Maria G Soemitro
Maria G Soemitro Social worker

Kompasianer of The Year 2012; Founder #KaisaIndonesia; Member #DPKLTS ; #BJBS (Bandung Juara Bebas Sampah) http://www.kaisaindonesia.org/

Selanjutnya

Tutup

Hijau Pilihan

Mengubah Paradigma tentang Sampah di Konferensi Internasional Zero Waste Cities

9 Maret 2018   14:29 Diperbarui: 9 Maret 2018   15:06 781 3 5
Mengubah Paradigma tentang Sampah di  Konferensi Internasional Zero Waste Cities
Flore Berlingen di International Zero Waste Cities Conference (doc. Maria G Soemitro)


"Sayangi bumi, bersihkan dari sampah"

Demikian tagline International Zero Waste Cities Conference  (IZWCC) yang dihelat dalam melengkapi rangkaian Hari Peduli Sampah Nasional (HPSN) ke – 12 di Kota Bandung, Cimahi dan Soreang pada tanggal  5 – 7 Maret 2018.  Merupakan  konferensi  internasional ke -3 dan pertama di Indonesia setelah penyelenggaraan  pertama dan kedua di Philipina.

Unik sekaligus sangat beralasan mengapa Kota Bandung, Cimahi serta  Soreang terpilih  sebagai tuan rumah. Yaitu:

  • Akibat longsornya tempat pembuangan sampah akhir (TPA) Leuwigajah tercetuslah Hari Peduli Sampah Nasional setiap tanggal 21 Februari.  Sebagaimana diketahui  tumpukan sampah Leuwigajah  berasal dari tiga daerah tersebut:  Kota Bandung,  Cimahi dan Kabupaten Bandung.
  • Ketiga kawasan tersebut, khususnya Kota Bandung dan Cimahi merupakan tuan rumah yang paling siap dibanding kota-kota lain di Indonesia. Karena telah membentuk Kawasan Bebas Sampah (KIBS) serta membuat beberapa terobosan terkait pengelolaan sampah.
  • Tak kalah penting adalah para pegiat persampahan yang bergabung dalam Bandung Juara Bebas Sampah (BJBS). Mereka adalah lembaga independen seperti YPBB, Greeneration Indonesia, pihak pemerintah dan media setempat.

Konferensi ini memang tidak hanya membahas bagaimana agar sampah tidak terlihat oleh pandangan mata orang awam. Tapi juga meniadakan sampah yang diaplikasikan pada kota nol sampah (zero waste cities) dengan berpijak pada circular economy.

Karena itu forum terbagi  dua, yang pertama  City Leader Forum, diikuti para kepala daerah dari seluruh Indonesia yang bisa diwakili SKPD terkait.  Diselenggarakan di Hotel Papandayan,  event bertujuan agar para pemegang kebijakan memahami  konsep circular city yang mampu menciptakan sumber daya bagi pembangunan kota.  Diharapkan konsep ini menjadi dasar pembangunan  di wilayah masing-masing.

Forum kedua adalah Civil Society Forum dengan materi dan suasana yang lebih cair. Diselenggarakan di Eco Camp yang terletak di Bandung utara nan sejuk, warga masyarakat mendapat wawasan circular city dari para pakarnya, perwakilan Gllobal Alliance for Incinerator alternatives (GAIA), Break Free From  Plastic (BFFP), Aliansi Zero  Waste Indonesia (AZWI) selama 5 hari.

Karena menyasar peserta yang kemungkinan besar belum memahami  circular city, maka diterapkan Zero Waste Event, yaitu sistem pengelolaan sampah yang diterapkan pada suatu kegiatan (event).  Tujuannya  untuk meminimalisasi sampah menuju nol sampah (zero waste). Harapannya agar  peserta event mendapat edukasi,  ibarat  menciptakan sebuah “dunia kecil” yang kondusif untuk belajar memperlakukan barang yang sudah tidak terpakai (mengelola sampah).

