Mohon tunggu...
Mardi Sirait
Mardi Sirait Mohon Tunggu... Administer Social Justice

Menulis adalah pengabdian bagi keabadian dan bagi kebenaran. -Pramodya Ananta Toer-

Selanjutnya

Tutup

Gayahidup Pilihan

Integritas dan Kompetensi: Penjual Pisang Goreng

8 Oktober 2020   14:42 Diperbarui: 8 Oktober 2020   15:12 48 4 0 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Integritas dan Kompetensi: Penjual Pisang Goreng
Dok. pribadi

Integritas melapangkan seseorang untuk berjalan ke depan dan tanpa harus dihambat kasus yang menyanderanya. Integritas juga meleluasakan seseorang untuk melakukan yang benar tanpa harus dihalangi track record (jejak rekam) yang bermasalah sebelumnya.

Tentang kompetensi, kemampuan seseorang untuk menciptakan karya. Kompetensi memberikan kapasitas untuk menoreh berbagai prestasi terlebih untuk kemaslahatan dan hajat orang banyak di ruang publik.

Dunia kerja yang profesional membahas berbagai topik, dari bahasan etos kerja, bahasan reward-penghargaan atas suatu pencapaian, bahasan tentang punishment-hukuman atas pelanggaran aturan, bahasan atas insentif atau bonus, bahasan penilaian capaian kinerja (Key Performance Indicator) dan banyak topik-topik lain. Namun, secara prinsip dan nilai-nilai, bahasan di atas bukanlah hal yang asing ditengah-tengah hidup keseharian setiap orang-orang diberbagai kalangan.

Tidak lantas konsep, prinsip dan nilai bahasan diatas menjadi hal yang baru bagi mereka yang tidak dalam dunia kerja yang profesional. Secara teori bisa jadi kita tidak memahaminya, tetapi nilai-nilai tersebut menjadi hal yang umum bagi setiap orang dalam praktik mencapai tujuan, target dan karakter diri.

... Lihat saja dari sepenggal cerita di bawah.

Masa itu, kita di-breafing- (dikasi arahan singkat) di meja panjang tempat kita sarapan, sebelum pergi ke sekolah.

Pisang goreng yang harus dijual, dibungkus dan diserahkan masing-masing kepada kami. Jumlah pisang goreng per bungkus-an itu sekitar 30 sampai 40 dan biasanya ditambah 5 lagi sebagai bonus untuk dijual dan hasilnya untuk pribadi. Di banyak kesempatan kita juga menerima bonus atau tambahan atas penjualan yang laku luwes setiap harinya dan biasannya disertakan laporan harian: jumlah gorengan yang dibawa ke sekolah, laku berapa, sisa berapa. Biasanya, setiap malam kita duduk bersama melapor hasil penjualan hari itu.

Singkatnya, kita diberangkatkan ke sekolah sebagai anak yang harus belajar dan sebagai penjual goreng pisang yang harus menjual habis semua dagangan yang dibawa.

Di masa sekolah, waktu rehat (masa istirahat) ada dua sesi: di pagi hari setelah kira-kira 2 s/d 3 mata pelajaran dan di siang hari sebelum 1 s/d 2 mata pelajaran sebelum pulang sekolah.

Hal mendasar setelah sampai di sekolah, biasanya langsung mengeluarkan bungkusan gorengan dari tas dan memasukkan nya ke dalam laci. Karna beberapa kasus, pagi setelah sampai dikelas, lupa mengeluarkan bungkusan gorengan tersebut, akhirnya di sesi istirahat saat mengeluarkan bungkusan goreng tersebut panas, keringatan dan jadilah pisang yang lepuh siap sedia untuk ditawarkan.

Di masa sesi istrahat I. Setelah akhir pelajaran menuju istrahat I, segera mengeluarkan tumpukan plastik hitam berisi gorengan. Durasi istirahat pertama menjadi acuan untuk menjajakan ke guru-guru dan teman-teman sekolah sebanyak dan sebisa mungkin.
Istirahat I menjadi acuan untuk menjual total gorengan hari itu, sehingga di sesi istrahat ke II lebih mudah menjual yang sisa hingga habis.

Lonceng masuk kembali berbunyi, artinya kembali masuk belajar sembari membungkus sisa goreng yang dijajakan dan memasukkan ke laci meja.
Kembali setelahnya, memasuki sesi istrahat kedua yaitu sesi terakhir sebagai penentu kita berhasil menjual habis gorengan hari ini atau dengan sedih membawa kembali pulang dengan kepastian tidak mendapat bonus atas penjualan yang laku semua.

Sepulang sekolah, kita harus membuat perhitungan pribadi dengan format yang dibuat. Kita kembali ke rumah, ganti pakaian dan langsung ke ladang. Makanan untuk santapan makan siang selalu mama bawa ke ladang dipagi harinya, hal ini juga semacam cerita panjang kisah lain. Kenapa makanan yang menjadi santapan makan siang selalu sudah dibawa ke ladang?

Tak lain tak bukan, agar setiap pulang sekolah dengan naluri lapar tidak lagi main-main keluyuran kesana-kemari, tetapi langsung pergi ke ladang. Hubungannya langsung ke ladang dan makan diladang, tak lain tak bukan, ternyata agar kami harus datang ke ladang segera dan segera mungkin setelah makan, kerja diladang.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x