Mohon tunggu...
Margaretha
Margaretha Mohon Tunggu... A passionate learner.

Margaretha. Pengajar, Peneliti, serta Konselor Anak dan Remaja di Fakultas Psikologi Universitas Airlangga. Saat ini sedang menempuh studi lanjut di the University of Melbourne.

Selanjutnya

Tutup

Kesehatan Pilihan

Psychological First Aid - Pertolongan Psikologis Pertama: Upaya Bantuan Awal dalam Bencana/Krisis

29 Mei 2020   22:32 Diperbarui: 8 Juli 2020   19:56 152 1 2 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Psychological First Aid - Pertolongan Psikologis Pertama: Upaya Bantuan Awal dalam Bencana/Krisis
dokumen pribadi

Buku Panduan Pertolongan Psikologis Pertama atau Psychological First Aid (PFA) versi World Health Organization (WHO) dalam Bahasa Indonesia telah diterbitkan oleh Universitas Airlangga. Akses terhadap buku panduan ini juga dibuka gratis di repository WHO (link lihat di referensi). 

Modul PFA WHO adalah salah satu yang paling banyak digunakan oleh relawan bencana/krisis dalam memberikan pertolongan pada manusia terdampak bencana/krisis di dunia. Tulisan ini menguraikan mengapa relawan perlu memiliki keahlian PFA sebelum masuk ke dalam konteks bencana/krisis.

Psikologis manusia setelah bencana/krisis 

Indonesia adalah salah satu daerah rawan bencana, baik bencana alam (banjir, gempa, erupsi gunung, dan sebagainya), maupun bencana yang dibuat manusia (kecelakaan, perang). Setiap tahunnya banyak bencana dan krisis terjadi dan mengakibatkan banyaknya orang terdampak bencana. Selain itu, setiap manusia bisa berhadapan dengan situasi krisis, misalkan: kehilangan/kematian orang yang dikasihi, persoalan personal atau keluarga, pandemi, dan krisis ekonomi serta krisis komunitas lain sebagainya.

Setelah bencana/krisis, manusia dapat menghadapi berbagai kerusakan fisik, psikologis dan sosial. Hal ini berdampak besar karena dapat memunculkan persoalan psikis dalam jangka pendek dan jangka panjang. Oleh karena itu, masyarakat di Indonesia harus memiliki kesiapan penanganan bencana dan krisis. 

Perlu dipahami bahwa tidak semua orang yang mengalami bencana/krisis akan menunjukkan gejala trauma. Adalah alamiah jika manusia terdampak bencana/krisis akan mengalami fase krisis, dan akan menunjukkan reaksi sedih dan emosional setelah mengalami bencana. Stress adalah reaksi normal dalam situasi abnormal seperti dalam bencana dan krisis.

Sebagian besar orang, biasanya akan melampaui kesulitannya tersebut dan kembali dapat berfungsi secara adaptif. Artinya, tidak semua orang membutuhkan penanganan trauma (trauma healing). Yang lebih penting adalah bantuan untuk menyesuaikan diri dengan kondisi krisis yang dialaminya. 

Namun, akan ada sebagian orang yang menunjukkan gejala problem psikologis, seperti: kesedihan sangat mendalam yang tidak bisa dikendalikan, kesulitan mengelola persoalan pribadinya, dan kesulitan menyesuaikan diri dalam bencana/krisis yang dihadapinya. Gejalanya, misalkan: emosi yang meluap-luap, sedih luar biasa hingga mereka kesulitan mengelola dirinya, kesulitan makan atau tidur, dan problem perilaku lainnya yang mulai menggangu mereka dalam melakukan hidup sehari-hari. Merekalah yang akan membutuhkan bantuan dari professional dalam bidang kesehatan mental.

Secara alamiah, reaksi emosional pada saat menghadapi musibah seperti ini akan menurun dengan berjalannya waktu. Namun, bila gejala reaksi emosional tersebut menetap dan dengan intensitas yang tinggi untuk waktu yang lama, atau lebih dari 3 bulan, maka akan diperlukan Terapi Trauma yang bisa diberikan oleh Psikolog Klinis atau Psikiater dengan spesialisi trauma therapy.

Apa yang dibutuhkan?

Bantuan psikososial dalam masa bencana/krisis diberikan untuk mendukung orang terdampak bencana untuk dapat kembali melakukan fungsi hidupnya sehari-hari, seperti: menyiapkan makan dan minum, bekerja, sekolah, perawatan diri dan melakukan interaksi sosial di komunitasnya. 

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
  5. 5
VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x