Ruang pertemuan:

Berlawanan dengan kebiasaan makan orang kita  yang  meninggalkan piring bekas makanan dan sampah sisa makanan di meja atau sering dimana saja. Dalam penyelenggaraan IZWCC, usai makan snack dan santap siang, peserta diharapkan mendatangi  Zero Waste Spot untuk membuang sampahnya pada tempat sampah khusus dan meletakkan piring serta sendok garpu di tray yang disediakan.

Zero Waste Spot (doc. Maria G Soemitro)
Zero Waste Spot (doc. Maria G Soemitro)

Juga ada beberapa perubahan dalam cara penyajian, yaitu:

  1. Tisu dan tusuk gigi adalah 2 jenis barang yang hanya akan dikeluarkan bila diminta oleh peserta.
  2. Gula untuk coffee break diberikan dalam bentuk curah, tidak dikemas kertas/bentuk sachet.
  3. Plastic wrap tidak digunakan untuk snack maupun makan siang
  4. Snack  bebas dari  kemasan plastik dan paper cup.
  5. Air minum disajikan menggunakan gelas kaca tanpa tutup kertas.

coffee break bebas sampah (doc. Maria G Soemitro)
coffee break bebas sampah (doc. Maria G Soemitro)

Hotel tempat menginap

Upaya pengurangan sampah menuju nol samkpah juga dilakukan di penginapan peserta konferensi,  meliputi:

  • Air minum disediakan dalam botol kaca.
  • Kopi dan gula disediakan dalam wadah keramik.
  • Ada himbauan terkait penghematan air untuk handuk dan seprai. Serta potensi sampah lainnya yaitu  toiletries dan sandal hotel.

sajian bebas sampah (doc. BJBS)
sajian bebas sampah (doc. BJBS)


Jika diperhatikan secara seksama, perubahan ini  bukan sesuatu yang baru ya? Kita sudah melakukannya sebelum perusahaan  dengan gencar memasarkan produk sekali pakai. Gaya hidup konsumtif serta  cara mudah dengan sachet kemasan.

Rupanya kemajuan teknologi bisa mengakibatkan kehancuran jika tidak digunakan dengan bijaksana. Salah satunya penggunaan plastik untuk mempermudah hidup manusia berbalik menimbulkan potensi bencana karena sulit terurai di alam. Bahkan dikuatirkan jumlah sampah dilautan melebihi biota laut (sumber).

Linear Economy vs Circular Economy

sumber: government.nl
sumber: government.nl
Circular city merupakan perwujudan circular economy di perkotaan.

Mengapa circular economy?

Karena  linear economy menghabiskan sumber daya alam secara boros dan  tidak berkelanjutan. Negara-negara di Eropa sudah bergerak menuju circular economy sehingga diharapkan pada tahun 2050 tidak ada lagi penerapan linear economy.

Demikian menurut Flore Berlingen, Zero Waste France Director yang menyajikan materi "Adopting Zero Waste Towards a Circular Economy”. Lebih lanjut Flore mengemukakan bahwa untuk memastikan ada cukup makanan, air dan kemakmuran pada tahun 2050, kita perlu beralih dari linear economy ke circular economy. Tujuannya  adalah agar tercipta kondisi hidup dan kerja yang sehat dan aman, serta tidak ada lagi kerusakan pada lingkungan.

Dalam circular economy, tidak ada lagi sampah. Produsen mendisain produk agar bisa digunakan kembali. Misalnya, kaca bekas digunakan untuk membuat kaca baru, kertas bekas digunakan untuk membuat kertas baru, plastik didaur ulang menjadi pelet untuk membuat produk plastik baru.

