remaja.


Pandemi covid-19 ini telah menimbulkan kecemasan yang mendalam, bagi dunia pendidikan di seluruh dunia. Jika dibiarkan dalam jangka waktu yang panjang, maka akan mempengaruhi kualitas pendidikan di negeri ini. Meskipun segenap kebijakan pemerintah telah dilakukan untuk menyelamatkan sektor Pendidikan. Namun, upaya dan langkah terbaik harus diambil pemerintah agar tidak mengancam keberlangsungan dunia pendidikan.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
VIDEO PILIHAN