Afifuddin lubis
Afifuddin lubis Pensiunan PNS

Selalulah belajar dari siapapun

Selanjutnya

Tutup

Politik Pilihan

Demokrat Anggap Prabowo Tidak Menghargai SBY

11 Februari 2019   12:45 Diperbarui: 11 Februari 2019   13:31 1463 8 3

Dalam sekitar dua tahun ini kita selalu mendengar nada pesimis dari pernyataan- pernyataan Prabowo Subianto. Ketua Umum Partai Gerindra itu pernah menyatakan Indonesia akan bubar pada tahun 2030. Ia juga menyebut Indonesia akan punah .Diberbagai kesempatan dia menyoroti kebocoran anggaran .Berbagai kritikan nya tentang kehidupan bernegara sering kita catat.

Semua nada pesimistis yang dinyatakannya itu patut diduga mengarah pada satu hal : untuk menyelamatkan Indonesia maka Jokowi harus diganti. Langsung atau tidak langsung ,mantan Pangkostrad itu ingin mengatakan ,semua kelemahan yang terjadi itu akibat kepemimpinan yang lemah dari Jokowi.

Walaupun sejak awal dirasakan tidak semua kesalahan berawal dari Jokowi tetapi karena dalam suasana kontestasi demokrasi ,wajarlah Prabowo menimpakan semua kesalahan itu kepada sosok yang juga merupakan rivalnya di tahun 2014 itu.

Wajar  Prabowo terus mengkritik ,demikian ucapan dalam hati .Tidak mungkinlah mantan Pangkostrad itu memuji prestasi mantan Gubernur DKI itu sementara fakta menunjukkan mereka sedang bersaing.

Terasa lucu lah kalau Prabowo memuji - muji keberhasilan pembangunan infra struktur Jokowi.Karenanya sangat wajar kalau kritik pedas terus dilontarkan nya kepada rivalnya itu walaupun kritikannya itu sering tidak ditopang oleh data maupun fakta yang akurat. Tetapi yang agak aneh justru pernyataan nya baru - baru ini yang mengatakan kekeliruan arah pembangunan sudah terjadi sejak masa Orde Baru .

Dengan pernyataan ini, secara implisit Prabowo mengakui bahwa berbagai kelemahan yang dipaparkannya itu tidak semuanya melulu karena kesalahan Jokowi. Mari kita simak pernyataan capres 02 itu sebagaimana dikutip dari Kompas.com ,6/2/2019 .

"Bahwa arah pembangunan Indonesia saat ini menuju kearah yang keliru .Kekeliruan tersebut terjadi sejak puluhan tahun lalu bahkan saat Orde Baru berkuasa ".

Hal ini diungkapkan nya saat menghadiri perayaan ulang tahun ke-20 Federasi Serikat Pekerja Metal Indonesia ( FSPMI) di Sport Mall ,Kelapa Gading ,Jakarta Utara ,Rabu ( 6/2/2019).

"Dari awal ,dari sekian belas tahun ,sekian puluh tahun ,dan saya masih didalam Orde Baru saya sudah melihat arah perkembangan ,arah pembangunan Indonesia, sebenarnya arahnya menuju arah yang keliru ," ujar Prabowo.

Walaupun mantan Pangkostrad itu tidak menguraikan secara detail kekeliruan tersebut tetapi layak jugalah kita sepintas mencermati arah pembangunan dimasa Orde Baru itu .

Pada awalnya Orde Baru bertumpu pada trilogi pembangunan yakni ,1) .pertumbuhan ekonomi ,2). stabilitas politik dan 3). pemerataan hasil - hasil pembangunan. Pada waktu itu dibangun narasi ,pertumbuhan ekonomi perlu dipacu karena ibarat kue ,kue nya terlebih dahulu diperbesar dan sesudah kue itu besar akan terjadi " efek menetes kebawah " yang dikenal juga dengan istilah " trickle down Effect".

Disebutkan juga kalau kuenya tidak besar, apa yang akan dibagi-bagi. Seingat saya dimasa itu telah terjadi perdebatan akademik yang mengkritisi kebijakan memperbesar "kue pembangunan" itu ,karena dikhawatirkan kebijakan pembangunan yang demikian akan menumbuhkan kesenjangan  pendapatan antar daerah dan juga kesenjangan pendapatan diantara sesama warga bangsa .

Tidak salah kalau menafsirkan, memperbesar "kue pembangunan" diartikan sebagai memperbesar Gross National Product ( GNP) .Sesudah GNP besar ,barulah dapat dilakukan "pemerataan pembangunan" dengan asumsi akan terjadi "efek menetes kebawah".

Para pengeritik kebijakan yang demikian menawarkan kebijakan lain .Menurut pendapat ini ,yang perlu diprioritaskan adalah peningkatan kecerdasan bangsa yang sering juga kita sebut sebagai peningkatan kualitas sumber daya manusia .Pendukung kebijakan ini menginginkan agar proritas pembangunan bertumpu pada peningkatan " Physical Quality of Life Index" .

Pada kenyataan nya Pemerintah Orde Baru lebih cenderung kepada kebijakan " memperbesar kue pembangunan itu". Untuk itu lahirlah berbagai  kebijakan seperti pemberian konsesi hutan kepada pengusaha tertentu .Hutan  dibabat kemudian dieksport keluar negeri dengan dalih untuk memperoleh devisa.

Pemerintah juga sangat welcome dengan investor asing karena diyakini dengan investasi itu ,pembangunan di negeri ini akan semakin cepat. Kran pertama yang dibuka untuk investor asing itu antara pemberian Ijin untuk Freeport untuk mengolah hasil tambang di Papua.

Dalam masa itu terlihat adanya beberapa pengusaha yang memperoleh perlakuan khusus sehingga tidak dapat dikesampingkan kesan, terjadinya monopoli oleh pengusaha tertentu untuk bidang tertentu. Sejalan dengan berjalannya waktu maka mulailah terasa ada kesenjangan pendapatan yang makin dalam diantara sesama warga bangsa .

Untuk pembangunan negeri ini ,Pemerintah juga mengadakan pinjaman dalam skala besar kepada badan - badan keuangan internasional .Beberapa negara juga menghimpun sejumlah dana yang dikoordinir oleh IGGI atau Inter Governmental Group on Indonesia .

Kita tidak tahu apakah kebijakan yang seperti ini yang disebut Prabowo sebagai arah  yang " keliru " itu. Untuk saya ,pernyataan mantan Pangkostrad itu berkaitan dengan arah pembangunan yang keliru itu cukup mengejutkan juga ,karena selama ini dari beberapa narasi yang berasal dari kubu capres 02 ,justru memuji berbagai kebijakan pembangunan dimasa Orde Baru .

Untuk saya ,pernyataan capres 02 itu mengejutkan juga karena parpol Berkarya yang diidentikkan dengan keluarga Cendana merupakan salah satu parpol pendukung Prabowo - Subianto- Sandiaga Uno. Partai ini dalam berbagai kesempatan juga mengungkapkan keinginannya agar pembangunan Indonesia meniru pembangunan dimasa Orde Baru .

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2