Mardianto Manan
Mardianto Manan Mengamati Kota Dan Daerah

peduli kota dan wilayah

Selanjutnya

Tutup

Humaniora

Pekanbaru Banjir, Ah Tidak

3 Desember 2017   17:23 Diperbarui: 26 Januari 2018   15:07 615 0 0
Pekanbaru Banjir, Ah Tidak
screenshot-2018-01-26-15-03-16-312-com-google-android-googlequicksearchbox-5a6ae19fcaf7db3d514e23b2.png

PEKANBARU MENGGENANG

Saya tidak sepakat genangan air di sepanjang ruas jalan maupun pemukiman warga akibat hujan deras yang melanda Pekanbaru disebut banjir. Istilah banjir lebih tepat digunakan untuk luapan air sungai di kota atau daerah yang berada di pinggiran sungai yang melanda pemukiman. Namun kondisi berbeda terjadi di Pekanbaru, genangan air disebabkan curah hujan yang cukup tinggi tidak mampu ditampung drainase yang ada. Sebaiknya istilah banjir untuk Kota Pekanbaru disebut genangan air saja,  yang kebingungan kemana mereka harus mengalir.

Banjir itu kan sungai yang meluap seperti yang di kampung saya yang ada di Kuantan. Kalau sekarang itu di Pekanbaru namanya air tergenang,  haha. Jika kita sepakat dengan kata-kata banjir, justru di Tobek Godang misalnya terjadi banjir.  Padahal disitu lokasinya lebih tinggi dari kota Pekanbaru sekitar 500 meter lebi.  Kalau di sana kita sebut banjir, justru di kota sekitar jalan sudirman sudah tenggelam kan....

Persoalan genangan air di kota kita ini adalah  dampak hujan deras yang saat ini, diperparah lagi oleh kesalahan teknis pembangunan yang tidak mengikuti tata bangunan perkotaan yang sebenarnya.  Alhasil, curah hujan yang cukup tinggi tidak mampu ditampung oleh drainase yang ada.

Untuk itu Pemerintah Kota Pekanbaru harus segera mengatasi masalah ini. Terlebih Pekanbaru saat ini berada pada musim pancaroba.  Pemerintah harus membuat master plan tentang drainase. Dari mana kemananya air itu master plan yang berbicara. Ada mata panahnya yang bagus seperti sugai yang berasal dari saluran itu harus dijelaskan mengalir ke mana.

Seharusnya dalam pengaturan aliran air itu sudah diatur ketika membuat parit. Nanti kalau parit kecil ini mengalir namanya saluran tersier, lalu masuk ke saluran sekunder, kemudian masuk ke saluran primer, lantas mengalir ke sungai-sungai kecil dakam kota dan terakhir masuk ke saluran utama yang ada, yaitu sungai Siak, kalau lokasinya berada di sekitar Daerah Aliran Sungai Siak.

Banjir yang dirasakan selama ini merupakan akibat tidak adanya lagi persinggahan air. Sebab, selama ini air hanya bertopang kepada parit, namun saat ini parit yang ada tidak kuat lagi menampung debit air yang begitu banyak mengalir dikota ini. Sementara ruang yang terbuka,  baik hijau maupun non hijau sudah menjadi bangunan. Jadi resapan-resapan yang ada diluar drainase tadi sudah berkurang sehingga limpahaannya itu di parit yang ada, selain itu, banyaknya drainase yang tidak berfungsi dan tersumbat membuat masalah semakin bertambah rumit. sehingga keterseumbatan itu terjadilah genangan-genangan yang ada disekitar cerukan-cerukan atau cekungan yang ada dikota itu,  itukah yang dikatakan banjir...?  Sangat tidak pas,  seperti kampanye bung firdaus mt,  pertama kampanye dulu,  tapi akan kalau dikatakan air yang tergenang tak lagi kemana nak mengalir jauh,  karena sudah muak nengok walikota,  eh salah menengok kota ini yang tak pernah tuntas persoalan tali air ini hikhik malu kite orang.