Afifuddin lubis
Afifuddin lubis Pensiunan PNS

Selalulah belajar dari siapapun

Selanjutnya

Tutup

Politik

Disayangkan 100 Tahun Kanisius Digunakan untuk Memusuhi Anies

15 November 2017   08:15 Diperbarui: 15 November 2017   08:35 521 2 4

Sebagian besar dari kita tentu kenal dengan Franz Magnis Suseno yang lebih akrab disapa Romo Magnis. Franz Magnis Suseno adalah seorang tokoh Katolik Indonesia tetapi namanya juga cukup dikenal di kalangan aktivis  Muslim negeri ini. Kepopuleran namanya muncul oleh karena ia sering berbicara dan berjuang untuk sejumlah nilai yang menyerukan kesetaraan, kesamaan, keadilan dan kemajuan.

Romo kelahiran Polandia ini juga dikenal masyarakat karena ke vokalan nya menentang berbagai bentuk diskriminasi. Walaupun Franz Magnis Suseno pada awalnya adalah warga negara Jerman kemudian menjadi Warga Negara Indonesia pada tahun 1977 ,tetapi kecintaannya kepada " negara barunya " ini harus diacungi jempol.
Berbagai usaha dan jerih payahnya yang  berjuang untuk negeri baru nya telah mendapat penghargaan dari negara.

Pemerintah Republik Indonesia melalui Surat Keputusan Presiden RI ,Nomor 83/TK /Tahun 2015 tanggal 7 Agustus 2015 telah menganugrahinya Bintang Mahaputra Utama pada 13 Agustus 2015. Sepanjang yang dicermati ,ketika Romo Magnis mengkritisi kebijakan pemerintah atau juga memperjuangkan nasib rakyat ,ia tidak pernah menggunakan dasar perjuangan nya untuk kepentingan Katolik.

Yang terlihat , justru yang diperjuangkannya adalah nilai nilai kemanusiaan dan juga nilai nilai demokratis yang berlaku universal.Romo Magniz juga sering mengkritisi kebijakan pemerintah lokal yang kesemuanya bukanlah untuk kepentingan ummat Katolik yang dibimbingnya. Kita masih ingat ketika beberapa bulan yang lalu ia menyatakan ketidak setujuannya terhadap kebijakan Pemprov DKI (semasa Djarot Gubernur) yang membatasi atau melarang sepeda motor melewati jalan jalan protokoler tertentu.

Dengan berbagai konsistensi yang telah ditunjukkannya selama ini maka tidak salah kalau menyebut bahwa Romo Magnis adalah seorang tokoh yang punya integritas.
Dengan integritas yang dimilikinya itulah maka selalu menarik untuk mencermati kritik maupun kepedulian sosial yang ditunjukkannya. Dengan sikap kritisnya yang demikiankah menjadi semakin menarik mengamati kritiknya terhadap mereka yang melakukan walk out ketika Anies Baswedan,Gubernur DKI menyampaikan pidato pada ulang tahun ke-90 Kolese Kanisius yang diadakan pada  Sabtu 11/11/2017 yang lalu.

Sebagaimana diketahui walk out itu dilakukan oleh beberapa orang dan salah satunya adalah Ananda Sukarlan,komposer musik ternama. Detiknews,14/11/2017 memuat surat Romo Magnis yang mengkritisi aksi walk out dimaksud. Kalau dicermati ada beberapa poin yang diungkapkan Romo Magnis dalam suratnya tersebut antara lain:
Pertama ,sudah sangat tepat Panitia Perayaan mengundang Gubernur DKI dan senang Gubernur bisa datang.

Kedua,yang terjadi kemudian (maksudnya walk out) memalukan dan sangat disesalkan.Ketiga walk out itu menunjukkan permusuhan terhadap pribadi Gubernur ,merupakan suatu penghinaan publik. Keempat ( mengutip pandangan Abdillah Toha) ,apakah dengan kejadian itu diviralkan ,justru tidak menjadi counter productive dan akan mempertajam permusuhan di negeri yang sudah rentan intoleransi itu.

Kelima,Anies adalah Gubernur sah DKI dipilih secara demokratis oleh suatu mayoritas meyakinkan. Keenam ,beri kesempatan untuk Anies untuk membuktikan diri.
Ketujuh,tamu harus dihormati dan karenanya tidak dapat menyetujui kelakuan Ananda Sukarlan. Surat Romo Magnis ini sarat makna yang intinya menyesalkan kejadian walk out itu.Sikap yang mem viralkan peristiwa tersebut justru dianggap dapat mempertajam permusuhan di negeri ini.

Surat dimaksud juga mengingatkan kita semua bahwa Anies Baswedan adalah Gubernur sah DKI yang dipilih secara demokratis.Sesungguhnya Ananda Sukarlan adalah seorang Muslim .Tetapi karena tindakan walk out nya itu dilakukan pada ulang tahun sebuah lembaga pendidikan Katolik ternama maka hal tersebut akan dapat memberi gambaran yang salah kepada sebahagian publik.

Bukan tidak mungkin sebahagian warga masyarakat menganggap tindakan Ananda Sukarlan itu merupakan sikap resmi Ummat Katolik terhadap Anies Baswedan.
Untunglah Romo Magnis membuat surat mengkritisi sikap walk out itu dan juga panitia perayaan ulang tahun Kolose Kanisius telah menyampaikan klarifikasi serta permohonan maaf kepada Gubernur DKI, Anies Baswedan.

Romo Magnis juga memberi pesan agar hati hati dalam mem viralkan sesuatu karena tindakan yang demikian dapat menjadi contra productive yang dapat mempertajam permusuhan di negeri ini.Dengan suratnya tersebut kita dapat memaknai bahwa Romo Magnis sangat mendambakan terpeliharanya kedamaian di negeri ini.

Salam Persatuan!