Martino
Martino profesional

Gemar Menulis, Penimba Ilmu, Pelaku Proses, Penikmat Hasil

Selanjutnya

Tutup

Humaniora

Dari Aroma Jatuh ke Hati

29 Desember 2017   23:51 Diperbarui: 30 Desember 2017   00:02 396 0 0

Pertemuan yang tak pernah disangka,terjadi apa adanya. Saat letih menyelimuti diri, ia hadir memberi arti.

Beberapa bulan terakhir, rutinitas utamaku berubah menjadi pejuang tugas akhir (baca: skripsi). Itu pula yang membuatku tak mengendurkan semangat jika ingin lulus tepat waktu. Meskipun aku merasa sedikit kepayahan mengatur waktu kegiatan-kegiatanku. Seperti halnya hari ini. Janji bertemu dengan dosen pembimbing bersamaan dengan jadwal interview dan agenda lainnya memacuku kembali mengatur energi.

Pagi ini bimbingan skripsiku yang kelima. Tampak mendekati akhir terasa semakin sulit. Terasa benar apa kata pepatah latih "Ad astra per aspera"--sebuah pencapaian memang perlu pengorbanan, rintangan, kesulitan.Tantangan jadwal pagi semakin berat, sebab selalu memaksaku meninggalkan sarapan dan berdesakan di gerbong KRL Maklum, sebagai orang yang moody, dua hal tadi bisa sangat berpengaruh pada mood-ku seharian saat beraktifitas.

Tantangan itu semakin berwarna jika musim hujan datang. Maklum, efeknya bagi pejalan kaki dan pengguna angkutan umum sepertiku, harus rela kebasahan jika sedang sial  ditengah perjalanan. Ah, tapi itu sama sekali tidak melunturkan semangatku menyelesaikan tugas akhir. Hanya saja aku harus meningkatkan kewaspadaanku agar aktivitasku tidak terhambat.  

Khusus pagi ini aku menggunakan ojek online untuk mengantarkanku ke stasiun KRL. Mengingat aku harus bergegas agar tak terlambat. Tak disangka, inilah awal perjuanganku hari ini. Ditengah perjalanan, 200 meter menjelang stasiun, hujan turun. Tanggung memang, tapi jika dipaksakan pasti kadung basah. Akhirnya kami menepi untuk mengenakan jas hujan sederhana. Meskipun tak menutup semuanya, tapi lumayanlah untuk melanjutkan perjalanan sampai stasiun.

Setibanya distasiun, aku langsung bergegas masuk KRL tujuan Jakarta. Tampaknya kereta sudah sangat padat. Benar saja, begitu masuk penumpang sudah berdesakan. Aku langsung terhimpit dalam posisi berdiri didekat tiang pembatas. Saat aku mencoba membuat posisiku nyaman dengan menaruh posisi tas berada didepan, tiba-tiba "Jedugg!" Keningku menghantam tiang didepanku karena terdorong penumpang lain yang berhimpitan.

"Ahh..aduh", aku mengerang kesakitan.

Rupanya eranganku menarik perhatian seorang ibu yang duduk tepat disebelah tempatku berdiri.

"Aduh, gak papa mbak?, coba dikasih ini mbak supaya gak memar"ujar ibu itu sambil menyodorkan sesuatu digenggamannya.

"Oh iya bu, ga apa-apa" jawabku smbil masih memegangi kening.

"Diolesin aja mbak, ga papa lumayan buat ngilangin nyerinya" sambungnya sambil menyodorkan.

Akhirnya ku terima botol mini yang sekilas berwarna hijau dan bertutup ungu karena memang masih terasa nyeri. Minyak kayu putih rupanya. Aku teteskan beberapa dijari dan hirup aromanya sebelum aku oleskan pada kening. Tercium aroma mawar yang segar nan lembut.

"Wah beda banget dari minyak kayu putih biasanya " pikirku. Aku perhatikan botolnya tertulis 'Minyak ekaliptus, aromatherapy-rose' produk Cap Lang.

"Gimana dek? Enak kan?"ujar ibu tadi.

"Wah iya bu, terimakasih banyak ya bu" jawabku sambil segera mengembalikan kepada empunya.

Aku tertarik untuk membeli Kayu Putih Aroma seperti itu. Selain aromanya menyegarkan, khasiatnya juga aku butuhkan.

        Setelah melewati beberapa stasiun pemberhentian, akhirnya KRL tiba di stasiun UI. Jam menunjukan pukul 08.20. Aku bergegas menuju gedung fakultas. Saat itu aku baru menyadari ternyata pakaianku terasa basah efek hujan tadi. Bisa masuk angin, pikirku. Aku langsung teringat dan memutuskan mampir ke toserba koperasi mahasiswa  yang memang. Kebetulan niatku ingin membeli minyak KayuPutihAroma tadi.

        Pucuk dicinta ulam tiba. Di etalase aku menemukan apa yang aku cari tadi. Bahkan aku baru tahu ada 4 varian aroma sekaligus,  lavender, rose, green tea dan ekaliptus, semuanya kayu putih aromaterapi! Aku memutuskan untuk membeli aroma mawar karena terlanjur jatuh hati tadi. Selesai membayar dan melanjutkan perjalanan ke fakultas, ponsel ku berdering. Ternyata WAdari Gita yang hari ini juga bimbingan mengabariku kalau dosenku sudah tiba.

       

        Sesampainya di fakultas tampak si Gita menunggu. Aku tidak langsung menghampirinya, tetapi ke toilet terlebih dulu. Selang 5 menit, aku menghampirinya.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4