Maria G Soemitro
Maria G Soemitro Social worker

Kompasianer of The Year 2012; Founder #KaisaIndonesia; Member #DPKLTS ; #BJBS (Bandung Juara Bebas Sampah) http://www.kaisaindonesia.org/

Selanjutnya

Tutup

Cerita Ramlan Pilihan

Bersatu Dalam Bedug dan Ketupat Lebaran

13 Juni 2018   23:58 Diperbarui: 14 Juni 2018   03:07 803 1 0
Bersatu Dalam Bedug dan Ketupat Lebaran
sumber: wartasolo.com

Sukabumi puluhan tahun silam. Kedatangan bulan  Ramadan bisa ditandai  dengan datangnya  pemanen buah aren, bahan baku kolang kaling. Sedangkan  penghujung Ramadan akan terasa ketika pemanen  daun kelapa muda, mulai berdatangan. Kurang lebih ada 5 -- 10 pohon kelapa yang tumbuh di belakang rumah.  Mereka akan memanen daun kelapa muda dan menjalinnya menjadi bentuk  bungkus ketupat.

Baca juga : Kolang Kaling dan Toleransi Beragama Mewarnai Ramadan di Sukabumi

Aktivitas memotong daun kelapa agar simetris, menekuk, memintal hingga berbentuk cangkang  ketupat berlangsung hingga hari terakhir Ramadan. Bungkus ketupat biasanya dikirim ke pasar, dan untuk konsumsi penduduk sekitar rumah.

sumber: lurulagu.com
sumber: lurulagu.com
Hari terakhir Ramadan juga berarti datangnya kiriman ketupat, opor, rendang, sambal  goreng dan ase cabai hijau, dari tetangga disekitar rumah. Jenis masakan terakhir, ase cabai hijau datang dari tetangga etnis Sunda. Mereka inilah yang menulari saya dengan "virus" masakan Sunda yang cenderung soft rasa bumbunya dibanding etnis Jawa yang lebih berat oleh bumbu dan santan kental.

Dalam perjalanan  beradaptasi dengan lingkungan, almarhum ibunda yang datang ke Kota Sukabumi sekitar tahun 1958 dari Kota Jogjakarta, terjadi rangkaian silaturahmi dalam bentuk saling kirim masakan hari raya. Tetangga yang beragama Islam akan  mengirim masakan khas Lebaran, sebagai balasan Ibu akan mengirim masakan/kue menjelang Natal. Demikian terus hingga Ibu mulai sakit-sakitan dan pindah dari rumah di jalan Siliwangi, Sukabumi.

Tetangga dekat rumah menggunakan nampan dan piring-piring kecil sebagai wadah lauk-pauk. Sedangkan mereka yang letaknya jauh memasukkan ketupat dan lauk pauknya dalam rantang. Tak ada wadah sekali pakai kala itu. Jika sempat, kami akan membasuh dulu wadah bekas lauk pauk. Namun lebih sering tidak, para pembawa kiriman makanan, umumnya anak-anak tetangga, sering tidak sabar. Ingin segera pulang.

Namun, walau terbawa arus euforia Lebaran, tetaplah kami hanya penonton. Penonton yang ikut menyicipi masakan, mendengar bedug dan petasan, serta ikut nonton acara televisi. Berita mudik tidak seheboh sekarang.  Ada yang saya ingat terkait penggalan berita  mudik yaitu meledaknya gerbong kereta api akibat petasan. Salah seorang penumpang membawa bubuk petasan dalam jumlah banyak untuk perayaan Lebaran.  

Dia tidak memperhitungkan gesekan dan udara panas bisa menyebabkan petasan/mercon meledak. Akibatnya banyak penumpang meninggal dunia. Seorang penumpang perempuan mengalami luka bakar di wajahnya, meninggalkan bekas yang mengerikan walau telah beberapa kali operasi.

Beda halnya ketika saya telah masuk Islam pada tahun 1988, terlebih berkeluarga setahun kemudian dan kemudian muncul anak-anak. Lebaran berarti ikut bergembira ria. Larut dalam euforia menyambut hari raya. Dan menjelang  Lebaran berarti menyiapkan busana dan masakan untuk keluarga. Menyetrika dan menggantung  baju baru agar siap pakai keesokan harinya.

Sementara kesibukan nyata nampak di dapur. Sebetulnya saya tidak memiliki panutan masakan Lebaran. Ibu kandung saya beragama Katolik, sedangkan ibu mertua sudah meninggal sebelum saya menikah. Konon almarhum ibu mertua  tidak memiliki masakan khas Lebaran, hanya nasi dan lauk pauk khas Jawa. Tidak ada ketupat dalam Lebaran khas Jawa Tengah, ketupat baru muncul di Lebaran Ketupat beberapa waktu kemudian.

Sehingga saya yang memutuskan masakan khas keluarga saya, yaitu ketupat, opor ayam, sambal goreng, rendang dan lain-lain. Opor harus selalu ada, karena masakan inilah yang selalu disebut anak saya ketika berpuasa: "Mah, nanti lebaran makan opor, ya?" Ah, tentu saja jawabannya iya, apa sih yang ngga untuk anak. Terlebih jika mereka menuntaskan ibadah 30 hari penuh, sejak Imsak hingga Magrib.

Jika masakan opor dan sambal goreng bisa dimasak dalam waktu relatif pendek. Tidak demikian halnya dengan ketupat. Ketupat hanya dimasak setahun sekali.  Resepnyapun harus menelpon ibunda di Sukabumi. 

Saya bagikan  disini, ya?

Saya membuat 20-30 buah ketupat, tergantung ukuran cangkang.  Cangkang yang telah bersih diisi beras yang sudah dicuci bersih. Jika menginginkan nasi ketupat yang lembek,  beras yang dimasukkan kurang lebih sebanyak 1/3  cangkang ketupat .   Dan ukuran 1/2  cangkang ketupat bila menyukai nasi ketupat yang lebih keras. Yang penting jangan kebanyakan, karena beras tidak bisa mengembang sempurna dan nasi akan keras.

Ketupat-ketupat yang telah berisi beras dimasukkan dalam wadah besar yang telah diisi air. Air harus merendam semua ketupat, kemudian masak sekitar 4 -5 jam. Jika telah masak, angkat dan gantung  ketupat untuk santapan esok hari.

 Awal membuat ketupat, saya membutuhkan waktu yang cukup lama. Bisa setengah hari hanya untuk memasukkan beras ke dalam cangkang ketupat. Seiring waktu makin bertambah cepat dan luwes. Ketupat sudah masak ketika bedug bertalu bergantian dengan kumandang takbir. Menemani saya memasak lauk pauk lainnya, opor, sambal goreng dan rendang.

Tahun  berganti. Era berubah. Bumi berputar. Ada yang ditinggalkan oleh sang waktu. Namun makna Lebaran tetap sama. Ketika masyarakat muslim bersuka ria menyambutnya. Diiring bedug dan dinanti ketupat. Silaturahmi yang menghangatkan hati. Dan permohonan tulus pada Illahi agar meridhoi semesta