Mohon tunggu...
FX Aris Wahyu Prasetyo Saris
FX Aris Wahyu Prasetyo Saris Mohon Tunggu... Menikmati menulis dan membaca dalam bertualang makna kehidupan menuju kebijaksanaan abadi.

Penulis, Pembaca, Petualang, dan Pencari Makna.

Selanjutnya

Tutup

Edukasi

Kurikulum New Normal

3 Januari 2021   21:04 Diperbarui: 3 Januari 2021   21:16 301 0 0 Mohon Tunggu...

Pandemi Covid-19 di Indonesia memasuki fase baru dengan memulainya kebiasaan baru dengan hidup sehat ala new normal. Seiring dengan perkembangan pandemi dan fase kehidupan baru ini, sistem pendidikan mau tidak mau juga harus menyesuaikan dengan situasi dan kondisi ini, salah satunya kurikulum yang harus digunakan. Kurikulum normal (standar) tentunya sudah tidak relevan lagi digunakan apalagi kurikulum normal yang ada sangat berorientasi pada pengembangan pemahamaan materi dan menuntut perjumpaan langsung dalam pembelajaran.

Kurikulum darurat atau kurikulum new normal patut dikembangkan dan diterapkan di masa new normal pandemi Covid ini sebagai usaha untuk tetap mempertahankan kelangsungan pembelajaran anak-anak. Pendidikan tidak mungkin berhenti begitu saja karena situasi pandemi, justru sebaliknya pandemi ini menjadi konteks pendidikan yang kontekstual dan global. Namun memaksakan konten dan model pendidikan (pembelajaran) normal dalam kondisi new normal juga bukanlah sebuah kebijakan yang bijaksana. Kurikulum darurat adalah sebuah keharusan di saat pandemi ini.

Pembelajaran Kolaboratif

Kurikulum normal identik dengan pembelajaran dengan mata pelajaran yang banyak dengan materi yang banyak pula. Kurikulum new normal mau tidak mau harus mengurangi jumlah pelajaran tanpa harus menghilangkannya, yakni dengan cara pembelajaran kolaboratif atau dengan sederhananya menggabungkan beberapa konten yang ada dalam beberapa pembelajaran dalam sebuah model pembelajaran. Dengan demikian, mata pelajaran yang ada sangat kontekstual dan bersinergis satu sama lain, tidak berdiri sendiri seperti yang ada dalam kurikulum normal. Selama ini, satu mata pelajaran berdiri sendiri dengan segala materi yang ada, seperti matematika dengan segala materi yang ada.

Kurikulum new normal dengan pembelajaran kolaboratif terimplementasi bukan dalam bentuk mata pelajaran murni, seperti matematika, Fisika, Bahasa Indonesia, dan sebagainya. Kurikulum ini akan memberikan konten-konten yang kolaboratif, bermakna untuk kehidupan nyata, dan reflektif tentunya. Sebagai ilustrasi, konten yang diberikan berupa proyek pembelajaran yang kaitannya dengan keseharian sehingga daya guna dan kontekstual pembelajaran benar-benar terjadi. Misalkan, pembelajaran dengan label "Sehari penuh Makna", di mana anak didik akan membuat jurnal harian dari bangun pagi sampai malam hari dengan mencatat segala aktivitas yang dilakukan dan merefleksikan nilai-nilai hidup (life value) yang terkandung di dalamnya. Pembelajaran ini dapat melibatkan pelajaran Bahasa Indonesia dalam segi penulisan, Agama dalam segi konten refleksinya, IPA dan IPS dalam segi analisis ilmiah dan sosialnya, dan Seni Rupa tatkala anak-anak diminta untuk membuat karikatur terhadap dirinya. Setidaknya dalam pembelajaran kolaboratif ini sudah melibatkan lima mata pelajaran dalam satu desain pembelajaran.

Pembelajaran kolaboratif ini akan meningkatkan kreativitas dan inovasi guru serta murid dalam pembelajaran, sekaligus membumikan materi pembelajaran yang selama ini hanya terpasung dalam buku teks dan oreintasi materi di kelas. Di samping itu, pembelajaran kolaboratif dapat mengurangi beban belajar anak didik. Mereka akan memiliki waktu dan kesempatan yang lebih banyak untuk berkreasi dan berinovasi dalam kehidupan nyata.

Pembelajaran kolaboratif juga semakin memperdalam berbagai kecerdasan dalam diri anak didik yang selama ini banyak terfokus dalam kemampuan kognitif belaka. Pengembangan afeksi dan psikomotorik akan terasah dengan baik lewat berbagai proyek pembelajaran yang berguna dalam kehidupan nyata beserta refleksinya. Anak didik akan dihadapkan langsung dengan realita kehidupan sebagai materi pembelajaran. Sebagai contoh yang lain, ketika pembelajaran yang berlabel "Rumah Ekologiku" dengan melibatkan pelajaran Seni Rupa, Biologi, Kimia, Matematika, Fisika, Ekonomi, Sosiologi, dan Bahasa Indonesia, anak didik akan diminta membuat desian nyata untuk rumahnya agar ramah lingkungan (ekologis). Dalam pengembangan dari kehidupan nyata ini, afeksi anak didik akan terolah dalam menciptakan rumah yang secara ekologis dan juga sosial sangat ramah. Selain itu, anak-anak akan diaktifkan dalam pengolahan dan pengukuran, baik secara ilmiah, eksakta, dan eknomis.

Segera: Kurikulum Kolaboratif

Keadaan new normal sudah seharusnya menuntut kurikulum yang tidak normal, tidak mungkin menerapkan kurikulum seperti sebelum wabah pandemi Covid 19. Pemerintah dalam hal ini Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan sudah seharusnya bergerak cepat untuk mengolah kurikulum kolaboratif untuk semua jenjang dan level pendidikan. Memaksakan kurikulum normal dalam situasi new normal adalah sebuah perangkap pendidikan yang membuat guru dan anak didik terjerat dalam beban pendidikan yang begitu brutal. Apalagi dalam situasi pembelajaran jarak jauh yang masih berlangsung akan tidak bijaksana menerapkan kurikulum normal.

Kurikulum kolaboratif dapat menjadi sebuah terobosan darurat di masa new normal ini sehingga pemerintah harus bergerak cepat memetakan dan mengklasifikasikan berbagai label pembelajaran yang berbasis pada kehidupan nyata dalam pembelajaran kontekstual dan reflektif. Hal ini akan mengurangi beban belajar anak, namun tidak mengurangi esensi pendidikan yang humanis dan reflektif.

Meminjam kata-kata John Dewey, seorang filsuf dan pemikir dalam dalam bidang pendidikan dari Amerika Serikat, bahwa pendidikan bukanlah persiapan hidup, namun pendidikan adalah hidup itu sendiri. Hal ini semakin memantapkan pentingnya kurikulum kolaboratif dalam situasi new normal ini sebagai kurikulum terobosan di mana kurikulum kolaboratif berbasis pada kehidupan nyata anak didik lewat pengolahan sinergis kedalaman intelektual, afeksi, psikomotorik, sosial, dan ekologi. Kita tidak perlu mengeluh dan menyerah dengan pandemi ini, pendidikan harus jalan terus dan kurikulum kolaboratif dapat menjadi babak baru dalam pengembangan pendidikan nasional yang lebih kontekstual, berdaya guna, menyenangkan, dan reflektif. Sekolah bukan lagi sekadar gedung, namun kehidupan ini adalah sekolah yang begitu kaya dengan sumber belajar. Tetap semangat bersekolah.

VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x