Produk dan bahan baku juga harus dapat digunakan secara maksimal. Perangkat listrik dirancang sedemikian rupa agar lebih mudah diperbaiki. Dalam circular economy kita memperlakukan lingkungan secara bertanggung jawab. Hasil akhirnya adalah tidak ada lagi sampah berserakan di darat dan lautan.

linear economy vs circular economy. sumber: pontsbschool.com
linear economy vs circular economy. sumber: pontsbschool.com

Berbeda dengan model linear economy  yang mengkonsumsi dan menyia-nyiakan sumber daya,  dalam circular economy  tercermin ekosistem yang tidak menyisihkan apa-apa. Semuanya, dari pakaian ke barang-barang rumah tangga hingga makanan dan peralatan, memiliki tujuan dan proses ulang setelahnya.  Tidak ada lagi  "sampah tradisional" karena semua telah  menjadi sesuatu yang bermanfaat bagi orang lain atau dalam bentuk lain.

Penerapan circular city di Indonesia

Dengan bayang-bayang pemerintahan Jokowi yang ngotot mempercepat pembangunan pembangkit listrik berbahan baku sampah (waste to energy), mungkinkah circular economy  diterapkan di kota-kota Indonesia?

Bengalore di India dan San Fernando, Filipina adalah dua kota yang mirip kota-kota di Indonesia yang telah mewujudkan circular city. Perwakilan kedua negara tersebut hadir dalam IZWEE dan mengemukakan banyak hal.

San Fernando di Filipina

MRF di San Fernando- Filipina (doc. BJBS)
MRF di San Fernando- Filipina (doc. BJBS)
Pemerintah Filipina hadir dalam bentuk peranan besar kelurahan ( barangay) yang  membangun dan mengelola Fasilitas Pemulihan Material (MRF) dan membentuk kelembagaan partisipasi masyarakat.

Tugas mereka meliputi:

  1. Mengelola kegiatan Solid Waste Management Board Kelurahan
  2. Menyelenggarakan pengumpulan sampah yang memastikan pengumpulan paling lambat 24 jam dari semuasumber
  3. Menyelenggarakan pengolahan sampah dan  memastikan terjadinya pengurangan sampah yang diangkut ke TPA (mandatory waste diversion):
  • 25% dalam 5 tahun
  • 50% dalam 10 tahun
  • Setelah itu harus ada kenaikan minimal setiap 3 tahun

Bengalore di India

Pengolahan sampah organik di Bengalore, India (doc. BJBS)
Pengolahan sampah organik di Bengalore, India (doc. BJBS)
Pemerintah memberikan subsidi besar-besaran untuk sarana pengkomposan. Alat pengkomposan skala rumah : 90%; Biodigester :75%. Karena itu:

  • Warga wajib memilah sampahnya, sampah organik  dikompos baik di pengomposan komunal maupun skala kecil.
  • Pemerintah hanya akan mengangkut sampah anorganik yang harus disetorkan dalam keadaan bersih. Semua sampah non organik ini akan diserahkan pada pabrik daur ulang. Tidak menutup kemungkinan jika warga ingin menjual sendiri sampah daur ulang atau diberikan kepada service provider
  • Pemberian insentif pada penghasil sampah kurang dari 10 kg akan dibayar pemerintah. Sedangkan keluarga yang memproduksi sampah lebih dari 10 kg harus membayar sendiri.

Dengan perbandingan 2 kota yang mirip dengan kota-kota di Indonesia secara ekonomi, sosial dan lingkungan, seharusnya circular city bisa diterapkan. Sudah waktunya mengucapkan selamat tinggal pada linear economy dan mengimplementasikan circular economy yang menjadi alternatif pemanfaatan sumber daya secara maksimal. Tidak ada lagi sumber daya habis-habisan, produksi -- konsumsi -- sampah.

Apabila pemerintah mau membuka mata dan memulai circular economy maka penyelamatan lautan dari cemaran sampah akan semakin mudah dilakukan. Juga pembenahan sungai Citarum, karena yang dilakukan sekarang hanya pengedukan  sedimen dan pengerukan sampah. Sementara perilaku membuang sampah tidak berubah.

Sarua jeung bohong kata Urang Sunda, alias sama dengan bohong.

Anda setuju?