Abdulrozak Asm
Abdulrozak Asm Karyawan Swasta & Blogger

Saya Seorang Bloger Juga Seorang yang Bekerja Pada Perusahaan Swasta. Blog saya adalah www.catatanabdul.web.id

Selanjutnya

Tutup

Energi Artikel Utama

Penghapusan Listrik Golongan 4400 VA ke Bawah, Jadi Kebijakan yang Mengarah pada Pemborosan?

15 November 2017   10:42 Diperbarui: 17 November 2017   10:54 4673 1 9
Penghapusan Listrik Golongan 4400 VA ke Bawah, Jadi Kebijakan yang Mengarah pada Pemborosan?
Foto: tribunnews.com

Akhir-akhir ini saya membaca beberapa berita tentang akan dihilangkannya listrik golongan 4400 atau mungkin pada beberapa berita menuliskan akan dihapuskannya golongan pelanggan 1300 VA-3300 VA.

Membaca beberapa alasan yang diungkapkan seperti yang saya dapatkan dari bisnis.tempo.co alasan yang diungkapkan seperti ini. "Penyederhanaan golongan pelanggan dilakukan agar tarif listrik bisa  terjangkau masyarakat. Ada tiga rencana besar pemerintah. Pertama  adalah kapasitas, kedua rasio elektrifikasi atau pemerataan layanan  listrik, dan yang ketiga tarifnya mesti terjangkau," kata Jonan.

Alasan lain yang bisa saya kumpulkan dari cnnindonesia yang memberitakan bahwa langkah tersebut menurut Mesteri ESDM, Igantius Jonan adalah untuk penataan. Ia menyebut, pihaknya bakal terus memangkas tarif listrik secara bertahap melalui efisiensi.

Opini Saya

Terlepas dari alasan yang saya sudah baca dari pemberitaan, saya merasa bahwa penghilangan golongan yang bisa dibilang untuk orang menengah kebawah tersebut seperti menyuruh berbuat boros. Salah satu alasan yang menarik yang saya baca adalah perihal alih fungsi LPG dengan kompor listrik yang menurut informasi harga per kalornya akan lebih rendah daripada LPG. Bisa jadi itu benar, namun apa yang akan terjadi ketika listrik yang kita gunakan tahan dengan daya tinggi.

Misalkan tahan digunakan kompor listrik, tahan digunakan setrikaan, tahan digunakan AC, tahan digunakan TV dan alat elektronik lainnya secara bersamaan. Apa yang akan terjadi pada waktu pembayaran listrik?

Ya informasinya tidak akan ada kenaikan tapi apa yang terjadi dengan jumlah pemakaian total dalam satu bulan?

Jika sebelumnya warga hanya memiliki 900 VA atau 1300 VA cukup untuk beberapa alat elektronik saya pikir itu sudah cukup namun perlu selektif karena masih memungkinkan akan "jeklek".

Jika diperjelas golongan 1300 VA ke bawah masih memiliki kata kunci "selektif" dalam hal menyalakan alat elektronik. Namun ketika daya menjadi minimal 4400VA kata selektif akan mulai pudar bahkan bisa hilang. Efeknya adalah semua alat elektronik akan bisa menyala dan tentunya akan membuat tagihan bulanan membengkat. Untuk itulah saya mengatakan bahwa bisa jadi Penghapusan Listrik Golongan 4400 VA ke bawah secara tidak langsung seperti menyuruh untuk boros.

Jika sebelumnya masyarakat seboros-borosnya hanya menghabiskan tagihan Rp 400 rb dengan asumsi sebagian alat elektronik tidak bisa menyala secara bersamaan, namun hal tersebut akan berubah ketika masyarakat sudah tidak perlu pilih-pilih dan menyala secara bersamaan semua alat elektroniknya yang berakibat pada tagihan per bulan yang bisa jadi menyebtuh angka lebih dari 1 jt atau akan naik lebih dari 100%.

Pola kenaikan ini sangat wajar terjadi karena penggunakan menjadi lebih tinggi, konsumsi listrik menjadi makin tinggi dan efeknya bayar listrik jadi lebih besar meskipun harga per KWh-nya tetap. Untuk itulah hal tersebut menurut saya akan menjadi pemicu pemborosan pengeluaran bulanan.

