Mohon tunggu...
Martien
Martien Mohon Tunggu...

Sosok yang bernama lengkap Jambi Besma Martien ini lahir di Jambi, 22 Maret 1985. Putera kedua dari pasangan AMALDI,S.Sos. dan YUHANIS pernah mengikuti Pelayaran Kebangsaan VII di tahun 2007, Dialog Kebangsaan tahun 2008, Temu Sastrawan Indonesia I tahun 2008, Surveyor di Lingkaran Survey Indonesia (LSI) dan Jambi Polling Center (JPC) dalam rentang 2005-2008, menjadi Relawan di bencana Gempa Sumatera barat tahun 2009, terakhir mengikuti MVS training yang diadakan UN-VOLUNTEERS tahun 2013. Saat ini tercatat sebagai Ketua DPD KNPI Kabupaten Sarolangun. Mengabdikan dirinya untuk kampung halaman,bangsa dan negara. Dan mengisi waktu luangnya dengan membaca dan menulis.

Selanjutnya

Tutup

Politik Pilihan

Menjadi Panitia Kenduri Demokrasi

27 September 2016   16:30 Diperbarui: 27 September 2016   16:38 9 0 0 Mohon Tunggu...

DIPASTIKAN dua calon bupati akan bertarung dalam pilkada Kabupaten Sarolangun. H. CEK ENDRA – H. HILALATIL BADRI diusung oleh PDI-Perjuangan, Golkar, Gerindra. PPP, NasDem, PKB, PKPI dan PAN. Sedangkan HM. MADEL – H. MUSHARSYAH diusung oleh PKS, Hanura, dan Demokrat.Inilah calon pemimpin yang akan menjadi Bupati – Wakil Bupati Sarolangun selanjutnya. Seperti itu juga di kabupaten lain di Provinsi Jambi, Muaro Jambi dan Tebo, juga telah memastikan calon bupati masing-masing. Siapa yang benar-benar akan dipilih oleh rakyat, masih harus menunggu 15 Februari 2017 nanti.

Rayakanlah!

Haruskah? dan Kenapa dirayakan? Ya, harus dirayakan. karena Pilkada adalah acara setiap 5 (lima) tahun sekali, telah menjadi Sebuah acara berskala besar melibatkan semua orang dewasa (diatas 17 tahun) dengan semua Suku, agama, dan beragam pekerjaan ikut terlibat. Karyawan di kantor, Petani di ladang, pedagang di pasar, pelajar/mahasiswa di sekolah/kampus terlebih lagi penyelenggara, dan tim sukses ikut merasakan suasana pilkada. Premisnya, perayaan 1 tahunan saja kita rayakan apalagi yang diadakan Cuma 5 (lima) tahun sekali.

Layaknya sebuah kenduri besar, dimana perasaan sukacita dan harapan bercampur dalam semangat memeriahkan. Penyelenggaranya (KPU dan Panwas) wajib mempersiapkan dengan sebaik mungkin dan tentu saja harus netral. Para pendukung setiap calon akan sering bersinggungan dan tidak mau kalah mengelu-elukan calon bupati masing-masing sembari mempromosikannya kepada khalayak ramai. Dan kita (aku dan kamu, iya, kamu..) yang akan menimang-nimang mana yang terbaik diantara pasangan calon menjadi bupati dan wakil bupati selanjutnya.

Dan sepertinya kenduri demokrasi di kabupaten Sarolangun kali ini akan lebih menarik, ramai dan ketat dikarenakan calon yang bertarung hanya 2 (dua) pasangan calon. Masing-masing memiliki karakter pembeda, visi-misi dan tim pemenangan yang berbeda pula. Pilihannya hanya 2 (dua), kalau bukan mendukung Cek Endra-Hilalatil maka dapat diasumsikan mendukung Madel-Musharsyah, begitu pun sebaliknya. Dan memilih untuk tidak memilih keduanya adalah bentuk ketidak-pedulian terhadap perbaikan daerah.

Yah, Agak miris memang disaat penyelenggara kenduri demokrasi bersemangat mempersiapkan acara, ada sebagian warga yang #GolonganPutih tidak peduli, apatis dan ujung-ujungnya pasrah dengan hasil kenduri demokrasi.

Apabila ada warga yang tidak peduli dengan perayaan ini, sembari berkata, “Bosan, Calonnya itu-itu saja”, “terpilih atau tidak terpilih, kehidupan masih susah juga”, atau “Sibuk, Tak ada waktu untuk ikut milih”, maka disinikita (baca: pemuda) bisa mengambil peran untuk mempromosikan perayaan pilkada serentak ini.

Pemuda, menjadi objek atau subjek pilkada?

Pemuda, yaitu penduduk yang berusia 17-40 tahun (menurut Kongres XIV Pemuda tahun 2015) merupakan salah satu representasi pemilih yang memiliki angka besar untuk ikut didalam kenduri demokrasi ini. Massa mengambang (swing voters) paling banyak ada di segmen pemilih pemula, dan mereka adalah berusia muda. Tantangannya apakah kita (baca: pemuda) menjadi objek pilkada atau Subjek (pelaku) pilkada?

Tentu kalau pemuda tidak mau ambil pusing dan menghindari keringat, cukup lah menjadi objek pilkada, sekedar datang ke TPS dan memilih calon bupati yang kita anggap sesuai dengan hati nurani. BELUM CUKUP? Maka penulis menawarkan peran yang lebih baik dan sesuai dengan kebutuhan pemuda.

Menjadi panitia kenduri demokrasi, tanpa dibeberkan sebenarnya sudah banyak sebagian pemuda yang terlibat aktif sebagai penyelenggara pilkada. Baik itu sebagai Komisioner KPU dan panitia turunan dibawahnya, maupun sebagai Panitia Pengawas beserta perangkatnya. Tapi perlu diingat saat menjadi penyelenggara, WAJIB hukumnya menjaga netralitas dan integritas adalah nomor satu.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x