Afifuddin lubis
Afifuddin lubis Pensiunan PNS

Selalulah belajar dari siapapun

Selanjutnya

Tutup

Politik

Menyimak Ketika Ahok Masuk Jajaran " Para Pemikir Dunia"

7 Desember 2017   09:24 Diperbarui: 7 Desember 2017   09:29 785 3 2

Kita semua tahu bahwa sekarang Basuki Tjahaja Purnama atau Ahok sedang menjalani hukuman di Mako Brimob akibat perbuatannya yang telah melakukan penistaan agama. Vonnis Pengadilan pada Mei 2017 telah mengharuskannya untuk ditahan atau dipenjara selama 2 tahun. Namun walaupun ia sudah dipenjara tetapi hal itu tidak menghentikan publik untuk terus membicarakannya.

Ahok mungkin sebuah kontraversi yang hadir dalam kehidupan kekinian kita di republik yang kita banggakan ini. Ahok adalah  sosok yang dipuja banyak orang karena berani dan tegas memimpin DKI Jakarta namun disisi lainnya ia juga adalah sebuah sosok yang dibenci banyak orang . Ahok yang diinginkan banyak orang untuk terus melanjutkan kepemimpinannya di DKI tetapi disisi lain ia juga ditolak banyak kalangan agar tidak terus bertahan di Balai Kota.

Sepanjang yang saya ketahui belum pernah ketemu tokoh se kontraversi Ahok: disayang banyak orang tetapi sekaligus juga dibenci banyak kalangan. Oleh karena perkataan Ahok di Kepulauan Seribu ,telah mampu menggerakkan jutaan orang memenuhi Istiqlal dan sekitarnya atau juga membludak di Lapangan Monas. Pekikan "Penjarakan Ahok " membahana di seluruh negeri .Tidak hanya di Jakarta tetapi juga diberbagai kota dan daerah .

Dan ketika Ahok divonnis dua tahun penjara ,ratusan ribu atau mungkin jutaan lilin dinyalakan ,yang semuanya menunjukkan adanya protes terhadap vonnis yang telah dijatuhkan kepadanya. Ahok telah menjadi buah bibir tidak hanya di negeri ini tetapi juga melampaui batas teritorial negara yang kita banggakan ini. Lebih dari sekedar hanya buah bibir ,kemudian Ahok telah menjadi sebuah simbol ,sosok penanda yang membuat kita menjadi berbeda.

Andainya Ahok menang pada Pilgub DKI 2017 akan ada diantara kita yang memaknainya sebagai kemenangan demokrasi dan kemenangan prinsip ke bhinneka an tetapi disisi lain akan ada yang menanggapi nya sebagai kemenangan " si penista agama". Bahwa Ahok adalah sosok penanda juga diakui oleh pers asing. Kompas.com ,7/12/2017 memberitakan ,sebuah majalah ternama Singapura " Foreign Policy" ,telah menggambarkan Ahok sebagai ikon yang berdiri tegak melawan meningkatnya hantu fundamentalis di Indonesia.

Selanjutnya Benyamin Soloway ,editor majalah tersebut mengatakan ,Ahok,pria dari etnis Tionghoa beragama Kristen Protestan berlidah sangat tajam di negara dengan jumlah pemeluk Islam terbesar di dunia.Ahok menurutnya bukan tipikal politisi biasa Indonesia. Selanjutnya Benyamin Soloway mengatakan,mulai dari momen ketika mantan Bupati Belitung Timur itu menginjakkan kaki di Balai Kota Jakarta 2012,Ahok sudah diprediksi akan menjadi sosok yang mengundang polarisasi.

Pada awalnya ,latar belakangnya sebagai minoritas ganda tidak menjadi masalah .Namun tubrukan dengan kaum konservatif Islam akhirnya tidak bisa terbendung. Kemudian Benyamin melanjutkan ,setelah blundernya di Kepulauan Seribu ,karir politik Ahok berakhir.Namun ,Ahok menjadi simbol penting dari pluralisme yang sedang tersudut di Indonesia. Majalah Foreign Policy memuji kinerja Ahok sebagai gubernur yang berhasil memerangi korupsi ,memperluas akses kesehatan ,mengeruk kanal kanal serta meningkatkan kinerja transportasi umum .Kesuksesan ini melambungkan popularitasnya.

Dengan berbagai alasan yang demikianlah ,Ahok kemudian masuk daftar bergengsi " Top Global Thinkers 2017" ,versi majalah ternama " Foreign Policy" yang terbit di Singapura. Oleh majalah tersebut Ahok bergabung dengan dengan tokoh tokoh dunia ternama ,diantaranya Presiden Perancis Emmanuel Macron,Presiden Korea Selatan Moon Jae In ,pemimpin oposisi Inggris Jeremy Corbin serta banyak tokoh dunia lainnya.Tercatat ada 48 tokoh yang dinilai sebagai sosok yang mendefinisikan tahun 2017 dengan kontribusi menonjol yang membentuk pemikiran dunia.

Saya bukanlah orang yang terlalu mendewa dewakan penghargaan luar negeri karena penghargaan yang demikian tentu juga tidak dapat dipisahkan dari preferensi politik yang dianutnya maupun akan memperjuangkan  kepentingan yang ingin dicapainya. Namun berkaitan dengan penghargaan yang diterima Ahok dari majalah tersebut ada beberapa hal yang layak kita cermati. Biarpun Ahok telah di vonnis pengadilan dan sekarang sedang menjalani hukuman ,tetapi ia tetap menjadi pembicaraan didalam maupun di luar negeri.

Bahwa kemajemukan bangsa ini adalah sebuah fakta dan bagaimana bangsa kita mengelola kemajemukan tersebut agar tidak menjadi potensi laten yang dapat mengakibatkan terjadinya disintegrasi bangsa. Adanya dikotomi antara mereka yang dianggap fundamentalis terutama yang berbasiskan agama dengan mereka yang dianggap moderat juga harus menjadi perhatian kita.

Sejak reformasi,negara kita telah muncul sebagai negara yang sangat demokratis.Lalu bagaimana kita menyelenggarakan demokrasi itu dengan sehat sehingga sentimen primordial tidak menjadi faktor yang justru bisa merusak prinsip prinsip demokrasi yang kemudian juga dapat menggoyahkan sendi sendi kehidupan kita dalam berbangsa dan bernegara.

Salam Persatuan!