Opini Saya Lainnya

Selain hal yang saya ungkapkan diatas itu, jika pemborosan yang saya perkirakan itu tidak dianggap pemborosan. Sebetulnya saya masih heran dan sangat heran mengapa akan diambil kebijakan pengapusan listrik golongan 4400Va ke bawah. Menurut saya seperti pada alasan di atas tadi penghapusan golongan 4400VA ke bawah akan meningkatkann konsumsi listrik. Padahal listrik saat inipun masih sering mati.

Jika kita melihat pulau Jawa mungkin jarang mati, tapi coba tengok pulau sebelah seperti Kalimantan. Mati lampu sudah menjadi hal rutin tidak satu atau dua jam bisa seharian. Kota Pelaihari saja baru-baru ini sekitar tanggal 4 November mati seharian mulai jam 9 pagi jam 6 sore belum menyala.

Begitupun di Sulawesi baru-baru ini mati total hampir di seluruh wilayah sampai layanan umum pun terganggu. Apakah kita siap menerima lonjakan penggunaan listrik tersebut? Menurut saya yang berada di pulau di luar pulau Jawa sih belum bisa. Itu jika kita berkaca pada kemampuan pemenuhan kebutuhan akan istrik.

Di Kalimantan bahkan digalakan baik di radio, koran, dan spanduk tentang penghematan penggunaan listrik. Matikan lampu yang tidak digunakan dari jam 5 sore sampai jam 11 malam. Lalu apa yang akan terjadi ketika setiap orang bisa menggunakan daya listrik yang lebih besar?

Kondisi saat ini saja sudah minus. Dari segi kemampuan pemenuhan pun menurut saya masih belum siap. Ya mungkin tidak langsung saat ini dan akan berlaku mulai tahun depan. Namun mungkinkah kita surplus listrik untuk persiapan lonjakan tahun depan? Saya tidak tahu.

Namun dari Opini kedua inilah saya kemudian menjadi sangat khawatir. Kenapa menjadi khawatir karena seperti hukum dagang secara umum jika kebutuhan tinggi dan pemenuhan kurang maka harga bisa naik atau dilakukan pemenuhan dari luar.

Manurut saya kedua-duanya juga tidak enak bagi saya. 

Pertama jika terjadi kekurangan pasokan dan harga naik tentu sangat memberatkan saya dalam membayar listrik. Begitupun bagi anda semuanya pasti tidak mau jika harganya jadi mahal. Ya mungkin saat ini biaya listrik tidak naik, tapi bagaimana dalam satu atau dua tahun lagi. Bisa bahaya.

Pilihan kedua pun sama tidak enaknya bagi saya. Jika sampai pemenuhan listrik dilakukan dari luar baik itu listriknya atau teknologinya tidak enak juga. Kita hanya akan menjadi konsumen saja, penonton saja, pengguna saja. Kapan kita mau berdaulat energi, punya energi melimpah sendiri dan lain-lain.

Jika teknologinya dari luar ya sama. Kapan kita bisa berdaulat teknologi. Kita hanya akan menjadi penonton saja. Konsumen saja, pengguna saja yang mengeluarkan uang saja. Kapan kita berdaulat energi bahkan kelebihan energi dan bisa ekspor energi listrik.

Solusi Dari Saya

Menurut saya  melihat alasan yang diungkapkan dari media, solusinya sementara ini harus hemat listrik dulu, salah satu caranya adalah melakukan pembatasan penggunaan listrik dengan cara dipaksa. Masyarakat dibatasi dengan VA yang tidak terlalu besar sehingga ketika mnggunakan alat yang watt yang besar bisa jeklek. Jadi masyarakat harus selektif menyalakan alat elektroniknya.

Solusi lain masyarakat harus didorong untuk membuat energi, perguruan-perguruan tinggi, masyarakat umum harus didorong untuk melakukan membuat energi yang ramah. Jika tidak bisa didorong harus dipaksa.

Dibuat targetan setiap Perguruan Tinggi pada bidang yang sesuai setiap tahun harus membuat solusi energi baru yang ramah dan lebih besar. Ya mungkin itu opini saya. Mudah-mudahan bermanfaat. Sekian dulu dari saya, tidak maksud memojokan dan tidak juga untuk memojokan diri hanya berbagi opini untuk kemajuan bersama.

Terimakasih