M. Ali Amiruddin
M. Ali Amiruddin PNS

Ingin tetap menulis seperti bayi yang belajar merangkak kemudian berlari

Selanjutnya

Tutup

Bahasa Pilihan

Ironis, Generasi Z Gak Ngerti Bahasa Indonesia apalagi Bahasa Inggris?

5 Juni 2018   20:05 Diperbarui: 6 Juni 2018   04:10 408 5 2
Ironis, Generasi Z Gak Ngerti Bahasa Indonesia apalagi Bahasa Inggris?
surabaya.tribunnews.com

Boleh saya katakan bahwa bahasa Indonesia sungguh sangat Indah untuk diucapkan dan digunakan sehari-hari. 

Meskipun begitu Indah karena bahasa nasional yang biasanya dipakai secara formal, ternyata memahami bahasa Indonesia tidak semudah diucapkan. 

Terbukti, meskipun pernah mengenyam pelajaran bahasa Indonesia semenjak sekolah dasar, faktanya sampai sekarang penguasaan bahasa Indonesia masih sangat minim, kalau bisa dibilang nihil. Lebih khusus saya sendiri tentunya.

Semua terjadi karena masyarakat Indonesia memandang bahasa sendiri (bahasa Indonesia) selayaknya bahasa asing. Hanya dalam forum-forum resmi saja penggunaan bahasa nasional ini benar-benar dilakukan. Maka jangan heran jika menemukan sosok pemuda yang berpendidikan tinggi penguasaan bahasa Indonesia masih sangat kurang.

Ketidak mampuan berbahasa yang baik dan benar karena anak-anak muda cenderung lebih suka menggunakan bahasa gaul seperti: elo, gua, napelo, suka-suka gua dls. Dampaknya sudah bisa ditebak, bahasa Indonesia yang searusnya dijadikan bahasa resmi dalam pergaulan pun seperti mulai ditinggalkan. 

Seandainya masih banyak yang menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan benar, itu semua karena tuntutan pekerjaan dan jabatan tertentu yang mewajibkan seseorang menggunakan bahasa yang baik dan benar. 

Media hiburan seperti film saja sudah tidak bisa dijadikan bahan pembelajaran bagi generasi muda. Bahasa daerah dan bahasa gaul ternyata masih menjadi idola.

Bahasa Indonesia dan gempuran bahasa asing (Inggris)

Sungguh elok jika bahasa Indonesia bisa menjadi bahasa dunia seperti bahasa Arab dan Inggris yang sampai sejauh ini banyak yang menggunakannya. 

Bahasa Arab bagi kalangan pengelola lembaga pendidikan agama mewajibkan bahasa Arab dan Inggris sekaligus. Namun ada pula yang hanya menggunakan bahasa Arab saja atau Inggris saja. 

Yang lebih hebat lagi, bahasa Arab yang sebenarnya bersumber dari negara Arab pun saat ini seperti menjadi bahasa pengantar resmi bagi para jamaah haji. Padahal bahasa Indonesia bisa menjadi salah satu bahasa pengantar dalam setiap situasi.

Dan yang lebih membuat miris, ketika kita seperti tergerus bahasa Asing, bahasa Indonesia seperti anak tiri. Coba saja kalau sudah ketemu generasi yang katanya Z itu, yang muncul ada bahasa-bahasa alay dan bahasa asing yang seringkali sebagai orang tua merasa ketinggalan jaman. 

Tidak salah anak muda menggunakan bahasa asing, asalkan jangan lupakan bahasa negeri sendiri. 

Cobalah untuk bangga menggunakan bahasa sendiri ketika ngobrol dengan orang asing, karena itulah bahasa Indonesia semakin dikenal. Namun memang kondisi yang menuntut bahasa Indonesia seperti tenggelam oleh serangan bahasa asing.

Boleh jadi saya di antara jutaan orang Indonesia yang belum fasih benar dalam berbahasa Indonesia, meskipun sudah menempuh pendidikan formal, nyatanya untuk berbicara dengan bahasa Indonesia yang baik dan benar saja masih sulit. Belum lagi jika harus menuliskannya, sepertinya bisa dibilang amburadul.

Sungguh miris dan bisa dibilang memalukan. Masak orang Indonesia bahasa indonesia saja nggak lancar, begitulah kira-kira.

Apakah dengan kondisi saat ini kita perlu malu atau abai? Atau justru ikut arus dengan melupakan bahasa sendiri dan lebih banyak menggunakan bahasa asing tersebut? 

Belum lagi yang membuat saya tidak habis pikir di salah satu televisi swastapun bahasa pengantarnya menggunakan bahasa asing (tiongkok) jadinya ya saya tidak menangkap informasinya. 

Padahal bahasa Indonesia adalah bahasa nasional dan jangan sampai tenggelam karena pemiliknya malu untuk menggunakan dan engan mempelajarinya.

Ketika mempelajari bahasa Inggris adalah kebutuhan

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2